Manajer Investasi Bahas Strategi Dongkrak AUM Industri Reksa Dana, Ada Konsep SIP hingga Literasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sejumlah pelaku industri manajer investasi (MI) menyoroti sejumlah isu strategis dalam pengembangan reksa dana, mulai dari regulasi efek, kendala pajak ETF emas, literasi keuangan generasi muda, hingga pentingnya program Systematic Investment Plan (SIP) sebagai pendorong pertumbuhan industri.
Demikan rangkupan hasil focus group discussion (FGD) dengan tema “Membedah Prospek Industri Reksa Dana di Tengah Hantaman Pasar Saham di Awal 2026” yang digelar investortrust.id dalam rangka pelaksanaan Best Mutual Fund 2026 di The Convergence Indonesia, Jakarta, Rabu (11/2/2026). Diskusi dipandu Pemimpin Redaksi investortrust.id, Primus Dorimulu.
Baca Juga
AUM Tembus Rp 1.000 Triliun, Reksa Dana Pendapatan Tetap masih Tetap Jadi Primadona?
FGD ini menghadirkan Direktur PT Eastspring Investment Indonesia Rian Wisnu Murti, Director Investasi dan Chief Investment Officer PT Samuel Aset Manajemen Gema Kumara Darmawan, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto, serta Wakil Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) sekaligus Chief Investment Officer PT Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu.
Rudiyanto mengatakan reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif (KIK) mengacu pada aturan OJK yang mengatur portofolio dalam bentuk efek, seperti saham, obligasi, dan instrumen pasar uang. Aset seperti kripto ditegaskan belum masuk dalam kategori efek yang dapat dibeli oleh reksa dana di bawah pengawasan pasar modal.
Meski terdapat produk serupa yang berisi kripto, disebutkan bahwa produk tersebut bukan dikelola oleh manajer investasi pasar modal, melainkan berada di bawah rezim pengawasan yang berbeda.
Baca Juga
Urgensi Penerapan Penilaian Reksa Dana dan Manajer Investasi
Sedangkan pengembangan ETF emas, pelaku industri mengakui masih terdapat kendala utama dari sisi perpajakan. Secara ilustrasi, investor individu yang membeli emas dan memperoleh keuntungan dari kenaikan harga sering kali tidak melaporkan pajak atas capital gain tersebut.
“Sebaliknya, jika pembelian dilakukan melalui reksa dana berbadan hukum, setiap keuntungan wajib tercatat dalam pembukuan dan dikenakan pajak sesuai ketentuan yang berlaku,” Rudiyanto.
Baca Juga
IHSG Naik 3,49% ke 8.212, Asing Catat Net Sell Rp 5,47 Triliun
Perbedaan perlakuan ini dinilai membuat ETF emas kurang kompetitif di pasar ritel. Selama skema pajak belum bersifat final dan lebih sederhana, ETF emas diperkirakan sulit berkembang secara masif di segmen ritel dan lebih berpotensi diminati investor institusi seperti asuransi.
Sementara itu, Gema Kumara mengatakan, dari sisi pengembangan investor, literasi keuangan ditegaskan sebagai fondasi utama. Edukasi pengelolaan keuangan pribadi dinilai perlu dimulai sejak dini, bahkan sejak tingkat sekolah dasar.
Investor juga didorong untuk melakukan “pekerjaan rumah” sebelum membeli produk reksa dana, termasuk memeriksa prospektus, kinerja historis, serta tata kelola manajer investasi. Website resmi dan keterbukaan informasi menjadi indikator awal untuk menilai kualitas governance.
Di sisi lain, manajer investasi juga dituntut memperkuat tata kelola, manajemen risiko, serta standar operasional sesuai praktik internasional guna meningkatkan kepercayaan investor.
Program Nasional
Sementara itu, Genta mengatakan, penerapan program Systematic Investment Plan (SIP) atau investasi rutin bulanan sebagai gerakan nasional, mencontoh India yang mengampanyekan “Mutual Fund Sahi Hai” secara masif. Konsep SIP dinilai mampu mengubah perilaku investasi yang emosional menjadi disiplin dan sistematis.
Investor didorong menyisihkan minimal 15% dari penghasilan untuk dana pensiun. Bagi pekerja formal yang telah menabung sekitar 8% melalui BPJS, tambahan sekitar 7% secara mandiri dinilai penting agar masa pensiun tetap layak tanpa membebani negara maupun keluarga.
Data industri menunjukkan mayoritas investor SIP berasal dari Gen Z, namun porsi dana kelolaan (AUM) terbesar masih didominasi generasi yang lebih senior. “Jika Gen Z konsisten berinvestasi secara rutin, pertumbuhan industri reksa dana berpotensi meningkat signifikan dalam jangka panjang,” terangnya.
Tantangan 2026
Terkait prospek pertumbuhan dana kelolaan, pelaku industri tetap optimistis meski mengakui adanya ketidakpastian pasar. Rian mengatakan, pengalaman menunjukkan aliran dana cenderung meningkat saat return positif dan melambat ketika pasar bergejolak.
“Oleh karena itu, SIP dinilai menjadi solusi untuk meredam volatilitas perilaku investor melalui pendekatan disiplin dan rupiah cost averaging,” terangnya.
Selain faktor domestik seperti pertumbuhan ekonomi dan tata kelola pemerintahan, kondisi global dan volatilitas pasar tetap menjadi variabel yang sulit dikendalikan. Namun secara umum, investasi ditegaskan sebagai instrumen jangka panjang, bukan untuk horizon 2–3 tahun, melainkan untuk perencanaan masa depan dan kesiapan pensiun.
Para pembicara sepakat, investasi rutin dan disiplin menjadi kunci agar generasi muda dapat menikmati masa pensiun yang layak dan tidak sepenuhnya bergantung pada penghasilan aktif saat ini.

