Bos Pertamina Buka-bukaan soal Garap Proyek Bioetanol Bareng Toyota
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Direktut Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri buka suara soal rencana kerja sama anak usahanya Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) untuk mengembangkan bioetanol bersama PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).
Simon tidak memungkiri bahwa kedua perusahaan sedang dalam tahap penjajakan dan melakukan kajian bersama para pemangku kepentingan (stakeholder) sebelum mengeksekusi proyek tersebut.
“Semua penjajakan kita gali terus, kita dalami terus. Yang pasti semangat kolaborasi harus terus kita tingkatkan,” kata Simon saat ditemui di Sekretariat Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Baca Juga
Toyota Siap Investasi Rp 2,5 Triliun Kembangkan Bioetanol di Indonesia
Toyota berencana menggandeng Pertamina NRE untuk membangun fasilitas produksi bioetanol di Lampung dengan kapasitas 60.000 kiloliter per tahun dan nilai investasi awal Rp 2,5 triliun.
Proyek ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju kebijakan E10 (BBM dengan campuran etanol 10%), dengan target pembentukan perusahaan patungan (joint venture) pada awal 2026.
Menurut Simon, kolaborasi dengan Toyota ini akan menjadi langkah bagus dalam upaya transisi energi di Indonesia. Terlebih, Toyota sendiri sudah memiliki produk kendaraan yang support untuk menggunakan 100% etanol (B100).
“Nah, kalau dalam hal ini dengan Toyota kita memang lihat di beberapa ajang pameran mobil, itu kan bahkan sudah sampai waktu itu E100 kan, pakai flexifuel kendaraannya itu ya. Jadi tentunya kita melihat semua kesiapan infrastruktur, regulasi, dan tentunya semua keputusan yang kita ambil sudah melalui kajian yang panjang dan mendapat dukungan dari semua pihak,” ujarnya.
Baca Juga
Bantah Tudingan Kandungan Etanol di Bensin Tidak Bagus, Bahlil: India-Amerika Sudah Pakai
Lebih lanjut, Simon menegaskan bahwa Pertamina pun siap mengimplementasikan mandatori E10 yang dicanangkan pemerintah berlaku pada 2027 mendatang. Pertamina akan menyiapkan infrastruktur pendukung dan teknologi pelaksanaan program tersebut.
“Yang terpenting adalah penyiapan infrastruktur, begitu juga dari kita sisi teknologi kita dorong, begitu juga untuk industri dari otomotif tentunya akan menyesuaikan nih. Jadi sambil berjalan lah, semua kan kebijakan ini yang menyangkut masyarakat banyak, tentunya harus sama-sama kita kaji dan tentunya kita dorong, karena manfaatnya akan sangat baik bagi masyarakat,” kata Simon.

