Mitratel (MTEL) Targetkan BTS Terbang Bakal Beroperasi Mulai 2026
LABUAN BAJO, investortrust.id - PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel menargetkan wahana dirgantara super atau high-altitude platform station (HAPS) sudah bisa beroperasi secara komersial pada 2026 mendatang.
HAPS merupakan pesawat nirawak yang berfungsi selayaknya stasiun pemancar atau base transceiver station (BTS) di permukaan tanah. Penggunaan teknologi tersebut diharapkan bisa mengatasi persoalan jaringan telekomunikasi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama mengatakan teknologi tersebur masih dalam tahapan riset dan pengembangan. Tahapan tersebut dilakukan dengan menggandeng AALTO HAPS Ltd yang tak lain adalah produsen sekaligus operator platform HAPS Zephyr.
Sebagai catatan, Mitratel diketahui telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan anak usaha dari raksasa dirgantara asal Prancis, Airbus SE, untuk pengembangan HAPS di Tanah Air.
Baca Juga
Jajaki BTS Terbang, Begini Dampaknya bagi Prospek Keuangan dan Saham Mitratel (MTEL)
"Kita targetkan di tahun 2025 itu sudah bisa selesai (proses riset dan pengembangannya) commercially ready (siap untuk beroperasi komersial) di tahun 2026,” katanya dalam acara Media Gathering Mitratel 2024 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (5/8/2024).
Hendra menjelaskan HAPS yang dikembangkan oleh Mitratel dengan AALTO akan menggunakan nama Flying Tower System (FTS). FTS akan diam di lapisan stratosfer dengan ketinggian 20-50 km di atas permukaan bumi untuk memancarkan sinyal seluler langsung ke pengguna ponsel dari operator penyewa atau tenant.
Menurut Hendra, teknologi tersebut jauh lebih unggul dibandingkan dengan satelit orbit bumi rendah atau low earth orbit (LEO) seperti halnya Starlink. Sebab, jeda koneksi atau latensinya masih jauh lebih baik dibandingkan dengan satelit yang juga digadang-gadang sebagai solusi telekomunikasi di wilayah 3T itu.
“Latensinya HAPS itu antara 5-10 milidetik. Jauh lebih baik dari teknologi (satelit) LEO yang ada saat ini, contiohnya Starlink yang (latensinya) ada di 50-an milidetik,” ungkapnya.
Tidak hanya unggul dari latensinya yang lebih rendah, HAPS juga diklaim jauh lebih kompetitif dibandingkan dengan satelit LEO dari segi biaya investasi dan operasional. Untuk menerbangkan HAPS, hanya diperlukan landasan dengan panjang setidaknya 100 meter, alih-alih roket peluncur seperti satelit LEO.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Gandeng AALTO Kembangkan HAPS Tenaga Surya untuk Daerah 3T
“Kemudian untuk base (pusat kendali) cukup satu di Indonesia, bisa untuk menjangkau regional, (seperti) Malaysia, Singapura, dan Filipina. Kebayang kan dari sisi capex (capital expenditure atau biaya modal) dan opex (operational expenditure atau biaya operasional) jauh lebih efisien. Tidak perlu astronot untuk mengendalikan,” paparnya.
Hendra menambahkan HAPS akan beroperasi menggunakan tenaga matahari dengan kemampuan bertahan di stratosfer hingga dua bulan sebelum turun ke permukaan bumi untuk melakukan pemeliharaan. Bobot HAPS meliputi unit pesawat nirawak lengkap dengan baterai dan perangkat pemancar sinyal tak lebih dari 100 kg.
HAPS tidak hanya bisa berfungsi sebagai stasiun pemancar sinyal seluler. Teknologi tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan pemetaan wilayah, penggunaan internet untuk segala atau internet of things (IoT) hingga mendukung sistem mitigasi bencana.
Sebelumnya, Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko, kerja sama dengan AALTO akan memperluas cakupan operator seluler dan mengurangi wilayah yang tidak tersentuh oleh jaringan seluler (blank spot). Kerja sama tersebut juga menjadi upaya perusahaan untuk mendukung rencana pemerintah memberikan akses yang merata terhadap telekomunikasi berkualitas tinggi bagi seluruh masyarakat.
"Akses internet dapat meningkatkan kualitas hidup sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Oleh karena itu, kami merintis berbagai inisiatif dan mengadopsi teknologi baru yang memungkinkan Mitratel untuk memperluas jaringannya secara efektif," katanya melalui keterangan resmi Mitratel pada Kamis (1/8/2024) lalu.
Pria yang akrab disapa Teddy itu mengatakan kerja sama dengan AALTO akan memperluas infrastruktur yang ada untuk meningkatkan akses terhadap konektivitas yang terjangkau dan efektif di seluruh wilayah.

