Iran Perketat Kembali Selat Hormuz, AS Dituduh Langgar Gencatan Senjata
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Iran kembali memperketat akses di Selat Hormuz pada Sabtu (18/04/2026), hanya beberapa jam setelah sebelumnya menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut dibuka. Langkah ini diambil dengan alasan Amerika Serikat melakukan “pelanggaran kepercayaan” karena tetap mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di tengah gencatan senjata yang rapuh.
Perkembangan ini dilaporkan CNN dalam pembaruan yang tayang pada 18 April 2026 pukul 06.48 EDT, yang menyebut militer Iran kembali memberlakukan pembatasan setelah menilai tidak ada perubahan sikap dari Washington. Hal senada dikonfirmasi The New York Times dalam laporan live update yang diperbarui pada 18 April 2026 pukul 06.41 pagi waktu AS, yang menyebut Selat Hormuz kini berada di bawah “kendali ketat” Iran dan akses pelayaran akan dibatasi selama blokade AS belum dicabut.
Keputusan Iran mencerminkan meningkatnya ketegangan dan rendahnya tingkat kepercayaan antara kedua negara. Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sempat menyatakan bahwa Selat Hormuz dibuka sebagai bagian dari komitmen terhadap gencatan senjata. Presiden AS Donald Trump bahkan menyambut pengumuman tersebut sebagai sinyal positif menuju akhir konflik. Namun di saat yang sama, Trump menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan final untuk mengakhiri perang.
Ketidaksinkronan pernyataan inilah yang kemudian memicu langkah Iran untuk kembali memperketat kontrol. Media pemerintah Iran dan pernyataan pimpinan parlemen sebelumnya telah memperingatkan bahwa pembukaan selat hanya akan berlaku jika tekanan militer AS dihentikan. Dengan tetap berjalannya blokade, Iran menilai tidak ada insentif untuk mempertahankan akses bebas di jalur tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu titik paling krusial dalam sistem energi global. Data US Energy Information Administration (EIA) yang dikutip CNN menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak per hari—atau hampir seperlima pasokan minyak dunia—melewati jalur ini, selain sekitar 20% perdagangan gas alam cair global. Karena itu, setiap gangguan di selat tersebut langsung berdampak pada pasar energi internasional.
Meskipun demikian, langkah Iran tidak serta-merta berarti blokade AS menjadi tidak efektif. Secara operasional, blokade Washington tetap berhasil menekan arus kapal yang terhubung dengan Iran, dengan sejumlah kapal dilaporkan berbalik arah atau tertahan. Namun, kontrol geografis Iran atas Selat Hormuz membuat AS tidak dapat sepenuhnya menjamin kelancaran pelayaran global tanpa kerja sama Teheran. Dengan kata lain, AS mampu membatasi Iran, tetapi tidak mampu mengendalikan sepenuhnya jalur energi dunia tersebut.
Baca Juga
Dalam praktiknya, kapal-kapal non-Iran secara prinsip masih dapat melintas. AS menyatakan tidak menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal yang tidak terkait dengan Iran. Namun di lapangan, situasinya jauh lebih kompleks. Kapal-kapal tetap menghadapi risiko keamanan tinggi, keharusan mengikuti jalur yang ditentukan Iran, serta ketidakpastian aturan yang membuat banyak operator memilih menunda pelayaran atau menghindari kawasan tersebut sama sekali.
Ketegangan di Hormuz juga sejalan dengan laporan Al Jazeera yang terbit 16 April 2026, yang menyebut Iran bahkan mempertimbangkan memperluas tekanan ke jalur pelayaran lain seperti Laut Merah dan Laut Oman jika blokade AS berlanjut. Di saat yang sama, upaya diplomasi masih berlangsung. Sumber Iran kepada CNN menyebut kemungkinan adanya putaran baru perundingan antara kedua negara dalam waktu dekat, meskipun hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pihak AS.
Di tengah dinamika tersebut, pasar energi global kembali dihadapkan pada ketidakpastian tinggi. The New York Times mencatat bahwa ketika Selat Hormuz sempat dinyatakan dibuka, harga minyak dunia turun mendekati US$90 per barel. Namun dengan pembatasan kembali diberlakukan, risiko lonjakan harga tetap terbuka, mengingat minimnya alternatif jalur distribusi energi global.
Dengan demikian, pengetatan kembali Selat Hormuz menegaskan bahwa konflik AS-Iran belum mendekati penyelesaian. Jalur yang seharusnya menjadi nadi perdagangan energi dunia kini berubah menjadi instrumen tekanan geopolitik, di mana ketidakpastian menjadi faktor dominan dan pasar global menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Kurang dari 24 Jam
Selat Hormuz, jalur energi paling vital dunia, ternyata hanya sempat berada dalam status terbuka dalam waktu yang sangat singkat sebelum kembali dibatasi oleh Iran. Dalam kurun kurang dari 24 jam, bahkan diperkirakan hanya beberapa jam, jalur pelayaran strategis tersebut berubah dari simbol harapan menuju stabilitas menjadi sumber baru ketidakpastian global.
Perkembangan ini terungkap dari laporan CNN yang tayang pada Sabtu, 18 April 2026, serta pembaruan The New York Times pada hari yang sama. Kedua media tersebut menggambarkan bagaimana Iran sempat menyatakan Selat Hormuz dibuka pada Jumat (17/04/2026) sebagai bagian dari komitmen terhadap gencatan senjata, sebelum akhirnya kembali memperketat akses hanya beberapa jam kemudian.
Baca Juga
Bitcoin Sempat Tembus di Atas US$ 78.000 Usai Selat Hormuz Dibuka, Kini Jatuh Lagi ke US$ 77.000
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya menyebut selat itu “sepenuhnya terbuka”, sebuah pernyataan yang langsung disambut positif oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Pada Sabtu pagi, militer Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz kembali berada di bawah “kendali ketat”, dengan alasan adanya “pelanggaran kepercayaan berulang” oleh Amerika Serikat yang tetap mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
CNN menyebut dinamika ini terjadi “dalam 24 jam terakhir”, di mana selat tersebut “dibuka dan kemudian ditutup kembali”. Sementara itu, The New York Times menegaskan bahwa perubahan status tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah pengumuman pembukaan, menandakan bahwa akses bebas di selat itu tidak pernah benar-benar berlangsung secara efektif.
Durasi pembukaan yang sangat singkat ini membuat dampaknya terhadap arus pelayaran global praktis nyaris tidak terasa. Kapal-kapal pengangkut minyak dan gas belum sempat memanfaatkan momentum tersebut, sementara ketidakpastian yang tinggi membuat banyak operator tetap menahan pergerakan. Bahkan ketika secara formal dinyatakan terbuka, Iran tetap mensyaratkan izin dan rute tertentu bagi kapal yang melintas, sehingga tidak ada jaminan kebebasan navigasi secara penuh.
Situasi ini menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz lebih bersifat simbolik daripada operasional. Dalam praktiknya, jalur yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia itu tidak pernah benar-benar kembali normal. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, terutama terkait blokade laut yang masih berlangsung, membuat setiap keputusan bersifat sementara dan mudah berubah dalam hitungan jam.
Dengan demikian, episode pembukaan singkat Selat Hormuz justru memperlihatkan rapuhnya stabilitas di kawasan tersebut. Alih-alih menjadi titik balik menuju de-eskalasi, peristiwa ini menegaskan bahwa konflik masih jauh dari penyelesaian, dan pasar energi global tetap harus bersiap menghadapi volatilitas yang tinggi dalam waktu yang tidak dapat dipastikan.

