Bitcoin Sempat Tembus di Atas US$ 78.000 Usai Selat Hormuz Dibuka, Kini Jatuh Lagi ke US$ 77.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga Bitcoin (BTC) sempat melonjak tajam menembus level US$ 78.000 setelah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, namun berbalik turun pada perdagangan berikutnya seiring munculnya sentimen risk off di pasar global.
Reli Bitcoin terjadi setelah Iran mengumumkan bahwa Selat Hormuz kembali dibuka selama periode gencatan senjata. Sentimen ini mendorong optimisme pasar dan membawa harga Bitcoin menyentuh level tertinggi intraday di kisaran US$ 78.348, pertama kalinya sejak awal Februari. Dalam 24 jam, aset kripto tersebut sempat mencatat kenaikan sekitar 4,1% dengan kapitalisasi pasar mendekati US$1,56 triliun.
Penguatan ini juga didorong oleh meredanya kekhawatiran inflasi energi, seiring turunnya harga minyak global. Minyak mentah Brent dilaporkan turun dari sekitar US$100 per barel ke bawah US$ 89, sementara WTI melemah ke kisaran US$83 per barel. Kondisi tersebut turut mendorong penguatan pasar saham global, termasuk indeks S&P 500 yang kembali mencetak rekor. Namun, momentum positif tersebut tidak bertahan lama.
Baca Juga
Pada perdagangan Sabtu (18/4/2026) pagi, Bitcoin justru mengalami tekanan dan turun di bawah level psikologis US$ 77.000, bahkan sempat menyentuh titik terendah intraday di US$ 76.624. Pergerakan ini menandai perubahan sentimen pasar jangka pendek setelah sebelumnya Bitcoin diperdagangkan stabil di atas US$ 80.000. Tekanan jual yang terjadi dipicu oleh meningkatnya kehati-hatian investor terhadap kondisi makroekonomi global, termasuk kekhawatiran terhadap ekonomi Amerika Serikat dan dinamika geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.
Korelasi Bitcoin dengan aset berisiko juga terlihat menguat, sehingga pergerakan pasar saham turut memengaruhi harga kripto. Volatilitas tinggi turut memicu likuidasi besar di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi di pasar kripto mencapai lebih dari US$810 juta, dengan posisi short mendominasi kerugian. Khusus Bitcoin, likuidasi posisi short tercatat mencapai ratusan juta dolar, mencerminkan tekanan ekstrem di pasar.
Baca Juga
Laju Bitcoin Tersendat Saat Nasdaq dan S&P 500 Melonjak ke Rekor Tertinggi Baru
Secara teknikal, level US$ 77.000 kini menjadi titik krusial yang diawasi pelaku pasar. Jika Bitcoin gagal kembali bertahan di atas level tersebut, maka potensi penurunan ke kisaran US$ 74.000–US$ 75.000 semakin terbuka. Sebaliknya, pemulihan di atas US$ 80.000 diperlukan untuk mengembalikan momentum bullish.
Di tengah tekanan jangka pendek, fundamental jaringan Bitcoin masih menunjukkan kondisi stabil, dengan aktivitas transaksi dan hash rate tetap kuat. Namun, dalam jangka pendek, arah pergerakan harga diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan sentimen makro global.

