Toyota Bangun Pabrik Etanol di Lampung untuk Dukung Mandatori E10 pada 2027
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Toyota Grup dipastikan akan investasi bisnis etanol di Indonesia dengan Pembangunan pabrik di Lampung untuk mendukung penerapan mandatori bensin campuran etanol (E10) pada 2027. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu, di Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Todotua mengungkapkan, Toyota telah menyiapkan teknologi bioetanol generasi kedua yang mampu mengolah ampas tebu, sorgum, hingga batang padi menjadi etanol. Konsumsi nasional gasoline mencapai 40 juta kiloliter per tahun, dan dengan E10 kebutuhan etanol diproyeksikan sekitar 4 juta ton per tahun.
Baca Juga
Toyota Siap Investasi Rp 2,5 Triliun Kembangkan Bioetanol di Indonesia
Menurutnya, keterlibatan Toyota erat kaitannya dengan dominasi kendaraan Jepang di Indonesia. “Metanol ini nanti akan dipakai untuk blending bensin, dan populasi kendaraan mobil 60–70% masih buatan Jepang. Mereka adalah pasar dan konsumen utamanya,” kata Todotua.
Pembangunan fasilitas etanol Toyota akan dimulai dari Lampung. Strategi ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor, termasuk pengalaman sebelumnya saat menerapkan B40 yang membuat impor metanol mencapai 2,4 juta.
Todotua menambahkan, hilirisasi etanol akan didukung oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara agar investasi strategis dapat dieksekusi dengan cepat. Kolaborasi Indonesia–Jepang ini disebut menjadi tonggak penting pengembangan biofuel generasi berikutnya.
Baca Juga
Bos Pertamina Buka-bukaan soal Garap Proyek Bioetanol Bareng Toyota
Toyota dan Pertamina dijadwalkan melakukan joint study dan site visit ke Lampung setelah kunjungan ke Tokyo. Targetnya, perusahaan patungan (JV) terbentuk pada awal 2026. Pemerintah juga tengah mengkaji rencana pembangunan fasilitas berkapasitas 60.000 kiloliter per tahun dengan nilai investasi sekitar Rp 2,5 triliun.
Investasi tersebut diharapkan memperkuat ketahanan energi, mendukung ekonomi hijau, serta membuka peluang ekspor bioetanol.

