BTS Terbang Mitratel (MTEL) Bisa Saingi Starlink? Begini Faktanya
JAKARTA, investortrust.id - Teknologi wahana dirgantara super atau high-altitude platform station (HAPS) yang diklaim sebagai penantang satelit orbit rendah atau low earth orbit (LEO) dalam memberikan layanan telekomunikasi masih perlu pembuktian.
HAPS merupakan pesawat nirawak yang berfungsi selayaknya stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS) di permukaan tanah. Penggunaan teknologi tersebut diharapkan bisa mengatasi persoalan jaringan telekomunikasi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Executive Director Indonesia Information and Communications Technology (ICT) Institute Heru Sutadi mengatakan HAPS merupakan teknologi baru yang belum teruji kemampuannya. Belum ada operator seluler di dunia yang sudah menggunakan teknologi tersebut untuk menggelar layanannya.
“Kalau dari teori kan bisa tahu ini (HAPS) bisa menggantikan BTS atau jadi BTS terbang. Tetapi kan bagaimana kapasitasnya, berapa lama di atas langit, dan metode untuk membawanya ke langit perlu diuji coba,” katanya ketika dihubungi oleh Investortrust pada Kamis (8/8/2024).
Baca Juga
Saat ini, diketahui operator seluler yang menjajaki penggunaan HAPS untuk menggelar layanannya adalah NTT Docomo dan Softbank Corp. Hingga saat ini, dua operator seluler asal Jepang itu belum mengumumkan bagaimana perkembangan atau kelanjutan dari uji coba HAPS yang mereka lakukan.
Lebih lanjut, Heru menyebut penggunaan HAPS juga menyisakan pekerjaan rumah yang cukup besar dari sisi regulasi. Penggunaan teknologi tersebut perlu diatur secara khusus karena berpotensi mengganggu lalu lintas penerbangan dan menimbulkan interferensi atau gangguan frekuensi.
“Makanya itu juga jadi catatan. Jangan sampai ada gangguan pada jalur penerbangan. Kemudian kan perlu dipastikan ini di frekuensi mana. Kalau alokasinya merupakan alokasi frekuensi seluler, ya harus kerja sama dengan operator seluler,” tegasnya.
Terkait dengan kemampuan untuk mengalahkan operator satelit LEO dengan layanan telekomunikasinya seperti Starlink, Heru menilai HAPS belum sampai pada kemampuan tersebut. Belum bisa dipastikan apakah HAPS akan menghadirkan perubahan besar layaknya operator satelit LEO milik Elon Musk itu.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Incar Rasio Pengguna Menara 1,56 Kali, Kinerja Tumbuh 8% Tahun 2024
“Starlink ini diakui atau tidak merupakan game changer (mengubah persaingan di industri). Apalagi kalau dapat karpet merah, maka persaingan penyedia internet broadband (pita lebar) akan asimetris,” ujarnya.
World Radio Communication Conference (WRC) pada akhir tahun lalu sudah menyatakan bahwa HAPS dapat beroperasi di Indonesia dengan menggunakan empat frekuensi di pita 900 MHz, 1800 MHz, 2,1 GHz dan 2,6 GHz. Keempat frekuensi tersebut memiliki ekosistem 4G matang di Indonesia.
Diboyong Anak Usaha Telkom ke Indonesia
Di Indonesia, HAPS akan dibawa oleh PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel menggandeng AALTO HAPS Ltd. yang memproduksi dan mengoperasikan platform HAPS Zephyr. Anak usaha dari PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) itu menargetkan HAPS sudah bisa beroperasi secara komersial pada 2026 mendatang
Sebagai catatan, Mitratel telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan anak usaha dari raksasa dirgantara asal Prancis, Airbus SE itu beberapa waktu lalu untuk pengembangan HAPS di Indonesia.
"Kita targetkan di tahun 2025 itu sudah bisa selesai (proses riset dan pengembangannya) commercially ready (siap untuk beroperasi komersial) di tahun 2026,” kata Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama dalam acara Media Gathering Mitratel 2024 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (5/8/2024).
Hendra menjelaskan HAPS yang dikembangkan oleh Mitratel dengan AALTO akan menggunakan nama Flying Tower System (FTS). FTS akan diam di lapisan stratosfer dengan ketinggian 20-50 km di atas permukaan bumi untuk memancarkan sinyal seluler langsung ke pengguna ponsel dari operator penyewa atau tenant.

