AUM Tembus Rp 1.000 Triliun, Reksa Dana Pendapatan Tetap masih Tetap Jadi Primadona?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Industri manajer investasi (MI) mencatat tonggak penting setelah aset kelolaan (asset under management/AUM) menembus Rp 1.000 triliun hingga akhir 2025. Capaian ini diraih hanya dalam satu tahun sejak pembentukan task force percepatan pertumbuhan AUM oleh asosiasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Berdasarkan data OJK, total AUM tersebut terdiri atas Rp 653 triliun reksa dana, Rp317 triliun dalam bentuk KPD, Rp 19 triliun RDPT, Rp 11 triliun DIRE, Rp 4 triliun EBA, dan Rp 2 triliun Dinfra.
Baca Juga
Urgensi Penerapan Penilaian Reksa Dana dan Manajer Investasi
Capaian ini terungkap dalam focus group discussion (FGD) bertajuk “Membedah Prospek Industri Reksa Dana di Tengah Hantaman Pasar Saham di Awal 2026” yang digelar investortrust.id di The Convergence Indonesia, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
FGD menghadirkan Direktur PT Eastspring Investment Indonesia Rian Wisnu Murti, Director Investasi dan Chief Investment Officer PT Samuel Aset Manajemen Gema Kumara Darmawan, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto, serta Wakil Ketua Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII) sekaligus Chief Investment Officer PT Sinarmas Asset Management Genta Wira Anjalu. Diskusi dipandu Pemimpin Redaksi investortrust.id, Primus Dorimulu.
Task force percepatan AUM awalnya menargetkan pencapaian Rp1.000 triliun pada 2026–2027. Namun realisasi tersebut sudah tercapai 100% pada 2025, atau satu tahun sejak task force dibentuk. Meski demikian, ruang pertumbuhan dinilai masih besar. Dengan dana pihak ketiga (DPK) perbankan mencapai Rp 8.000–9.000 triliun, sementara AUM reksa dana dan KPD sekitar Rp 1.000 triliun, potensi ekspansi industri MI masih sangat terbuka.
Inflow Pendapatan Tetap
Gema Kumara Darmawan mengatakan, tren penurunan suku bunga dalam 3–6 bulan terakhir mendorong investor, baik institusi maupun ritel, mengalihkan dana dari deposito ke instrumen pasar modal, khususnya reksa dana pendapatan tetap, pasar uang, dan capital protected fund. Sebaliknya, aliran dana ke reksa dana saham cenderung menurun seiring volatilitas pasar yang masih tinggi.
Rian Wisnu Murti menambahkan, dalam tiga tahun terakhir terjadi shifting dari deposan ke aset yang lebih konservatif. Tren ini diperkirakan masih berlanjut, terutama ke reksa dana pendapatan tetap.
Daya tarik utama berasal dari fitur pembagian hasil investasi (HI) reksa dana ini yang menyerupai deposito, dengan pembagian berkala dan risiko relatif terukur. Sepanjang 2025, imbal hasil reksa dana fixed income mencapai kisaran 8–11%, lebih tinggi dibanding deposito.
2026: Return Lebih Moderat
Sementara itu, Rudiyanto menjelaskan, pertumbuhan pesat reksa dana pendapatan tetap juga didorong agresivitas distribusi perbankan. Saat bunga deposito turun, bank menawarkan reksa dana pasar uang dengan tingkat imbal hasil lebih tinggi agar dana nasabah tidak berpindah ke bank lain.
Namun pada 2026, ekspektasi penurunan suku bunga diperkirakan tidak sebesar 2025. Jika tahun lalu turun sekitar 1,25%, tahun ini diperkirakan hanya 0,25–0,5%. Dengan demikian, potensi kenaikan harga obligasi dan return reksa dana pendapatan tetap diproyeksikan lebih moderat di kisaran 5–6%.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi ekspektasi investor yang sebelumnya menikmati return tinggi. Di sisi lain, koreksi harga obligasi akibat faktor eksternal dan kondisi APBN membuat sebagian investor mengalami floating loss, sementara bagi investor dengan dana segar menjadi peluang masuk.
Untuk reksa dana saham, prospeknya masih bergantung pada kinerja laba perbankan 2026, harga komoditas, serta dinamika global seperti hubungan dagang China dan Amerika Serikat. Meski valuasi dinilai menarik, volatilitas tinggi membuat investor domestik tetap cenderung berhati-hati.
Pengembangan Industri
Adapun, Genta memaparkan tiga agenda utama pengembangan industri MI ke depan. Pertama, pengembangan aset kelas baru seperti ETF emas serta penguatan offshore fund, baik saham syariah maupun konvensional luar negeri. Offshore fund dinilai menarik karena menawarkan akses ke sektor new economy di AS dan China, meski tetap perlu mencermati dampaknya terhadap nilai tukar rupiah.
Kedua, pengembangan distribution channel melalui PPRI, serupa pemasar individu di industri asuransi. Apabila agen penjual reksa dana individu bisa ditambah secara massif seperti yang telah diterapkan asuransi diprediksi berdampak signifikan terhadap AUM manajer investasi ke depan.
Ketiga, penguatan sosialisasi dan edukasi investor. Industri belajar dari India yang sukses mengampanyekan reksa dana secara masif bersama pemerintah dan media, termasuk melalui pengembangan systematic investment plan (SIP) yang menjangkau kota-kota lapis tiga.
“Secara keseluruhan, industri manajer investasi dinilai masih memiliki ruang ekspansi besar. Dukungan kebijakan, literasi investasi, serta stabilitas makroekonomi akan menjadi faktor kunci untuk mendorong pertumbuhan AUM ke level yang lebih tinggi dalam beberapa tahun mendatang,” terangnya.

