Minyak Brent Sentuh US$ 104, Eskalasi Konflik Timur Tengah Kembali Mengancam
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin (11/5/2026), setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi “sangat kritis”.
Pernyataan Trump memicu kekhawatiran baru terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah dan ancaman gangguan pasokan energi global.
Baca Juga
Bursa Eropa Menguat Tipis di Tengah Kebuntuan Negosiasi AS-Iran
Dikutip dari CNBC, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni naik hampir 3% dan ditutup di level US$98,07 per barel. Sedangkan, minyak Brent untuk pengiriman Juli menguat hampir 3% menjadi US$104,21 per barel.
Trump mengatakan kepada wartawan bahwa kondisi gencatan senjata saat ini “sangat lemah”. Ia bahkan menyebut proposal balasan Iran untuk mengakhiri konflik sebagai “sampah”.
“Saya akan mengatakan gencatan senjata ini berada pada kondisi ‘sangat kritis’, seperti ketika dokter mengatakan orang yang Anda cintai hanya punya peluang hidup 1%,” ujar Trump.
Sejak perang yang dipimpin AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari lalu, harga WTI dan Brent masing-masing telah melonjak lebih dari 40%.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memperingatkan bahwa konflik dengan Iran “belum selesai”, sehingga memperbesar kekhawatiran pasar terhadap potensi perang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
“Ada material nuklir dan uranium yang diperkaya yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada fasilitas pengayaan yang harus dibongkar, kelompok proksi yang didukung Iran, serta rudal balistik yang masih ingin mereka produksi,” kata Netanyahu dalam wawancara dengan program “60 Minutes” CBS.
Ketika ditanya bagaimana AS dan Israel akan mengeluarkan material nuklir tersebut, Netanyahu menjawab, “Anda masuk dan mengambilnya.”
Analis Citi dalam laporan terbaru mereka menyatakan harga minyak masih berpotensi naik apabila Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan damai.
Menurut Citi, pasar minyak sejauh ini masih terbantu oleh tingginya cadangan global, pelepasan cadangan minyak strategis, lemahnya permintaan di negara berkembang, serta sesekali munculnya sinyal deeskalasi di Timur Tengah.
Namun risiko tetap mengarah pada kenaikan harga karena Iran masih memegang kendali signifikan terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz — jalur distribusi energi paling penting di dunia.
“Kami memperkirakan Iran akan mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz pada akhir Mei. Namun risiko keterlambatan atau pembukaan parsial masih tinggi, yang berarti gangguan pasokan berlangsung lebih lama,” tulis Citi.
CEO dan Co-Founder Sparta Commodities Felipe Elink Schuurman mengatakan situasi pasar minyak saat ini memiliki kemiripan dengan masa pandemi Covid-19 pada 2020.
“Pada 2020 dunia kehilangan permintaan sekitar 9 juta barel per hari dibanding 2019, dan saat ini gangguan pasokan memiliki skala yang hampir setara. Pasar harus menyesuaikan diri, dan akan terjadi ‘demand destruction’ (destruksi permintaan),” ujarnya kepada CNBC.
Ia memperingatkan negara-negara miskin berpotensi menghadapi krisis kemanusiaan, Eropa menghadapi krisis ekonomi, sementara Amerika Serikat berisiko mengalami tekanan politik akibat lonjakan harga energi.
Baca Juga
“Anda mungkin tidak melihat harga minyak US$200 per barel, tetapi harga produk energi yang dikonsumsi masyarakat bisa melonjak secara reguler,” katanya.

