Anjlok 6%, Harga Minyak Capai Level Terendah dalam Lebih dari Tiga Tahun
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak AS anjlok ke level terendah sejak 2021, sebagian dipicu oleh kekhawatiran bahwa tarif besar-besaran yang diumumkan oleh Presiden Donald Trump akan merugikan pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga
IMF: Kebijakan Tarif Trump Berisiko Signifikan pada Prospek Ekonomi Global
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun lebih dari 6% pada hari Jumat (04/04/2025), membawa harga minyak ke $62,72 per barel. Pada satu titik, harga sempat turun di bawah level $61. Penurunan terbaru ini terjadi setelah penurunan 6,6% pada hari Kamis.
Penurunan cepat harga minyak ini terjadi karena dinamika penawaran-permintaan di pasar energi terpukul dari kedua sisi.
Tarif yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pekan ini telah meningkatkan kemungkinan terjadinya resesi global, menurut para ekonom di Wall Street.
Prospek ekonomi merupakan faktor kunci bagi harga minyak, karena baik konsumen yang mengisi bahan bakar kendaraan maupun produsen bahan kimia yang menggunakan energi sebagai bahan baku dalam produksi akan meningkatkan permintaan terhadap minyak mentah.
“Walaupun saat ini sulit untuk memprediksi arah perkembangan secara keseluruhan, kami percaya bahwa untuk harga minyak, trajektorinya jelas hanya satu arah,” kata Natasha Kaneva, kepala riset komoditas global di JPMorgan, dalam catatan kepada klien, seperti dikutip CNBC.
Di saat prospek ekonomi melemah, proyeksi pasokan minyak global justru melonjak.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok ke Wilayah Negatif Setelah Pengumuman Tarif Trump
Pada hari Kamis, delapan negara anggota OPEC+ sepakat untuk menaikkan produksi gabungan harian minyak mentah mereka sebesar 411.000 barel per hari. Kenaikan produksi ini lebih besar dan lebih cepat daripada yang diperkirakan pasar.
Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets, mengatakan kepada CNBC hari Kamis bahwa keputusan ini berasal dari ketidaksepakatan internal di antara anggota OPEC+.
“Negara-negara yang mendorong keputusan ini ingin menunjukkan mereka tidak butuh harga setinggi ($90). Mereka siap untuk bertahan dengan harga yang lebih rendah untuk sementara waktu,’” kata Croft.
Sikap kebijakan AS terhadap Iran dan Venezuela — keduanya produsen minyak utama — bisa menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan terkait harga energi ke depan, tambah Croft.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak Gegara Trump Ancam Tarif 25% Pembeli Migas Venezuela
Namun demikian, harga minyak yang lebih rendah bisa membantu mengimbangi kenaikan harga barang-barang lain yang disebabkan oleh perang dagang global. Pemerintahan Trump telah mengedepankan produksi energi yang lebih tinggi dan harga yang lebih rendah sebagai cara untuk melawan inflasi yang membandel, yang tetap berada di atas target 2% dari Federal Reserve.

