Gencatan Senjata AS-Iran Diuji, Selat Hormuz Masih Diblokade dan Serangan Berlanjut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Gencatan senjata antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel yang baru berjalan sehari langsung diuji oleh ketidakjelasan status Selat Hormuz serta perbedaan tafsir terkait cakupan wilayah konflik, khususnya Lebanon. Selat yang dilewati 20% pasokan minyak mentah global ini masih diblokade Iran. Situasi ini memicu ancaman saling serang kembali di tengah harapan pasar global atas meredanya perang.
Berdasarkan laporan The New York Times yang ditulis David E. Sanger, Adam Rasgon, dan Yeganeh Torbati, dipublikasikan Kamis (09/04/2026), gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan menghadapi tekanan sejak hari pertama implementasi pada Rabu, 8 April 2026.
Iran menegaskan bahwa Lebanon termasuk dalam cakupan gencatan senjata, sementara pihak Gedung Putih membantah hal tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan menegaskan Washington harus memilih antara mempertahankan gencatan senjata atau melanjutkan perang melalui Israel.
Baca Juga
Trump Sepakati Gencatan Senjata dengan Iran, Selat Hormuz Segera Dibuka
Ketidakjelasan juga terjadi di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Media pemerintah Iran menyatakan selat tersebut masih “sepenuhnya tertutup”, bahkan meminta kapal-kapal berkoordinasi dengan angkatan laut Iran untuk menghindari ranjau laut.
Perusahaan pelacak kapal global Kpler melaporkan tidak ada tanker minyak yang melintas sejak gencatan senjata diberlakukan, mempertegas risiko gangguan pasokan energi global.
Serangan Masih Berlanjut
Di tengah gencatan senjata, serangan militer tetap terjadi. Negara-negara Teluk melaporkan puluhan serangan rudal dan drone Iran pada hari yang sama. Di Iran, sebuah kilang minyak di Pulau Lavan juga dilaporkan terkena serangan.
Di Lebanon, konflik justru meningkat tajam. Serangan Israel terhadap kelompok Hizbullah—yang mendukung Iran—menyebabkan korban besar. Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sedikitnya 182 orang tewas dan lebih dari 800 luka-luka dalam serangan terbaru di Beirut dan wilayah lainnya.
Baca Juga
Serangan Besar-besaran Israel ke Lebanon Picu Krisis Baru di Tengah Gencatan Senjata AS-Iran
Laporan terpisah dari Al Jazeera yang dipublikasikan 9 April 2026 menyebut korban di Lebanon bahkan melonjak menjadi 254 orang tewas dan 1.165 luka-luka dalam satu hari akibat gelombang serangan Israel. Pemerintah Lebanon menetapkan hari berkabung nasional dan meminta bantuan internasional untuk menangani krisis kemanusiaan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata, sejalan dengan pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance. Namun, Iran kembali menegaskan bahwa kesepakatan tersebut seharusnya mencakup Lebanon.
Masih Rentan
Meski rapuh, gencatan senjata sempat memberikan sentimen positif ke pasar. Harga minyak Brent turun 13,3% menjadi US$94,75 per barel, sementara indeks S&P 500 naik 2,5%.
Namun, harga minyak masih sekitar 30% lebih tinggi dibanding sebelum perang, menunjukkan risiko yang masih besar jika konflik kembali memanas.
Data dari Human Rights Activists News Agency menunjukkan hingga 8 April 2026, korban sipil di Iran mencapai 1.701 orang, termasuk 254 anak-anak. Di Lebanon, lebih dari 1.500 orang dilaporkan tewas dalam konflik terbaru. Di negara-negara Teluk, sedikitnya 32 orang tewas akibat serangan yang dikaitkan dengan Iran, sementara di Israel tercatat 20 korban jiwa. Korban dari pihak militer AS mencapai 13 personel.
Baca Juga
Trump Ancam Tarif 50% kepada Semua Negara Pemasok Senjata ke Iran, Tanpa Pengecualian
Pemerintahan Donald Trump tetap melanjutkan jalur diplomasi, dengan Wakil Presiden JD Vance dijadwalkan ke Pakistan untuk pembicaraan damai, didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner. Meski demikian, ancaman saling serang masih terus dilontarkan kedua pihak jika gencatan senjata runtuh.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik belum benar-benar mereda. Ketidakjelasan implementasi kesepakatan, serangan yang terus berlangsung, serta perbedaan kepentingan di kawasan menjadikan gencatan senjata ini sangat rapuh—dengan potensi kembali memicu eskalasi yang lebih luas, termasuk terhadap stabilitas energi dan ekonomi global.

