AS Hancurkan Target Militer di Pulau Kharg, Trump Tidak Serang Infrastruktur Minyak Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim militer AS berhasil “menghancurkan sepenuhnya” target-target militer Iran di Kharg Island, salah satu pusat energi paling strategis Teheran. Namun Washington secara sengaja tidak menyerang fasilitas minyak di pulau tersebut.
Dalam pernyataan di platform Truth Social pada Jumat (13/3/2026), Trump mengatakan ia memerintahkan United States Central Command untuk melaksanakan operasi pengeboman besar terhadap target militer di pulau kecil yang terletak di Teluk Persia itu.
“Beberapa saat lalu, atas perintah saya, United States Central Command melaksanakan salah satu serangan pengeboman paling kuat dalam sejarah Timur Tengah dan sepenuhnya menghancurkan setiap target militer di permata mahkota Iran, Kharg Island,” tulis Trump.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa ia memutuskan untuk tidak menghancurkan infrastruktur minyak yang berada di pulau tersebut. Keputusan itu, menurutnya, diambil untuk menghindari guncangan besar pada pasar energi global.
Baca Juga
Trump juga memperingatkan bahwa keputusan tersebut bisa berubah apabila Iran mencoba mengganggu jalur pelayaran internasional di Strait of Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.
“Jika Iran atau pihak lain berupaya mengganggu kebebasan dan keamanan pelayaran di Strait of Hormuz, maka saya akan segera mempertimbangkan kembali keputusan ini,” ujar Trump.
Berbicara kepada wartawan sebelum menaiki Air Force One menuju Florida, Trump mengatakan operasi militer AS terhadap Iran akan berlangsung “selama diperlukan.” Ia juga menyatakan bahwa kampanye militer tersebut berjalan lebih cepat dari perkiraan. “Saya tidak bisa memberi jadwal pasti, tetapi kami jauh lebih maju dari jadwal,” katanya.
Pulau Kharg merupakan titik ekonomi paling sensitif bagi Iran. Terminal minyak di pulau ini menangani sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran dengan kapasitas pemuatan sekitar 7 juta barel per hari, sehingga sering disebut sebagai “urat nadi ekonomi” Teheran.
Karena itu, setiap serangan langsung terhadap fasilitas energi di pulau tersebut dinilai sangat berisiko secara geopolitik maupun ekonomi. Serangan terhadap terminal minyak Kharg berpotensi memicu lonjakan harga minyak global yang lebih tajam.
Sejumlah analis juga menilai bahwa jika Amerika Serikat ingin menguasai pulau tersebut, operasi itu hampir pasti membutuhkan pengerahan pasukan darat — sesuatu yang sejauh ini tampaknya dihindari Washington.
Di tengah eskalasi konflik, laporan media Amerika menyebut Washington sedang mempertimbangkan pengerahan tambahan kekuatan militer ke kawasan Teluk. Dua pejabat yang mengetahui rencana tersebut mengatakan AS diperkirakan akan mengirim unit marinir dan kapal perang tambahan ke Timur Tengah.
Unit yang direncanakan dikerahkan itu biasanya terdiri dari hingga 5.000 marinir dan pelaut yang ditempatkan di beberapa kapal perang amfibi dan memiliki kemampuan melakukan operasi serangan dari laut ke darat. Hingga kini Pentagon belum memberikan konfirmasi resmi atas laporan tersebut.
Baca Juga
Enam Awak Pesawat Militer AS Tewas dalam Kecelakaan di Irak, Serangan Iran Meluas ke Negara Teluk
Sementara itu, ketegangan di kawasan terus meningkat. Media Iran menayangkan rekaman pejabat pemerintah menghadiri demonstrasi di Teheran untuk memperingati Quds Day, acara tahunan yang mengekspresikan dukungan terhadap Palestina.
Di medan konflik yang lebih luas, Iran bersama Hezbollah dilaporkan melancarkan serangan gabungan terhadap Israel, sementara militer Israel membalas dengan gelombang serangan terhadap target di Lebanon serta fasilitas militer Iran.
Militer Israel juga dilaporkan menjatuhkan selebaran di atas Beirut yang menyerukan warga untuk menentang kelompok bersenjata yang didukung Iran. Sebagian warga sempat mengira selebaran tersebut merupakan awal dari serangan udara.
Meski fasilitas minyak Kharg tidak diserang, eskalasi konflik tetap mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak mentah Brent pada Jumat (13/3) kembali ditutup di atas US$100 per barel untuk hari kedua berturut-turut, dengan kenaikan lebih dari 40% sejak perang Iran dimulai.

