Telkom (TLKM) Bukan Cuma Telkomsel, lho?!
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Siapa bilang PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk cuma punya Telkomsel? Telkom tak melulu berurusan dengan bisnis seluler. Bahkan, Telkom punya seabrek anak perusahaan yang bisa disulap menjadi “Telkomsel-Telkomsel” lain.
Itulah mindset yang sedang dibangun dan diperkuat manajemen baru Telkom. Dinakhodai Dian Siswarini, direksi Telkom hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), 27 Mei 2025 bakal mempercepat transformasi menjadi perusahaan penyedia layanan ekosistem digital kelas dunia berskala jumbo.
Ada empat pilar yang dijalankan direksi baru Telkom, yaitu Operational & Service Excellence (keunggulan operasional dan layanan), Stream Lining (penyederhaan proses bisnis), Unlock Value (membuka potensi nilai yang belum dimaksimalkan), dan Mode Shift (perubahan cara kerja, model bisnis, atau pendekatan operasional).
Dalam pilar Operational & Service Excellence, perusahaan pelat merah ini akan mereformasi budaya dan tata kelola perusahan serta mengalokasikan modal yang lebih bijak dan hati-hati demi meningkatkan efisiensi, baik belanja operasi (operational expenditure/opex) maupun belanja modal (capital expenditure/capex). Telkom juga akan memberikan penawaran produk dengan yield yang tinggi.
Baca Juga
Bidik Pertumbuhan di Semester II Tahun Ini, Telkom (TLKM) Fokus Genjot Segmen Ini
Adapun dalam Stream Lining, Telkom akan mengonsolidasikan unit bisnis yang tumpang tindih dan melakukan divestasi bisnis noninti, serta memfokuskan kembali waktu, usaha, dan sumber daya kepada kekuatan inti. Sedangkan dalam Unlock Value, Telkom akan mepercepat monetisasi aset infarstruktur bernilai tinggi, seperti pusat data menara dan aset fiber, serta membangun kemitraan strategis untuk mewujudkan nilai tertanam.
Sementara itu, dalam Mode Shift, Telkom bakal melakukan transisi dari operating holding ke strategic holding guna mengoptimalkan penciptaan nilai dan return pemegang saham. Dalam staretgi ini, Telkom bakal beralih dari telko lama ke telko digital.
Telkomsel Sumber Cuan
Sejujurnya, Telkomsel adalah sumber cuan Telkom. Hingga tahun lalu, 70% pendapatan Telkom masih disumbang Telkomsel. Di industri, Telkomsel turut mengharumkan nama Telkom sebagai raja perusahaan telko di Tanah Air.
Telkomsel tahun lalu menjaga pangsa pasar pendapatan seluler tertinggi di industri sebesar 51,8%. Sedangkan dari sisi laba bersih, pangsa pasar Telkomsel di industri telekomunikasi Indonesia mencapai 75,6%.
Tapi, disadari atau tidak, status Telkomsel sebagai mesin uang Telkom telah membuat nama Telkom “terdistorsi”. Seolah-olah, Telkom cuma punya Telkomsel. Seakan-akan, Telkom hanya berbisnis seluler.
Baca Juga
Net Buy Berlanjut Rp 827,42 Miliar, Asing Borong Saham TLKM, BBRI, hingga BREN
Padahal, Telkom punya puluhan anak perusahaan. Mereka memang masih kecil-kecil. Tapi potensinya untuk menjadi perusahaan raksasa tak bisa dipandang sebelah mata. Jika perusahaan-perusahaan di luar Telkomsel “dilepas”, Telkom bisa mewujudkan mimpinya menjadi perusahaan raksasa penyedia layanan ekosistem digital kelas dunia.
“Jadi, tugas kami sekarang adalah membuka kunci ini. Harus unlock supaya orang menilai, eh Telkom itu bukan cuma Telkomsel, lho. Kami nggak cuma jualan seluler doang,” kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra dalam bincang-bincang dengan wartawan di Jakarta, awal pekan ini.
Toh tak berarti warisan direksi lama tak akan dipakai. Direksi baru justru menilai strategi bisnis dan fundamental yang ditinggalkan direksi lama sudah oke.
“Manajemen lama sudah membangun fondasi yang bagus. Kehadiran BOD (board of directors) baru di sini adalah melanjutkan sebagian besar strategi BOD yang lama. Kami akan eksekusi supaya transformasinya jalan lebih cepat dan lebih efisien, gitu lho,” ujar Lolo, sapaan akrab Arthur Angelo Syailendra.
