Harga Minyak AS ke Level Terendah Tahun Ini karena Persediaan Meningkat
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia turun pada Rabu (30/1/2025) atau Kamis (30/1/2025) pagi WIB dengan patokan AS ke level terendah tahun ini. Pemicunya adalah persediaan minyak AS sebagai negara dengan produsen dan konsumen minyak terbesar dunia, naik dari yang diperkirakan.
Harga minyak mentah Brent, acuan global ditutup turun 91 sen atau 1,2% pada US$ 76,58 per barel dan harga minyak mentah AS turun US$ 1,15 atau 1,6%, menjadi US$ 72,62, penutupan terendah sepanjang tahun ini.
Baca Juga
OPEC Tidak Mungkin Menyerah pada Tekanan Trump yang Ingin Harga Minyak Murah
Data Badan Informasi Energi menunjukkan, persediaan minyak mentah di AS naik sebesar 3,46 juta barel minggu lalu karena asupan penyulingan merosot untuk minggu ketiga berturut-turut, Analis yang disurvei Reuters memperkirakan peningkatan 3,19 juta barel.
Gedung Putih pada Selasa (28/1/2025) menegaskan kembali rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif impor 25% dari Kanada dan Meksiko mulai 1 Februari.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan, perdagangan minyak dalam jangka pendek diperkirakan tidak menentu karena investor mencerna ancaman tarif, sanksi aliran energi Rusia, dan kekhawatiran pertumbuhan ekonomi di negara-negara konsumen Utama. “Mengingat banyaknya ketidakpastian, kami rasa pendekatan yang bijaksana masih diperlukan,” tulis Staunovo dilansir CNBC.
Namun, dia memperkirakan, harga minyak akan tetap stabil pada level saat ini, meski sentimen Trump kemungkinan akan mendorong volatilitas dalam waktu dekat.
Sementara Federal Reserve AS (The Fed) mempertahankan suku bunga tetap pada Rabu. The Fed tidak banyak memberi informasi kapan akan menurunkan biaya pinjaman, yang dapat meningkatkan aktivitas ekonomi dan permintaan minyak.
Baca Juga
Investor juga menantikan pertemuan menteri OPEC+ yang dijadwalkan pada 3 Februari, dengan fokus meningkatkan pasokan mulai April.
Trump minggu lalu meminta OPEC+ menurunkan harga minyak. Kelompok tersebut belum memberikan tanggapan, tetapi para delegasi mengatakan, perubahan kebijakan tidak mungkin terjadi pada pertemuan Februari.
Kekhawatiran pasokan minyak mereda setelah perusahaan minyak nasional Libya pada Selasa mengatakan bahwa aktivitas ekspor berjalan normal setelah mengadakan pembicaraan dengan pengunjuk rasa yang menuntut penghentian muatan di salah satu pelabuhan minyak utama negara itu.

