Rupiah Bergerak Melemah Terhadap Dolar AS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (10/4/2026). Rupiah melemah 0,14% menjadi Rp 17.114 per US$.
Sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia juga melemah. Yen Jepang melemah 0,13% terhadap dolar AS, yuan China melemah 0,01%, India melemah 0,09%, dolar Singapura melemah 0,07% dan baht Tailan melemah 0,43%.
Sementara itu, peso Filipina dan ringgit Malaysia menguat masing-masing 0,04% dan 0,28%.
Baca Juga
Jurus Ginandjar Kartasasmita Pulihkan Rupiah saat Krisis 1998: Kepercayaan Jadi Kunci
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan investor mencermati gencatan senjata AS-Israel dan Iran selama dua pekan.
Gencatan senjata tersebut dianggap rapuh. Israel menegaskan bahwa operasi yang sedang berlangsung di Lebanon berada di luar cakupan gencatan senjata AS-Iran dan setuju untuk memasuki perundingan setelah menghadapi tuduhan melanggar kesepakatan.
Presiden AS, Donald Trump juga memperingatkan Iran terkait rencana penerapan biaya transit di Hormuz, serta mengkritik pengelolaan arus minyaknya.
Baca Juga
Indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY diperdagangkan sedikit lebih rendah, turun di bawah 99. Investor terus memantau perkembangan di Timur Tengah, di mana gencatan senjata yang baru diumumkan tampak semakin rapuh menjelang perundingan damai yang dijadwalkan pada Jumat.
Kesepakatan menunjukkan tanda-tanda ketegangan karena Israel melanjutkan konflik dengan Hizbullah di Lebanon, sementara Teheran menuduh AS melanggar kesepakatan. Selat Hormuz juga masih tetap ditutup.
Andry mengatakan inflasi PCE AS bulan Februari naik sesuai ekspektasi, sementara pertumbuhan PDB kuartal IV direvisi lebih rendah dan klaim pengangguran awal meningkat tipis.
Perhatian kini tertuju pada laporan CPI Maret yang akan dirilis hari ini untuk melihat sejauh mana konflik Timur Tengah memengaruhi harga.
Risalah rapat FOMC bulan Maret menunjukkan para pembuat kebijakan khawatir perang dapat menyebabkan inflasi yang berkelanjutan sehingga memerlukan kenaikan suku bunga lebih lanjut, meskipun mereka masih memperkirakan satu kali penurunan suku bunga tahun ini.