Dalam beberapa tahun terakhir, manajemen Telkom sejatinya telah berupaya memperluas pendapatan di luar segmen mobile (non-mobile), salah satunya melalui strategi 5 Bold Moves (5BM), yaitu Fixed Mobile Convergence (FMC), InfraCo, Data Center Co (DC Co), B2B Digital IT Services Co, dan DigiCo.
Baca Juga
Melesat dalam Sepakan, Simak Target Harga Saham dan Proyeksi Kinerja Telkom (TLKM) Berikut
Dalam strategi FMC, Telkom mengintegrasikan layanan fixed broadband (seperti IndiHome) dan mobile broadband (seperti Telkomsel) untuk menciptakan pengalaman konektivitas yang seamless bagi pelanggan, baik di rumah maupun saat bergerak. Langkah ini meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat penetrasi pasar.
Sedangkan dalam strategi InfraCo, Telkom membentuk PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) untuk mengelola dan mengoptimalkan aset infrastruktur jaringan fiber milik TelkomGroup. InfraCo bertujuan membuka peluang kolaborasi dengan mitra eksternal dan meningkatkan produktivitas aset jaringan.
Dalam strategi DC Co, Telkom mengembangkan bisnis pusat data melalui NeutraDC, termasuk pembangunan hyperscale data center di Cikarang dan Batam. Inisiatif ini mendukung kebutuhan penyimpanan data yang terus meningkat dan memperkuat kapabilitas digital Telkom.
Adapun dalam strategi B2B Digital IT Services Co, Telkom fokus pada penyediaan layanan teknologi informasi untuk segmen bisnis ke bisnis (B2B), termasuk cloud, cybersecurity, dan solusi digital lainnya. Telkom memperkuat kapabilitas ini melalui sedikitnya 1.500 sertifikasi di bidang terkait.
Sementara itu, dalam strategi DigiCo, Telkom membentuk entitas digital baru untuk mengembangkan layanan digital inovatif yang berorientasi pada konsumen, seperti platform hiburan, gaya hidup, dan layanan digital lainnya. DigiCo bertujuan memperluas portofolio bisnis digital Telkom dan meningkatkan nilai tambah bagi pelanggan.
Melalui strategi 5BM, Telkom berkomitmen memperkuat ekosistem digital nasional dan mendukung transformasi digital di berbagai sektor industri. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Baca Juga
Percepat Eksekusi Transformasi, Telkom (TLKM) Cetak Laba Bersih Rp 11 Triliun di Semester I-2025
Predikat Raja Industri
Harus diakui, membangun kredo bahwa “Telkom bukan cuma Telkomsel” di kalangan karyawan Telkom yang berjumlah sekitar 24 ribu orang bukan pekerjaan mudah. Apalagi jika dihubungkan dengan para pelanggan Telkom, baik seluler maupun broadband, yang totalnya mencapai 170,2 juta.
Maklum, Telkom kadung menyandang predikat ‘raja’ industri seluler di Tanah Air. Padahal, dunia telko dan dunia digital sudah berubah, tidak seperti 10-15 tahun silam. “Mungkin dulu kami terbiasa menjadi the king of the country. Waktu itu market share-nya masih 60-65%, sekarang performance-nya kan 45-47%,” tutur Lolo.
Rupanya, status ‘raja’ telah meninabobokan dan memengaruhi etos karyawan Telkom. Dulu, sebagian besar calon pelanggan datang sendiri ke Telkom, sehingga muncul kesan bahwa Telkom-lah yang harus dilayani, bukan sebaliknya. “Sekarang kami benar-benar menerapkan mindset bahwa eh sebenarnya bos-bos kita tuh para customer,” papar Lolo.
Demi menjalankan operasional yang prima dan memberikan layanan yang unggul, Telkom kini lebih bijak dan berhati-hati (prudent) dalam mengalokasikan capex dan opex. Belanja modal dan belanja operasional hanya dialokasikan kepada program atau kegiatan yang benar-benar mendatangkan keuntungan maksimal bagi perusahaan.
Intinya, alokasi capex dan opex bakal lebih selektif, efektif, efisien, terukur, dan memiliki target yang jelas. Telkom menargetkan belanja di tempat yang tepat, harga yang tepat, kuantitas yang tepat, dan dengan waktu yang tepat.
“Kadang-kadang spek kami dibanding operator lain tuh jauh lebih tinggi. Kalau bahasa Betawi-nya, orang mau Toyota tapi install-nya Ferrari. Mereka maunya Toyota, bayarnya pun pakai harga Toyota. Jadi, jangan sampai maunya lima, terus kita kasih 10,” tandas Lolo.
Di luar itu, ternyata selama ini banyak anak perusahaan Telkom mengelola bisnis yang mirip atau saling bersinggungan. Itu sebabnya, Telkom menjalankan pilar Stream Lining. Telkom akan mengonsolidasikan unit bisnis yang tumpang tindih. Juga melakukan divestasi bisnis noninti.
