Ancaman Tarif AS Batasi Kenaikan Harga Minyak
CHICAGO, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia naik tipis pada Kamis (30/1/2025) atau Jumat (31/1/2025) WIB tertahan ancaman tarif AS atas impor minyak mentah Kanada dan Meksiko yang dapat berlaku akhir pekan ini.
Harga minyak Brent acuan global berakhir naik 29 sen atau 0,4% menjadi US$ 76,87 per barel. Sementara harga minyak mentah acuan AS naik 11 sen (0,2%) mencapai US$ 72,73 per barel, lebih tinggi dari Rabu (29/1/2025), saat harga minyak mentah berada pada level terendah tahun ini.
“Kita semakin dekat dengan batas waktu (tarif impor) dan orang-orang mulai gelisah,” kata analis Price Futures Group, Phil Flynn dilansir CNBC.
Baca Juga
Harga Minyak AS ke Level Terendah Tahun Ini karena Persediaan Meningkat
Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 25% paling cepat Sabtu (1/2/2025) terhadap ekspor Kanada dan Meksiko ke AS jika kedua negara tersebut tidak menghentikan pengiriman fentanil.
Gedung Putih pada Selasa (28/1/2205) menegaskan kembali rencana Trump mengenakan tarif. Kedua negara dapat menghindari tarif jika bertindak cepat menutup perbatasan mereka.
Namun, analis IG Tony Sycamore mengatakan, para trader sudah memperhitungkan tarif Trump. ”(ini) adalah alasan utama mengapa minyak mentah diperdagangkan di level saat ini,” kata dia.
Sementara badai musim dingin menghantam permintaan AS minggu lalu. Stok minyak mentah di AS meningkat 3,5 juta barel karena penyulingan minyak memangkas produksi. Analis memperkirakan, kenaikan sebesar 3,2 juta barel, menurut jajak pendapat Reuters.
Di sisi pasokan, sanksi terbaru AS terhadap Moskow menekan ekspor minyak mentah dari pelabuhan barat Rusia, yang diperkirakan turun 8% pada Februari dari rencana Januari karena Moskow meningkatkan penyulingan.
Baca Juga
OPEC Tidak Mungkin Menyerah pada Tekanan Trump yang Ingin Harga Minyak Murah
Investor juga menantikan pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, atau OPEC+, yang dijadwalkan pada 3 Februari. Kelompok tersebut akan membahas upaya Trump meningkatkan produksi minyak AS dan mengambil sikap bersama mengenai masalah tersebut.
Trump meminta OPEC dan anggota utamanya, Arab Saudi, menurunkan harga minyak, untuk mengakhiri konflik di Ukraina. Ia juga telah menetapkan agenda untuk memaksimalkan produksi minyak dan gas di AS, yang sudah menjadi produsen terbesar di dunia dan mencapai rekor tertinggi.
Namun, analis percaya perang harga antara AS dan OPEC+ tidak mungkin terjadi karena dapat merugikan keduanya. “Perang harga dengan AS akan melibatkan produsen OPEC+ yang memaksimalkan produksi mereka untuk melemahkan harga dan mendorong penurunan produksi serpih,” kata analis di BMI divisi Fitch Group, dalam sebuah catatan.

