Harga Minyak Terus Terkerek di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah, Bisa Tembus US$ 180?
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id — Harga minyak dunia melonjak tajam dan menembus level krusial di atas US$112 per barel pada Jumat (21/3/2026). Irak menyatakan ‘force majeure’ pada seluruh ladang minyak yang dioperasikan perusahaan asing dan serangan drone menghantam fasilitas kilang di Kuwait.
Baca Juga
Menlu Iran Melontarkan Ancaman “Tanpa Batas” Jika Infrastruktur Diserang Lagi oleh Israel dan AS
Dikutip dari CNBC, kontrak Brent sebagai acuan global ditutup naik 3,26% atau US$3,54 ke level US$112,19 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) menguat 2,27% atau US$2,18 menjadi US$98,32 per barel.
Lonjakan ini menandai eskalasi serius krisis energi global, di tengah gangguan pasokan dari kawasan Teluk yang semakin meluas akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Selat Hormuz Lumpuh
Sumber Kementerian Perminyakan Irak mengatakan kepada Reuters bahwa Baghdad terpaksa mengumumkan force majeure karena tidak mampu mengekspor minyak melalui Selat Hormuz—jalur vital yang selama ini menjadi arteri utama distribusi energi dunia.
Lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut dilaporkan anjlok tajam akibat serangan yang dilakukan Iran, memperparah kekhawatiran pasar terhadap potensi krisis pasokan global.
Gangguan ini langsung memicu lonjakan harga, sekaligus mempertegas betapa rapuhnya sistem energi global terhadap risiko geopolitik.
Ketegangan semakin meningkat setelah drone menyerang dua kilang utama Kuwait, yakni Mina Al-Ahmadi dan Mina Abdullah, pada Kamis.
Serangan terhadap kilang Mina Al-Ahmadi memicu kebakaran di beberapa unit, memaksa penghentian sementara sebagian operasi sebagai langkah pencegahan, menurut Kuwait Petroleum Corporation.
Perluasan serangan ke fasilitas energi di negara lain di kawasan Teluk memperbesar risiko gangguan pasokan yang lebih luas.
Minyak Tembus US$180?
Di tengah ketidakpastian, pejabat energi Arab Saudi memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak hingga di atas US$180 per barel jika gangguan akibat perang Iran berlangsung hingga akhir April, menurut laporan The Wall Street Journal.
Skenario ini menempatkan pasar global pada risiko lonjakan inflasi baru, yang dapat mengguncang pemulihan ekonomi dunia.
Sebagai respons, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengungkapkan bahwa Washington tengah mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap minyak Iran yang saat ini tersimpan di kapal tanker.
Sekitar 140 juta barel minyak Iran yang berada “di laut” berpotensi dilepas ke pasar global dalam waktu dekat untuk menekan harga.
Baca Juga
Redam Krisis Energi Akibat Perang Iran, AS Lepas 172 Juta Barel Minyak dari Cadangan Strategis
Langkah ini dinilai sebagai upaya cepat untuk meredam lonjakan harga dalam 10 hingga 14 hari ke depan, di tengah terbatasnya opsi pasokan alternatif.
Harapan Deeskalasi dan Proyeksi Harga
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa negaranya membantu upaya AS untuk membuka kembali Selat Hormuz. Ia juga mengklaim bahwa kemampuan Iran dalam pengayaan uranium dan produksi rudal balistik telah melemah, membuka peluang berakhirnya konflik lebih cepat dari perkiraan.
Namun, pasar masih bersikap hati-hati. Citi memperkirakan harga minyak Brent dan WTI akan naik ke kisaran US$120 per barel dalam 1–3 bulan ke depan, dan bahkan bisa mencapai US$150 dalam skenario bullish jika gangguan pasokan semakin parah.
Meski begitu, skenario dasar bank tersebut masih mengasumsikan deeskalasi dalam 4–6 pekan, yang dapat membawa harga Brent kembali ke kisaran US$70–US$80 pada akhir tahun.
Di sisi lain, spread harga minyak utama juga melebar tajam, mencerminkan kenaikan biaya pengiriman dan tingginya permintaan di wilayah Teluk AS.