“Mulai kami gabungin, misalnya perusahaan A dan B ini dua-duanya parent-nya Telkom, ya sudah digabungin menjadi satu supaya lebih terstruktur dan terarah. Jumlahnya lumayan banyak. Customer di market sering bingung, nih gue mesti ngomong ke A atau B, dua-duanya dari Telkom tapi barangnya sama,” papar dia.
Dalam konteks inilah, Telkom akan terus merampingkan (downsizing) jumlah anak perusahaannya. Rencana konsolidasi ini senapas dengan permintaan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) agar jumlah anak usaha Telkom dipangkas menjadi 22 perusahaan. Perampingan anak usaha ditargetkan tuntas paling lambat pada akhir 2027.
Saat ini, anak perusahaan Telkom berjumlah sekitar 60 perusahaan. Di 49 perusahaan, Telkom berstatus sebagai pemegang saham pengendali langsung. Di 11 perusahaan lainnya, Telkom menjadi pemegang saham nonpengendali, terdiri atas enam perusahaan sebagai pemegang saham mayoritas dan lima perusahaan selaku pemegang saham minoritas.
Nah, pilar Stream Lining dijalankan Telkom sambil diselaraskan dengan pilar Unlock Value. Dengan demikian, anak-anak perusahaan Telkom yang bakal tersisa kelak hanya perusahaan-perusahaan jempolan berdaya saing tinggi. “Kalau di-unlock, rasio EBITDA kami yang tadinya empat kali, bisa melompat jadi 9-10 kali,” tegas Lolo.
Baca Juga
Begini Prospek Terbaru Tiga Saham Telko, Pilih TLKM, ISAT, atau EXCL?
Spin-off Infranexia
Karena alasan itu pula, Telkom akan memisahkan (spin-off) bisnis kabelnya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia alias Infranexia. Kelak, Infranexia tidak hanya melayani usaha Telkom, melainkan bakal berdiri sendiri. Infranexia bakal beroperasi sebagai perusahaan baru, bukan unit bisnis lagi.
Jika tak ada aral melintang, pada akhir tahun ini, separuh aset fiber Telkom Group yang totalnya bernilai Rp 150 triliun akan dipindahkan ke Infranexia. Proses transfer seluruhnya ditargetkan rampung pada pertengahan 2026.
Bagi Telkom, Infranexia amat penting. Bahkan, Telkom akan menjadikannya platform pertumbuhan strategis ke depan. Lebih tepatnya, Infranexia akan menjadi game changer kinerja bisnis Telkom di masa mendatang.
Itu karena Infranexia bakal melayani perusahaan teknologi lain, seperti internet service provider (ISP), termasuk perusahaan teknologi global, semisal Google dan Microsoft. “Makanya Infranexia masuk salah satu agenda nomor satu BOD,” ujar Lolo.
Spin-off Infranexia menjadi yang terbesar di Grup Telkom, setelah PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel. Lalu apa perbedaan Infranexia dengan Mitratel? Jika Mitratel melayani jaringan antarmenara, maka Infranexia akan melayani infrastruktur fiber ke rumah (fiber to the home/FTTH) atau konsumen akhir.
Yang jelas, untuk melipatgandakan value, Telkom punya segalanya. Emiten berstatus dual listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan New York Stock Exchange (NYSE) masing-masing dengan sandi saham TLKM dan TLK ini memiliki aset di mana-mana, termasuk kantor cabang di 15 negara.
Di langit, Telkom punya satelit. Di laut, Telkom punya kabel bawah laut. Di darat, Telkom punya fiber dan data center. Panjang fiber optik Telkom bahkan mencapai empat kali keliling bumi atau sekitar 180 ribu km. Itu belum termasuk 33 data center yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Dengan kata lain, Telkom punya modal lengkap untuk memperluas bisnis di sektor infrastruktur digital yang kini menjadi tulang punggung ekonomi digital. Namun, kekuatan itu tetap saja sulit terealisasi jika Telkom tidak membuka pintu kolaborasi.
Telkom tidak bisa melakukan semuanya sendiri, melainkan harus berkolaborasi dengan pihak lain, termasuk investor asing yang memiliki keahlian lebih tinggi, teknologi lebih canggih, dan lebih berpandangan ke depan (forward looking).
Bagaimana dengan Mode Shift? Telkom bakal melakukan transisi dari operating holding ke strategic holding guna mengoptimalkan penciptaan nilai dan return pemegang saham. “Itu artinya, kami harus pivot dari legacy telco yang tadinya cuma jualan konektivitas ke jualan something that is more sophisticated,” tegas Lolo.
