Bagikan

Harita (NCKL) dan Babak Baru Industri Nikel Indonesia Hadapi Era Terkini EV

Poin Penting

Pergeseran EV ke baterai LFP mengubah peta permintaan, tetapi tidak menghapus peran nikel.
Indonesia memangkas produksi hingga 250–260 juta ton demi menahan harga nikel global.
Hilirisasi dan integrasi seperti Harita Nickel menjadi kunci daya tahan industri.

JAKARTA, Investortrust.id – Seperti logam yang ditempa berulang kali, nilai sebuah komoditas strategis kerap diuji justru ketika dunia berubah arah. Nikel kini berada pada fase tersebut, di tengah pergeseran industri kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) global yang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada baterai berbasis nikel, melainkan mulai mengadopsi lithium ferro phosphate (LFP).

Menyikapi perubahan tren itu, bagaimana langkah ke depan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), produsen nikel terintegrasi yang dikenal sebagai Harita Nickel?

Produsen EV global kian meningkatkan penggunaan baterai LFP. Faktor biaya yang lebih rendah serta stabilitas termal yang lebih baik menjadikan baterai LFP cocok untuk kendaraan jarak menengah. Pergeseran teknologi ini mendorong pelaku pasar menilai ulang prospek permintaan nikel dalam jangka panjang, mengingat baterai LFP tidak menggunakan nikel sebagai bahan utama, melainkan mengandalkan litium (Li), besi (Fe), dan fosfat pada katodanya. Bahan baku LFP juga sering dikombinasikan dengan grafit sebagai anoda.

Baca Juga

Harga Nikel Sentuh Level Tertinggi 9 Bulan, Saham Emiten Nikel bakal Lanjut Reli?

Tren tersebut paling terlihat pada produsen EV asal China yang kini mendominasi adopsi LFP secara global. BYD dan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) menjadi pemimpin pasar dalam penggunaan baterai LFP, diikuti oleh Wuling yang memanfaatkan teknologi ini untuk segmen kendaraan massal.

Sementara itu, produsen global di luar China juga mulai mengikuti langkah serupa. Tesla menggunakan baterai LFP untuk sejumlah varian kendaraannya, terutama model entry-level, disusul Ford yang mulai mengadopsi teknologi baterai ini dalam lini produk tertentu.

Namun, perubahan ini tidak bersifat eliminatif. Baterai berbasis nikel, seperti nickel manganese cobalt tetap menjadi pilihan utama untuk kendaraan listrik berjarak tempuh jauh, penyimpanan energi skala besar, serta aplikasi industri lain, seperti baja nirkarat yang hingga kini masih menyerap porsi terbesar konsumsi nikel global.

Bagi Indonesia, negara dengan cadangan nikel terbesar dunia, dinamika ini menjadi ujian strategis. Data United States Geological Survey mengutip East Asia Forum 2024 menunjukkan Indonesia memiliki cadangan nikel 5,3 miliar ton bijih setara 55 juta ton metrik logam nikel. Angka ini menguasai sekitar 52% cadangan nikel global.

Mengutip Statista, Indonesia memproduksi sekitar 1,8 juta ton metrik nikel pada 2023 dan mencapai 2,2 juta metrik ton pada akhir 2024 yang menyumbang setengah dari total produksi dunia. Pencapaian Indonesia 2024 jauh melampaui Filipina di posisi kedua dengan 330.000 ton, Kaledonia Baru 230.000 ton, Rusia sebesar 210.000 ton, Kanada 180.000 ton, China 120.000 ton, dan Australia 110.000 ton.

Baca Juga

Bukan Hanya Batu Bara, Pemerintah Juga Akan Kurangi Produksi Nikel Tahun Depan

Deposit nikel laterit di Indonesia tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Halmahera, dan Papua. Posisi ini menjadikan Indonesia aktor kunci dalam rantai pasok logam strategis dunia, tetapi juga menempatkannya pada sorotan investor global yang semakin selektif.

Melihat trennya, harga nikel global mulai meningkat sejak awal tahun ini setelah sebelumnya cenderung melemah. Mengutip Investing.com, harga nikel pada Jumat (23/1/2026) mencapai US$ 18.663,38 per ton atau naik US$ 655,38 (3,64%) dari perdagangan sebelumnya. Sementara pada 15 Januari 2026, harga nikel mencapai level tertinggi dalam 15 bulan terakhir di posisi US$ 18.741 per ton.

Padahal pada pertengahan Desember 2025 lalu, harga nikel sempat mencapai titik terendah dalam setahun di kisaran US$ 14.000 per ton. Dalam sebulan terakhir, nikel sudah naik 18,9%, seminggu terakhir 5,7% dan dalam 3 bulan terakhir sudah naik 21,8%. Adapun dalam 6 bulan terakhir harga nikel melonjak 20.2% dan setahun terakhir menguat 18,7%.

Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang mendorong reli harga nikel sejak akhir tahun lalu. Pemicunya berasal dari rencana pemerintah untuk memangkas produksi nikel secara signifikan mulai 2026.

Sinyal pengetatan suplai itu ditegaskan langsung oleh pemerintah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESMD) Bahlil Lahadalia memastikan akan menurunkan produksi nikel dan bijih nikel (ore) - bahan baku mentah sebelum diolah- pada 2026 supaya harga komoditas tersebut bisa membaik di pasar dunia.

Baca Juga

Wamen ESDM: Hilirisasi Nikel Pacu Ekspor 10 Kali Lipat, 2040 Sumbang Investasi US$ 618 Miliar

"Jadi produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang untuk cucu kita. Bangsa ini harus berjalan terus, lingkungan kita jaga dan ini juga terjadi tidak hanya pada batu bara termasuk nikel kita akan sesuaikan kebutuhan industri dan suplai ore nikel kita," kata Bahlil dalam konferensi pers Kinerja Sektor ESDM 2025, Kamis (8/1/2026).

Secara konkret, kebijakan tersebut tercermin dalam perencanaan produksi tahun ini. Pemerintah berencana memangkas target produksi bijih nikel (ore) dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 menjadi sekitar 250-260 juta ton atau lebih rendah 34% dibandingkan RKAB 2025 yakni sebesar 379 juta ton.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan keterangan pers seusai bertemu Presiden Prabowo Subianto di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (20/11/2025). Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden/ Rusman.

Penyesuaian kuota ini juga mempertimbangkan kebutuhan industri pengolahan domestik. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pemangkasan kuota tersebut menyesuaikan dengan permintaan dari pabrik pengolahan atau smelter yang beroperasi di dalam negeri. "Nikel kita sesuaikan dengan kapasitas produksi dari smelter. Kemungkinan sekitar 250-260 juta ton," kata Tri Winarno ditemui di Kementerian ESDM, Rabu (14/1/2026).

Dari perspektif pasar, langkah ini dinilai krusial untuk menyeimbangkan suplai dan permintaan. Pemangkasan produksi di Indonesia penting untuk menyeimbangkan antara suplai bijih nikel dari penambang dengan permintaan dari pabrik pengolahan atau smelter yang beroperasi di dalam negeri.

Baca Juga

Nikel Bakal Digantikan Grafena sebagai Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik? Ini Kata Kepala BRIN

Dengan strategi tersebut, pemerintah memasang target stabilisasi harga. ESDM berharap harga nikel dapat bertahan di kisaran US$ 19.000–20.000 per ton. “Mudah-mudahan US$ 19–20 (ribu per ton) begitu lah,” ujar Tri saat ditemui di gedung DPR, Jakarta.

Namun demikian, tantangan dari sisi global masih membayangi. Rencana pemangkasan produksi nikel oleh Indonesia tidak terlepas dari kondisi pasar nikel dunia yang masih diliputi kelebihan pasokan. Analis BMO Capital Markets, Helen Amos, memproyeksikan pasar nikel tetap mencatat surplus sekitar 240.000 ton pada 2026, meskipun Indonesia benar-benar memangkas produksi dan pelaku tambang mematuhi kebijakan tersebut.

Proyeksi serupa juga datang dari produsen utama global. Produsen nikel terbesar Rusia, Nornickel, memperkirakan surplus yang lebih besar, yakni sekitar 275.000 ton pada 2026, setelah kelebihan pasokan 240.000 ton pada 2025. Proyeksi tersebut disampaikan sebelum rencana pemangkasan produksi Indonesia diumumkan secara resmi.

Smelter Milik PT Trimegah Bangun Persada Tbk di Pulau Obi, Maluku Utara. Foto: Primus Dorimulu/Investortrust. (Primus Dorimulu)
Source: Investortrust

Ekosistem Harita Nickel

Di tengah perubahan tren teknologi, fokus investor bergeser dari sekadar volume produksi ke struktur biaya, kualitas produk, dan integrasi rantai nilai. Hilirisasi menjadi faktor pembeda utama karena memungkinkan produsen nikel menangkap nilai tambah, memperluas pasar, dan mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga bijih mentah.

Model tersebut tercermin pada PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), produsen nikel terintegrasi yang dikenal sebagai Harita Nickel. Berbasis di Pulau Obi, Maluku Utara, perusahaan mengembangkan ekosistem dari tambang hingga fasilitas pengolahan, termasuk smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) yang menghasilkan bahan baku baterai.

Direktur Utama Harita Nickel Roy Arman Arfandy menilai perubahan teknologi baterai tidak menghilangkan peran nikel, tetapi mengubah cara pasar menilai industri ini.

Direktur Utama  PT Trimegah Bangun Persada Tbk, Roy Arman Arfandy berpose di depan logo Harita Nickel pada acara Buka Puasa Bersama dan Diskusi Media di Plataran Senayan, Jakarta, Rabu, (3/4/2024). Foto: Investortrust/Elsid Arendra.

