Trump Tolak Proposal Iran, Harga Minyak Kembali Melonjak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak tajam, setelah pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kekhawatiran baru terhadap meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga
Trump Tolak Proposal Iran, Ketegangan Selat Hormuz Bayangi Stabilitas Energi Dunia
Kenaikan harga dipicu oleh peringatan Netanyahu bahwa konflik dengan Iran “belum berakhir”, sehingga memunculkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global dari kawasan penghasil minyak utama dunia tersebut.
Dikutip dari CNBC, Senin (11/5/2026), minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni melonjak 3,08% menjadi US$95,42 per barel. Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli naik 3,16% ke level US$104,49 per barel.
Dalam wawancara program “60 Minutes” CBS, Netanyahu mengatakan masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan terkait program nuklir Iran.
“Ada material nuklir dan uranium yang diperkaya yang harus dikeluarkan dari Iran. Masih ada fasilitas pengayaan yang harus dibongkar. Iran juga masih mendukung kelompok proksi dan tetap ingin memproduksi rudal balistik,” ujar Netanyahu.
Ketika ditanya bagaimana AS dan Israel akan mengeluarkan material nuklir tersebut, Netanyahu menjawab singkat, “Anda masuk dan mengambilnya.”
Di saat yang sama, Presiden Donald Trump memperkeruh suasana pasar setelah menolak proposal balasan Iran untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel.
“Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut ‘Perwakilan’ Iran. Saya tidak menyukainya – sama sekali tidak dapat diterima!” tulis Trump melalui platform Truth Social.
Pernyataan Trump itu memicu kekhawatiran investor bahwa negosiasi damai kembali menemui jalan buntu, sehingga memperbesar risiko konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok, Negosiasi AS-Iran Jadi Penentu Arah Pasar
Analis Citi dalam laporan terbarunya menyebut harga minyak masih berpotensi naik apabila Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan. Meski demikian, pasar minyak sejauh ini masih ditopang oleh tingginya persediaan global, pelepasan cadangan minyak strategis, lemahnya permintaan dari negara berkembang, serta sinyal deeskalasi yang sesekali muncul.
Namun Citi menilai risiko terhadap harga minyak masih condong ke arah kenaikan karena Iran memiliki kendali signifikan terhadap waktu dan syarat pembukaan kembali Selat Hormuz — jalur vital distribusi energi dunia.
“Kami memperkirakan rezim Iran pada akhirnya akan mencapai kesepakatan yang membuka kembali Selat Hormuz pada akhir Mei. Namun risiko tetap besar bahwa proses tersebut tertunda atau hanya menghasilkan pembukaan parsial, yang berarti gangguan pasokan energi berlangsung lebih lama,” tulis Citi.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketegangan di kawasan tersebut telah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan biaya energi global dan tekanan inflasi baru di berbagai negara.

