XL Axiata (EXCL) Minat Pakai 'BTS Terbang' Milik Mitratel (MTEL), Asalkan…
JAKARTA, investortrust.id - PT XL Axiata Tbk (EXCL) menyambut baik teknologi wahana dirgantara super atau high-altitude platform station (HAPS) yang bakal hadir di Indonesia. Namun, operator seluler tersebut masih mempertimbangkan beberapa hal untuk menggunakannya secara masif.
HAPS merupakan pesawat nirawak yang berfungsi selayaknya stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS) di permukaan tanah. Penggunaan teknologi tersebut diharapkan bisa mengatasi persoalan jaringan telekomunikasi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Group Head Corporate Communications & Sustainability XL Axiata Reza Mirza mengatakan, pihaknya melihat HAPS sebagai solusi inovatif untuk memperluas jangkauan jaringan dan mengatasi kesenjangan digital. Namun, ada beberapa tantangan teknis yang harus diperhatikan sebelum melakukan adopsi teknologi ini.
“Seperti daya tahan dan sumber energi, biaya pengembangan dan operasional serta regulasi penerbangan dan spektrum,” katanya kepada Investortrust pada Kamis (8/8/2024).
Baca Juga
BTS Terbang Mitratel (MTEL) Bisa Saingi Starlink? Begini Faktanya
Reza mengatakan pihaknya akan mengadopsi teknologi apabila semua tantangan teknis sudah tersolusikan dengan baik. Demikian halnya dengan biaya modal maupun operasional yang juga ikut menjadi pertimbangan perusahaan.
“TCO (total cost ownership) yang kompetitif dibandingkan dengan teknologi NTN (non terrestrial network) yang ada saat ini seperti LEO satelit,” ujarnya.
Seperti diketahui, HAPS akan dibawa ke Indonesia oleh PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel menggandeng AALTO HAPS Ltd. yang memproduksi dan mengoperasikan platform HAPS Zephyr.
Anak usaha dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) itu menargetkan HAPS sudah bisa beroperasi secara komersial pada 2026 mendatang
"Kita targetkan di tahun 2025 itu sudah bisa selesai (proses riset dan pengembangannya) commercially ready (siap untuk beroperasi komersial) di tahun 2026,” kata Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama dalam acara Media Gathering Mitratel 2024 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (5/8/2024).
Baca Juga
Hendra menjelaskan HAPS yang dikembangkan oleh Mitratel dengan AALTO akan menggunakan nama Flying Tower System (FTS). FTS akan diam di lapisan stratosfer dengan ketinggian 20-50 km di atas permukaan bumi untuk memancarkan sinyal seluler langsung ke pengguna ponsel dari operator penyewa atau tenant.
Menurut Hendra, teknologi tersebut jauh lebih unggul dibandingkan dengan satelit orbit bumi rendah atau low earth orbit (LEO) seperti halnya Starlink. Sebab, jeda koneksi atau latensinya masih jauh lebih baik dibandingkan dengan satelit yang juga digadang-gadang sebagai solusi telekomunikasi di wilayah 3T itu.
“Latensinya HAPS itu antara 5-10 milidetik. Jauh lebih baik dari teknologi (satelit) LEO yang ada saat ini, contiohnya Starlink yang (latensinya) ada di 50-an milidetik,” ungkapnya.
Tidak hanya unggul dari latensinya yang lebih rendah, HAPS juga diklaim jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan satelit LEO dari segi biaya investasi dan operasional. Untuk menerbangkan HAPS, hanya diperlukan landasan dengan panjang setidaknya 100 meter, alih-alih roket peluncur seperti satelit LEO.
“Kemudian untuk base (pusat kendali) cukup satu di Indonesia, bisa untuk menjangkau regional, (seperti) Malaysia, Singapura, dan Filipina. Kebayang kan dari sisi capex (capital expenditure atau biaya modal) dan opex (operational expenditure atau biaya operasional) jauh lebih efisien. Tidak perlu astronot untuk mengendalikan,” paparnya.

