Nikel Bakal Digantikan Grafena sebagai Bahan Baku Baterai Kendaraan Listrik? Ini Kata Kepala BRIN
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Nikel disebut-sebut tak lagi menjadi pilihan utama sebagai bahan baku beterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di masa depan. Posisi nikel digadang-gadang bakal digantikan grafena (graphene).
“Selama ini kita fokus pada nikel. Tapi apakah nikel ke depan masih diperlukan industri otomotif untuk pembuatan baterai? Kami sudah lihat AI (artificial intelligence) juga. Nah, ternyata ada graphene,” kata Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Arif Satria dalam acara Temu Pemimpin Redaksi di Jakarta, Jumat (9/1/2025) malam.
Berdasaran riset investortrust.id, grafena adalah material dua dimensi yang tersusun dari satu lapisan atom karbon dalam pola heksagonal (seperti sarang lebah). Grafena sangat tipis, ketebalannya hanya satu atom. Grafena juga sangat kuat, sekitar 200 kali lebih kuat dari baja, tetapi 10 kali lebih ringan. Material ini memiliki konduktivitas tinggi, menghantarkan listrik dan panas dengan sangat baik. Selain itu, grafena hampir tembus cahaya dan fleksibel, bisa ditekuk tanpa mudah rusak. Material ini pun dapat didaur ulang, sehingga ramah lingkungan.
Grafena berhasil diisolasi pertama kali pada 2004 oleh Andre Geim dan Konstantin Novoselov (University of Manchester), yang kemudian memenangi Hadiah Nobel Fisika 2010. Contoh aplikasi grafena antara lain baterai dan superkapasitor (dengan pengisian lebih cepat), elektronik fleksibel dan layar sentuh, sensor medis dan kimia, material komposit yang sangat kuat dan ringan, serta transistor generasi baru.
Baca Juga
Wamen ESDM: Hilirisasi Nikel Pacu Ekspor 10 Kali Lipat, 2040 Sumbang Investasi US$ 618 Miliar
“Karena kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, seperti lebih ringan, lebih kuat, dan sebagainya, graphene ke depan mungkin lebih cocok sebagai material atau bahan baku baterai,” ujar Arif Satria.
Karena itu pula, menurut Prof Arif, BRIN sedang membuat riset tentang kebutuhan nikel bagi industri manufaktur masa depan, di luar otomotif. Dengan demikian, investasi yang sudah masuk ke pertambangan nikel di Tanah Air, terutama untuk hilirisasi, tetap layak (feasible) secara bisnis andai grafena kelak menggantikan nikel.
“Nikel tetap bermanfaat seandainya industri EV memilih graphene. Misalnya untuk keperluan alat berat. Jadi, nikel tetap penting, tetap bermanfaat. Kami siapkan riset untuk shifting-nya,” tegas dia.
Berkaca pada hal tersebut, kata Arif Satria, BRIN akan melakukan penelitian-penelitian tentang kebutuhan produk di masa depan, tidak sekadar yang dibutuhkan saat ini. Dengan begitu, investasi untuk hilirisasi sumber daya alam tetap relevan di masa mendatang.
“Kita harus tahu kebutuhan masa depannya seperti apa, bagaimana proyeksinya. Jadi, sifatnya forecasting agar investasi yang sudah ada tetap bermanfaat di masa depan. Misalnya mana yang cocok untuk energi dan baterai, kemudian untuk green industrial, dekarbonisasi, dan lain-lain,” papar dia.
Nikel merupakan komoditas unggulan Indonesia yang masuk program hilirisasi. Pemerintah melarang ekspor bijih nikel mentah sejak 2020 untuk mendorong pengolahan di dalam negeri, dengan tujuan menciptakan nilai tambah, membangun industri baterai kendaraan listrik (EV), dan menjadi pemain kunci energi bersih global.
Baca Juga
Pemerintah Tolak Sebut Ada Pemangkasan Produksi Batu Bara dan Nikel
Berdasarkan data Kementerian Sumber Daya Mineral (ESDM), ekspor nikel dan turunannya pada 2017 mencapai US$ 3,3 miliar, namun pada 2024 melonjak 10 kali lipat menjadi US$ 33,9 miliar. Pada 2040, program hilirisasi akan menyumbang investasi sekitar US$ 618 miliar, menciptakan 3 juta lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan nilai ekspor yang signifikan.
Saat ini terdapat 365 izin usaha pertambangan (IUP) nikel yang tersebar di enam provinsi, yakni Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya. Adapun industri pengolahan nikel di dalam negeri berjumlah 79 smelter yang sudah beroperasi, 74 masih dalam tahap pembangunan, serta 17 lainnya dalam proses perencanaan dan perizinan.
Orientasi Jangka Panjang
Arif Satria mengungkapkan, BRIN juga akan fokus pada riset yang dapat mendukung program-program pemerintahan Prabowo-Gibran guna mengejar target pertumbuhan ekonomi 8%.
Program-program dimaksud antara lain ketahanan pangan, ketahanan energi, ketahanan kesehatan, dan industri strategis. Juga program lingkungan berkelanjutan dan ketahanan air, ketahanan sosial dan masyarakat, keantariksaan, serta tenaga nuklir untuk tujuan damai.
Prof Arif mencontohkan, di sektor pertanian, BRIN terus mendorong riset benih padi unggul untuk mempertahankan swasembada beras yang telah tercapai tahun ini. “Misalnya supaya beras bisa disimpan lebih dari dua tahun dengan kualitas tidak berubah,” tutur dia.
Kecuali itu, BRIN telah melakukan riset bawang putih agar Indonesia bisa swasembada komoditas tersebut. “Dalam dua tahun mendatang, kita ditargetkan bisa mengurangi ketergantungan terhadap impor bawang putih karena produktivitas nasional bisa ditingkatkan,” ucap dia.
Baca Juga
Harga Nikel Sentuh Level Tertinggi 9 Bulan, Saham Emiten Nikel bakal Lanjut Reli?
Arif menambahkan, BRIN juga melakukan riset terhadap ternak unggul untuk mendukung swasembada pangan, salah satunya sapi. Begitu pula menyangkut teknologi pertanian, seperti teknologi ruang penyimpanan agar komoditas hasil pertanian bisa tahan lama.
“Salah satu yang dikembangkan yaitu kontainer penyimpanan komoditas pertanian. Suhunya bisa diatur, hemat energi. Kalau pakai cold storage jelas ya, bisa awet. Nah, ini nggak pakai,” ujar dia.
Menurut Arif Satria, BRIN pun turut berkontribusi pada penanganan bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. BRIN antara lain mengirim peralatan yang mampu menghasilkan air bersih di lokasi bencana.
Di luar itu, kata Prof Arif, BRIN sedang mengembangkan konstelasi satelit nasional untuk mempercepat kemandirian teknologi antariksa, di antaranya satelit untuk misi pengindraan jauh dan pemantauan wilayah.

