Pakar Klaim Mandatori E10 dan B50 Bisa Kurangi Impor Minyak hingga 20%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) Prof. Wardana mendukung langkah pemerintah yang ingin menerapkan mandatori E10 (etanol 10%) untuk bensin dan B50 (biodiesel 50%) untuk solar pada 2026. Menurutnya, langkah ini bisa mengurangi impor minyak hingga 20%.
“Dengan menaikkan campuran biofuel, hampir semua bahan bakar minyak (BBM) yang kita impor itu untuk kendaraan. Jadi kalau kita pakai E10 atau B50, impor kita bisa turun 10-20%,” kata Prof. Wardana dalam forum diskusi bertajuk “Menakar Satu Tahun Kemandirian Energi: Janji dan Realisasi Pemerintahan Prabowo–Gibran” yang digelar di Malang, Jumat (17/10/2025).
Lebih lanjut, Prof. Wardana juga menanggapi polemik kandungan etanol di dalam bensin. Dia mengungkapkan bahwa riset penggunaan etanol sebagai campuran BBM sudah dimulai Universitas Brawijaya sejak tahun 1980-an.
Dia menyebut, saat itu pihaknya bahkan mencampur etanol sebanyak 20-30% ke dalam BBM. Sehingga, menurut dia isu campuran etanol ke dalam BBM bukanlah hal baru dan sudah teruji keamanannya sejak lama.
Baca Juga
DPR: Indonesia Butuh 1,2 Juta Ton Bioetanol dan Dorong Pembangunan 20 Pabrik Baru
“Kalau gasohol (gasoline alcohol) itu tahun 80-an, ya. Jadi waktu itu kita dapat dana besar dari BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), dari Pak Habibie. Tujuannya untuk menguji etanol 20% yang dicampur ke bensin,” jelas Prof. Wardana.
Dia pun menjelaskan, riset tersebut didasari potensi besar Indonesia dalam memproduksi etanol dari singkong. Namun, program itu tidak berlanjut karena harga bahan bakar fosil di dalam negeri terlalu murah pada masa itu. Namun saat ini harga bahan bakar relatif mahal sehingga menggiatkan kembali program biofuel menjadi relevan.
“Sekarang kondisinya berbeda. Harga bahan bakar jadi mahal, dan kita sudah impor. Nah, idenya Pak Habibie waktu itu adalah mengganti bahan bakar dengan yang bersih, karena etanol itu bahan bakar yang bersih. Tapi ya itu tadi, karena dulu harga BBM kita murah, programnya tidak jalan,” jelasnya.
Prof. Wardana juga mengungkapkan hasil riset terbaru di Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa campuran etanol dalam bahan bakar justru meningkatkan efisiensi dan kualitas pembakaran mesin. Sebab campuran etanol meningkat kadar oktan dalam BBM.
“Menurut hasil penelitian saya sekarang dengan mahasiswa S2, penambahan etanol justru meningkatkan kualitas bahan bakar. Jadi misalnya kita beli bahan bakar murah, lalu kita campur sendiri, kualitasnya bisa naik,” katanya.
Sementara itu, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Andhyka Muttaqin menilai mandatori biofuel ini merupakan wujud nyata reformasi kebijakan energi yang lebih berorientasi lingkungan dan efisiensi. Namun, dia mengingatkan pentingnya tahapan yang jelas agar kebijakan ini diterima masyarakat dan industri.
“Sebenarnya kayak kebijakan LPG 3 Kg itu kan bagus, cuma kan harusnya ada tahapan. Kalau kebijakan itu perlu ada tahapan, jadi biar masyarakat nggak kaget dan pemerintah nggak diserang,” ujar Andhyka.

