Mitratel (MTEL): Hanya Perlu 9 BTS Terbang untuk Layani Seluruh Jawa
JAKARTA, investortrust.id - Biaya yang dikeluarkan untuk menyediakan layanan seluler menggunakan Wahana dirgantara super atau high-altitude platform station (HAPS) diklaim jauh lebih efisien, dibandingkan dengan pembangunan menara stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS).
HAPS merupakan pesawat nirawak yang terbang di ketinggian 20-50 km di atas permukaan bumi dan menggendong antena telekomunikasi serta perangkat pendukungnya. Dengan kata lain, HAPS adalah BTS yang diterbangkan untuk menyediakan layanan seluler ke pengguna di sekitarnya.
Executive General Manager Asset Management PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel Erwin Jaya Diwangsa, area cakupan HAPS mencapai 200 km2 atau berkali-kali lipat lebih luas, dibandingkan dengan menara BTS. Satu unit menara BTS hanya mampu melayani pengguna yang berada di radius 10 km2 di sekitarnya.
Baca Juga
Investasi di IKN dan Antenna Sharing Jadi Katalis Positif Mitratel (MTEL)
"Secara teori, Pulau Jawa hanya butuh sembilan unit HAPS untuk memberikan layanan (seluler) ke pengguna," katanya ketika ditemui di sela-sela The 6th Indonesia Internet Expo & Summit (IIXS) di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta Utara, Rabu (14/8/2024).
Selain itu, dia mengatakan, biaya yang dikeluarkan untuk menerbangkan satu unit HAPS juga jauh lebih murah, dibandingkan dengan membangun banyak menara BTS. Investasi untuk menggunakan HAPS sekitar US$ 6,5 juta atau sekitar Rp 102,04 miliar (kurs Rp 15.699/US$).
Sementara itu biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun satu unit BTS bisa mencapai Rp 1 miliar. Tentunya, biaya pembangunan di wilayah terpencil atau dengan kondisi geografis tertentu jauh lebih mahal lantaran biaya logistik lebih tinggi.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Incar Rasio Pengguna Menara 1,56 Kali, Kinerja Tumbuh 8% Tahun 2024
"Tinggal dikalikan saja satu unit HAPS ini bisa mencakup wilayah dari berapa BTS, dari sana bisa dilihat bagaimana efisiensinya," ujar Erwin.
Walaupun demikian, bukan berarti kehadiran HAPS menjadi akhir dari peran menara BTS. Karena bagaimanapun juga menara BTS masih unggul dari sisi kapasitas dan kemampuannya menjangkau pelanggan di wilayah dengan kepadatan bangunan tinggi.
"HAPS ini untuk cover (melayani) daerah-daerah yang sifatnya lebar dan sebaran populasinya enggak ngumpul di satu titik. HAPS itu bukan solusi semua hal. Di kota ada bangunan belum bisa menembus," ungkapnya.
Selain itu, jeda koneksi atau latensi yang masih lebih tinggi dibandingkan dengan menara BTS juga menjadi kelemahan dari HAPS. Latensi HAPS berada di kisaran 5-10 milidetik, sementara menara BTS latensinya tak lebih dari 5 milidetik.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Gandeng AALTO Kembangkan HAPS Tenaga Surya untuk Daerah 3T
Perlu diketahui, Mitratel telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan AALTO HAPS Ltd yang tak lain adalah produsen sekaligus operator platform HAPS Zephyr untuk pengembangan HAPS di Tanah Air.
Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama mengatakan pihaknya menargetkan akan mulai mengoperasikan HAPS mulai 2026. Penggunaan HAPS diharapkan dapat memperluas cakupan operator seluler dan mengurangi wilayah yang tidak tersentuh oleh jaringan seluler (blank spot).
"Kita targetkan di tahun 2025 itu sudah bisa selesai (proses riset dan pengembangannya) commercially ready (siap untuk beroperasi komersial) di tahun 2026,” katanya dalam acara Media Gathering Mitratel 2024 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), beberapa waktu lalu.