“Bagi investor, yang terpenting bukan hanya jenis baterainya, tetapi keberlanjutan permintaan dan posisi nikel dalam rantai nilai global. Nikel tetap dibutuhkan untuk kendaraan listrik berjarak tempuh jauh, industri baja nirkarat, dan penyimpanan energi skala besar,” kata Roy dalam sebuah kesempatan.

Integrasi hulu ke hilir memberikan ketahanan bisnis di tengah volatilitas pasar komoditas. Dengan hilirisasi, Harita tidak bergantung pada satu pasar atau satu produk. Pendekatan terintegrasi dari tambang hingga pengolahan memberi kepastian arus kas dan meningkatkan daya tahan bisnis dalam jangka panjang.

Ketahanan model bisnis tersebut tercermin langsung pada kinerja keuangan perseroan. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) mencatatkan laba bersih hingga kuartal III-2025 atau selama Januari-September 2025 mencapai Rp 6,4 triliun, meningkat 33% year-on-year (yoy).

Pertumbuhan laba itu sejalan dengan kenaikan pendapatan usaha. Sepanjang sembilan bulan 2025, pendapatan dari kontrak dengan pelanggan meningkat 9,93% yoy dari Rp 20,37 triliun menjadi Rp 22,4 triliun. Pendapatan itu bersumber dari pengolahan nikel Rp 17,17 triliun dan penambangan nikel Rp 5,23 triliun. Pelanggan NCKL yang menyumbang nilai pendapatan besar, antara lain Lygend Resources & Technology Co. Ltd. China Rp 10,8 triliun dan Glencore International AG Swiss Rp 3,51 triliun.

Manajemen menilai capaian ini tidak terlepas dari peningkatan efisiensi operasional. Efisiensi berkelanjutan serta optimalisasi teknologi HPAL dan smelter RKEF menjadi faktor kunci yang menopang kinerja perseroan.

Baca Juga

Didukung Faktor Ini, Target Harga Saham Harita Nickle (NCKL) Direvisi Naik

Ke depan, perseroan masih melihat ruang ekspansi yang signifikan. Harita Nickel menargetkan tambahan kapasitas pengolahan nikel hingga 185.000 ton nikel dalam feronikel (TNi) per tahun pada 2026. Target ini sejalan dengan kehadiran smelter RKEF ketiga milik perseroan yang memiliki 12 jalur produksi.

Sebelumnya, NCKL telah mengoperasikan dua smelter RKEF dengan kapasitas penuh. Kedua fasilitas tersebut dioperasikan oleh anak usaha PT Megah Surya Pertiwi dan PT Halmahera Jaya Feronikel, dengan total kapasitas produksi mencapai 120.000 TNi per tahun.

Namun, strategi hilirisasi tidak terlepas dari kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) besar. Industri nikel Indonesia memasuki fase investasi intensif, khususnya untuk pembangunan smelter dan fasilitas pengolahan lanjutan. Bagi investor, besaran capex menjadi indikator komitmen jangka panjang sekaligus sumber risiko jika tidak diimbangi dengan efisiensi dan kepastian pasar.

Di sisi lain, risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola menjadi variabel kunci dalam penilaian investasi. Industri nikel menghadapi perhatian global terkait emisi karbon, pengelolaan limbah, serta dampak sosial di wilayah tambang. Investor semakin memasukkan faktor environmental, social, and governance (ESG) sebagai komponen utama dalam keputusan alokasi modal.

Pabrik HPAL Harita Nickel. Foto: NCKL. (NCKL)
Source: NCKL.

Dalam konteks ini, kemampuan perusahaan nikel Indonesia untuk memenuhi standar keberlanjutan global akan memengaruhi biaya pendanaan dan daya tarik investasi. ESG tidak lagi dipandang sebagai pelengkap, melainkan sebagai faktor yang secara langsung memengaruhi valuasi dan akses ke pasar modal internasional.

Baca Juga

Harita Nickel (NCKL) Diakui di Asia Berkat Inovasi Pengolahan Sisa Produksi

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran ekonom peraih Nobel Joseph Stiglitz yang menyatakan, “Apa yang kita hasilkan itu penting, tetapi bagaimana kita menghasilkannya jauh lebih penting”. Dalam industri nikel, cara produksi dan tata kelola kini sama pentingnya dengan besaran cadangan.

Ke depan, posisi Indonesia di tengah perubahan tren baterai EV akan ditentukan oleh kemampuannya menjaga keseimbangan antara ekspansi industri, disiplin belanja modal, dan pengelolaan risiko ESG. Pergeseran ke LFP memang mengubah peta permintaan, tetapi tidak menghapus peran nikel dalam transisi energi global.

Seperti peribahasa, besi ditempa selagi panas, momentum perubahan teknologi justru menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi industrinya.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024