Prospek Permintaan Melemah, Harga Minyak Dekati Level Terendah 3 Tahun Lalu
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak mentah berjangka Brent turun US$ 2,65 (3,69%) ke level US$ 69,19 per barel pada Selasa, (11/9/2024). Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun US$ 2,96 (4,31%) menjadi US$ 65,75 per barel.
Penurunan ini menandakan level terendahnya sejak Desember 2021, sedangkan WTI turun lebih dari 5% pada hari Selasa mencapai level terendah sejak Mei 2023. Hal ini dipicu OPEC+ yang merevisi perkiraan permintaannya untuk tahun ini dan 2025, terlebih kekhawatiran pasokan dari Badai Tropis Francine.
Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam laporan bulanan mengatakan, permintaan minyak dunia akan meningkat sebesar 2,03 juta barel per hari (bpd) pada tahun 2024, melemah dari perkiraan bulan lalu untuk pertumbuhan 2,11 juta barel per hari.
Hingga bulan lalu, OPEC telah mempertahankan perkiraan yang tidak berubah sejak pertama kali dibuat pada Juli 2023.
Baca Juga
Pemulihan Pasar Otomotif Berlanjut, Begini Prospek Saham ASII, DRMA, hingga MPMX
Tak hanya itu, OPEC juga memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan global 2025 menjadi 1,74 juta barel per hari dari 1,78 juta barel per hari. Dengan hal ini, harga merosot karena prospek permintaan global yang melemah dan ekspektasi kelebihan pasokan minyak.
Secara terpisah, Administrasi Informasi Energi (EIA) Amerika Serikat (AS) pada hari Selasa memaparkan, permintaan minyak global akan tumbuh ke rekor yang lebih besar tahun ini, sementara pertumbuhan output akan lebih kecil dari perkiraan sebelumnya.
“Permintaan minyak global diperkirakan rata-rata sekitar 103,1 juta barel per hari tahun ini, sekitar 200.000 barel per hari lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 102,9 juta barel per hari,” kata EIA dikutip dari Reuters, Selasa (11/9/2024).
Dengan demikian, harga minyak tetap tertekan setelah rilis perkiraan karena kekhawatiran China yang terus membebani harga.
Baca Juga
Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Trading 11 September 2024
Pasalnya, data yang dirilis pada hari Selasa menunjukkan ekspor China tumbuh pada bulan Agustus dengan pertumbuhan tercepat dalam hampir satu tahun, tetapi pasar impor kurang menggembirakan dengan permintaan domestik yang tertekan.
Sementara itu, margin kilang Asia turun ke tingkat musiman terendah sejak 2020 minggu lalu karena meningkatnya pasokan solar dan bensin.
“Hampir tidak ada pertumbuhan permintaan minyak di negara maju tahun ini. Stimulus fiskal di China belum meningkatkan sektor konstruksi, itulah salah satu alasan besar permintaan diesel China menyusut,” kata ahli strategi pasar minyak, Clay Seigle.

