Investasi di IKN dan Antenna Sharing Jadi Katalis Positif Mitratel (MTEL)
JAKARTA, investortrust.id – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel menunjukkan pertumbuhan yang tangguh didukung sejumlah keunggulan di tengah konsolidasi perusahaan telekomunikasi. Ketangguhan juga didukung solusi perseroan untuk menekan biaya penyewaan Menara telekomunikasi bagi operator jaringan selular (MNO).
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Rabu (14/8/2024), menyebutkan pertumbuhan pendapatan MItratel diprediksi mencapai 7% tahun ini, meskipun MNO tengah konsolidasi. Pertumbuhan tersebut juga didukung besarnya kepemilikan Menara telekomunikasi di luar Jawa yang mencapai lebih dari 20 ribu situs.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis mengatakan, konsolidasi operator telekomunikasi justru membuat potensi pengembangan luar Jawa makin agresif. Hal ini tentu akan berimbas positif terhadap Mitratel sebagai perusahaan menara telekomunikasi yang lebih dulu hadir di luar Jawa dan mendominasi kepemilikan.
Baca Juga
Begini Cara Mitratel (MTEL) Tekan Biaya Operator Seluler di IKN Nusantara
“Rencana merger terbaru datang dari XL dan Smartfren justru menguntungkan Mitratel. Sebab, perusahaan hasil merger tersebut kemungkinan akan diikuti dengan ekspansi besar-besaran di luar pulau Jawa. Mitratel tentu akan menjadi perusahaan yang paling diuntungkan, dibandingkan perusahaan Menara telekomunikasi lainnya,” tulis Niko dalam riset tersebut.
Estimasi Kinerja Keuangan MTEL
Mitratel (MTEL) juga telah menerima pesanan pembangunan sebanyak 82 menara telekomunikasi I Ibu Kota Nusantara (IKN), seiring dengan tren Pembangunan wilayah tersebut. Di sana, perseroan menawarkan solusi berbagi antenna (antenna sharing), yaitu satu menara pemancar atau base transceiver station (BTS) bisa digunakan oleh banyak operator, sehingga operator bisa menekan belanja modal saat perluasan jaringan.
Hingga menjelang pelaksanaan upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-79 di IKN, Mitratel telah menyiapkan 19 menara yang bentuknya disesuaikan dengan semangat IKN sebagai kota modern, futuristik tapi tetap mengadopsi kearifan lokal. Sejauh ini, baru MTEL yang beroperasi di kawasan tersebut.
Baca Juga
Begini Kelanjutan Rencana Akuisisi Fiber Optik Indosat (ISAT) oleh Mitratel (MTEL)
Berdasarkan laporan McKinsey, operator bisa menghemat biaya berkisar 30%-40% dengan menerapkan antenna sharing. Keunggulan tersebut memungkinkan operator telekomunikasi bisa lebih agresif memasuki daerah terpencil.
Selain faktor tersebut, dia mengatakan, rencana perseroan menggunakan BTS terbang melalui HAPS bisa mendatangkan sumber pertumbuhan pendapatan baru bagi Mitratel. “Menurut padangan kami, strategi antenna sharing dan pennggunaan HAPS bisa menghasilkan pertumbuhan 10-20% pelanggan perseroan ke depan,” tulisnya.
Selain factor tersebut, dia mengatakan, Mitratel (MTEL) akan tedorong peluang penurunan tingkat suku bunga dan pemangkasan total utang. Dengan posisi rasio utang turun, perseroan memiliki kesempatan lebih besar untuk menciptakan pertumbuhan non organic.
Didukung sejumlah keunggulan perseroan mendorong BRI Danareks Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham MTEL dengan target harga Rp 960. Target tersebut mempertimbangkan outlook kinerja keuangan lebih pesat ke depan dan penguatan valuasi menjelang pemangkasan tingkat suku bunga.
Baca Juga
Target harga tersebut juga mempertimbangkan potensi kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 2,14 triliun tahun ini, dibandingkan realisasi periode sama tahun lalu Rp 2,01 triliun. Sedangkan pendapatan perseroan diharapkan meningkat dari Rp 8,59 triliun menjadi Rp 9,24 triliun.
Target ini juga mempertimbangkan perkiraan rasio tenansi perseroan meningkat 1,58 kali tahun ini, dibandingkan realiassi tahun lalu 1,51 kali. Sedangkan total tenasi perseroan diharapkan meningkat menjadi 60,909, dibandingkan tahun lalu sebanyak 57.409.
Grafik Saham MTEL