Target dan Harga Saham
Berbekal empat pilar itulah, Telkom lebih realistis dalam memandang prospek kinerja bisnis dan perekonomian ke depan. Karena alasan itu pula, emiten ini memangkas proyeksi pertumbuhan pendapatan tahun ini dari low single-digit growth menjadi flat.
Telkom juga merevisi turun margin laba sebelum bunga, pajak depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) dari semula 50-52% menjadi sekitar 50%. Sejalan dengan itu, rasio capex dipertahankan di kisaran 17–19% dari pendapatan. Telkom mafhum pemulihan daya beli masyarakat berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Baca Juga
Telkom (TLKM) Luncurkan 4 Pilar Transformasi, Saatnya Berburu Sahamnya?
Telkom membukukan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 10,97 pada semester I-2025, turun 6,68% dibandingkan periode yang sama 2024. Penurunan laba terjadi seiring penurunan pendapatan sebesar 3,04% menjadi Rp 73 triliun.
Pendapatan Telkom disokong segmen telepon sebesar Rp 3,07 triliun, interkoneksi Rp 4,96 triliun, data internet dan jasa teknologi informatika Rp 44,25 triliun, jaringan Rp 1,84 triliun, IndiHome Rp 13,25 triliun, dan layanan lainnya Rp 4,14 triliun.
Pada periode tersebut, Telkom masih digelayuti sejumlah beban, seperti beban operasi, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi sebesar Rp 19,7 triliun, penyusutan dan amortisasi Rp 16,19 triliun, karyawan Rp 8 triliun, interkoneksi Rp 4,19 triliun, umum dan administrasi Rp 3,3 triliun, serta beban pemasaran Rp 1,53 triliun.
Kendati demikian, pasar ternyata memaklumi langkah-langkah bisnis Telkom. Buktinya, memasuki bulan Agustus 2025, saham TLKM terus rally meninggalkan level Rp 3.000, bahkan dalam tiga hari terakhir sudah bertengger di atas Rp 3.400, meski pada perdagangan sesi I hari ini (Jumat, 15/8/2025) kembali terpental ke level Rp 3.350 dengan market cap Rp 331,8 triliun akibat aksi ambil untung (profit taking). Saham Telkom diperdagangkan dengan price to earning ratio (PER) 14,53 kali dan earning per share (EPS) Rp 230,51 (12 bulan).
Terlepas dari sentimen “Danantara effect” yang menyengat saham-saham BUMN dalam beberapa waktu terakhir, penguatan saham TLKM tetap mencerminkan outlook fundamental yang kuat dan arah bisnis perusahaan yang lebih jelas. Tak mengherankan jika BRI Danareksa Sekuritas dan Mandiri Sekuritas kompak mempertahankan rekomendasi buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.500.
Dalam catatan Indopremier Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas dan Mandiri Sekuritas termasuk di antara 40 dari 61 perusahaan sekuritas yang merekomendasikan ‘beli’ saham TLKM. Sisanya mengambil posisi netral.
Tak bisa dimungkiri, selain langkah efisiensi, spin-off Infranexia adalah alasan kenapa BRI Danareksa Sekuritas dan Mandiri Sekuritas keukeuh bahwa saham TLKM layak beli di level Rp 3.500.
Berdasarkan hitung-hitungan analis Mandiri Sekuritas, Henry Tedja, strategi konsolidasi infrastruktur dan monetisasi aset yang digencarkan Telkom akan memperkuat fundamental bisnis digital dan mendorong pertumbuhan jangka panjang perseroan.
Baca Juga
Cum Dividen Telkom (TLKM) Hari Ini, Intip Yield dan Dividen Danantara
“Itulah salah satu alasan kami mempertahankan rekomendasi beli saham TLKM dengan target harga Rp 3.500,” tambah analis Mandiri Sekuritas, Danif Nouval Esfandiari dalam risetnya.
Dalam pandangan analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta, pemulihan kinerja Telkom pada segmen mobile bakal kejadian di paruh kedua 2025. Ini sejalan dengan strategi simplifikasi produk, penyesuaian harga kartu perdana (starterpack), dan rasionalisasi kuota bonus yang dijalankan Telkom.
“Selain itu, sentimen positif terhadap Telkom datang dari efisiensi sebagai prioritas utama dengan menjaga profitabilitas melalui pengendalian biaya operasional dan belanja modal, pendekatan alokasi capex berbasis return, serta renegosiasi kontrak-kontrak utama,” papar analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan.
Berdasarkan kalkulasi-kalkulasi tersebut, mampukah Telkom melepaskan diri dari bayang-bayang Telkomsel? Akankah proyeksi valuasi TLKM sekinclong ekspektasinya? Kita lihat saja nanti!

