Trump Ancam Serangan Lebih Keras terhadap Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi serangan militer yang jauh lebih keras dalam beberapa hari ke depan. Trump mengatakan operasi militer terhadap Iran akan terus ditingkatkan setelah berbagai target strategis di negara tersebut berhasil dihancurkan.
“Iran akan terkena serangan yang sangat keras dalam minggu depan. Kami sudah merusak mereka dengan sangat parah,” kata Trump seperti dilaporkan BBC.com, Jumat (13/03/2026).
Pernyataan tersebut muncul ketika konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat di berbagai wilayah Timur Tengah.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, saat ini bersembunyi setelah terluka akibat serangan militer. Hegseth bahkan mengatakan Khamenei kemungkinan mengalami luka serius hingga cacat permanen.
Dalam pengarahan di Pentagon, Hegseth menegaskan bahwa operasi militer AS dan Israel kini berfokus pada penghancuran kemampuan rudal Iran.
“Kami menembak jatuh dan menghancurkan rudal yang masih mereka miliki, dan yang lebih penting memastikan mereka tidak lagi memiliki kemampuan untuk memproduksi rudal baru,” ujar Hegseth.
Di tengah eskalasi tersebut, media Iran menayangkan rekaman para pejabat pemerintah menghadiri demonstrasi pro-pemerintah di Teheran dalam rangka memperingati Hari Al-Quds, sebuah aksi tahunan yang menunjukkan solidaritas terhadap Palestina.
Baca Juga
AS Hancurkan Target Militer di Pulau Kharg, Trump Tidak Serang Infrastruktur Minyak Iran
Pemerintah Iran juga menyatakan telah meluncurkan serangan rudal ke Israel bersama kelompok Hezbollah di Lebanon sebagai balasan atas serangan Israel sebelumnya terhadap Teheran.
Sementara itu, militer Israel meningkatkan tekanan terhadap kelompok Hezbollah dengan menjatuhkan selebaran propaganda di sejumlah wilayah Beirut. Selebaran tersebut menyerukan agar warga Lebanon bangkit melawan kelompok bersenjata yang didukung Iran tersebut. Seorang warga bahkan mengatakan ia sempat mengira suara jatuhnya selebaran tersebut sebagai serangan udara.
Di perkembangan lain, militer Amerika Serikat memastikan seluruh enam awak pesawat tanker pengisian bahan bakar udara yang jatuh di Irak telah meninggal dunia. Washington menegaskan kecelakaan tersebut tidak disebabkan oleh serangan musuh maupun tembakan dari pihak sendiri, meskipun sebuah kelompok milisi pro-Iran mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Di tengah konflik yang semakin meluas, pemerintah AS juga mengumumkan hadiah hingga US$10 juta bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi mengenai sejumlah pemimpin penting Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Pemberitahuan dari Departemen Luar Negeri AS menyebutkan sedikitnya 10 tokoh militer Iran menjadi target pencarian, termasuk pemimpin tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei serta Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani. Washington menuduh para tokoh tersebut memimpin dan mengarahkan berbagai operasi militer IRGC.
Dengan meningkatnya serangan militer, perang informasi, serta operasi intelijen di berbagai negara kawasan, konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kini semakin menunjukkan potensi eskalasi regional yang lebih luas di Timur Tengah.
Baca Juga
Masih Buntu
Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang kini telah berlangsung hampir dua pekan memicu perdebatan serius di dalam Gedung Putih mengenai kapan dan bagaimana Washington harus mengakhiri konflik tersebut.
Laporan eksklusif Reuters mengungkapkan bahwa sejumlah faksi di lingkaran dalam Presiden Donald Trump tengah saling mempengaruhi arah pesan publik presiden terkait perang Iran. Para penasihat tersebut memperdebatkan kapan waktu yang tepat untuk menyatakan kemenangan, bahkan ketika konflik terus meluas di berbagai wilayah Timur Tengah.
Beberapa pejabat pemerintahan memperingatkan Trump bahwa lonjakan harga bensin akibat perang dapat menimbulkan biaya politik yang besar bagi pemerintahannya. Namun kelompok lain justru mendesak presiden untuk mempertahankan tekanan militer terhadap Iran.
Perdebatan internal tersebut memberikan gambaran baru mengenai dinamika pengambilan keputusan di Gedung Putih ketika Amerika Serikat menjalankan operasi militer terbesar sejak invasi Irak pada 2003.
Situasi ini juga menempatkan Trump dalam posisi yang sulit. Ia kembali menjabat sebagai presiden tahun lalu dengan janji untuk menghindari intervensi militer yang dianggap “bodoh”, tetapi kini memimpin Amerika Serikat dalam konflik yang mengguncang pasar keuangan global dan mengganggu perdagangan minyak dunia.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump mulai mengubah nada pernyataannya mengenai perang tersebut. Jika pada awal konflik ia menyampaikan tujuan militer yang luas, kini ia lebih menekankan bahwa operasi tersebut merupakan kampanye terbatas yang sebagian besar target militernya telah tercapai.
Baca Juga
Enam Awak Pesawat Militer AS Tewas dalam Kecelakaan di Irak, Serangan Iran Meluas ke Negara Teluk
Namun pesan presiden masih dinilai tidak konsisten. Dalam sebuah rapat umum bergaya kampanye di Kentucky pada Rabu, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah memenangkan perang. Namun tak lama kemudian ia menambahkan bahwa operasi militer masih perlu dilanjutkan.
“Kita sudah menang. Tapi kita tidak ingin pergi terlalu cepat, bukan? Kita harus menyelesaikan pekerjaan ini,” kata Trump.
Ketidakjelasan pesan tersebut bahkan mempengaruhi pasar energi global, yang bergerak naik turun mengikuti pernyataan presiden mengenai arah konflik.
Di balik layar, para penasihat ekonomi Trump, termasuk dari Departemen Keuangan dan Dewan Ekonomi Nasional, memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak dan bensin dapat dengan cepat menggerus dukungan domestik terhadap perang.
Para penasihat politik presiden, termasuk Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles dan wakilnya James Blair, juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Mereka mendorong Trump untuk mendefinisikan kemenangan secara lebih sempit dan memberi sinyal bahwa operasi militer tersebut terbatas dan hampir selesai.
Namun di sisi lain, kelompok yang lebih hawkish di Partai Republik mendorong presiden untuk mempertahankan tekanan militer terhadap Iran. Tokoh seperti Senator Lindsey Graham dan Tom Cotton menilai Amerika Serikat harus memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir serta memberikan respons keras terhadap serangan terhadap pasukan dan kapal Amerika.
Selain itu, Trump juga menghadapi tekanan dari basis politik populisnya sendiri. Tokoh seperti Steve Bannon dan komentator konservatif Tucker Carlson secara terbuka maupun tertutup mendesak presiden agar tidak terseret dalam konflik panjang di Timur Tengah seperti yang pernah terjadi dalam perang Irak dan Afghanistan.
Pertarungan pengaruh di sekitar presiden tersebut mencerminkan taruhan politik yang sangat besar bagi pemerintahan Trump. Keputusan mengenai apakah perang akan diperluas atau justru segera diakhiri kini menjadi salah satu isu paling menentukan dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

