Merger XL Axiata (EXCL) dan Smartfren (FREN) Berkah Buat Mitratel (MTEL), Kok Bisa?
LABUAN BAJO, investortrust.id - Penggabungan usaha atau merger operator seluler PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) bakal berdampak positif terhadap pelaku industri menara telekomunikasi di Tanah Air, tak terkecuali PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL).
Menurut Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko, entitas hasil penggabungan XL Axiata dan Smartfren kemungkinan akan masif berekspansi untuk memperluas wilayah cakupan layanannya. Ekspansi tersebut dilakukan untuk mengoptimalkan spektrum frekuensi gabungan keduanya.
Sebagai catatan, XL Axiata mengoperasikan 45x2 MHz, dengan spektrum frekuensi 1,9 GHz dan 2,1 GHz lSementara itu, Smartfren hanya mengoperasikan 11x2 MHz di spektrum frekuensi 800 MHz dan 40 MHz di pita 2,3 GHz.
“Sisi positifnya XL Axiata dan Smartfren memiliki kekuatan tambahan di spektrum yang dimiliki. Konsolidasi tentu membuat mereka memiliki modal baru untuk ekspansi dan menempel kompetitor. Kompetitor terkuat adalah Telkomsel (PT Telekomunikasi Selular),” katanya di acara Media Gathering Mitratel 2024 yang digelar di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (6/8/2024).
Baca Juga
Kiwoom Sekuritas Jagokan Saham INDF, MIKA, MTEL dan MYOR Hari Ini (6/8/2024)
Pria yang akrab disapa Teddy itu mengatakan entitas gabungan XL Axiata dan Smartfren akan mengoptimalkan spektrum frekuensi yang dikuasainya untuk bersaing dengan Telkomsel. Saat ini, Telkomsel masih unggul dibandingkan dengan operator seluler lainnya di Indonesia, khususnya dari sisi wilayah cakupan.
“Mereka (entitas gabungan XL Axiata dan Smartfren) akan melihat siapa kompetitor terkuatnya. Kompetitor terkuatnya adalah Telkomsel. Mereka akan lihat coverage (wilayah jangkauan) Telkomsel ada di mana. Telkomsel ini ada banyak di tower (menara) Mitratel. Ini berkah buat Mitratel,” ujarnya.
Teddy menyebut Telkomsel merupakan pengguna menara atau tenant terbesar Mitratel. Sebanyak 53% dari sekitar 38.000 menara base transceiver station (BTS) anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk itu digunakan oleh Telkomsel.
Adapun, untuk jumlah menara BTS Mitratel yang digunakan oleh XL Axiata dan Smartfren persentase masing-masing tercatat 12% dan 4% dari jumlah keseluruhan.
Di sisi lain, Teddy tak menampik bahwa merger XL Axiata dan Smartfren tetap akan membawa dampak negatif bagi industri menara telekomunikasi di Indonesia. Dampak negatif yang dimaksud adalah berkurangnya tenant di beberapa lokasi menara BTS karena efisiensi yang dilakukan oleh entitas gabungan kedua operator seluler itu.
Walaupun demikian, dampak negatif tersebut sifatnya jangka pendek dan tidak sampai mengganggu kinerja perusahaan menara telekomunikasi, termasuk Mitratel.
“Konsolidasi membuat operator akan melakukan efisiensi jaringan yang saling tumpang tindih. Di satu tower ada (perangkat) XL Axiata dan Smatrfren, salah satunya nanti akan digeser. Kami meyakini risiko bisa di-manage (dikelola). Mereka akan memindahkannya ke lokasi-lokasi potensial,” tuturnya.
Baca Juga
XL Axiata (EXCL) Masih Diskusi dengan Operator Lain Soal Pembatasan Nominal Transfer Pulsa
Teddy menambahkan operator seluler di Indonesia kini berlomba-lomba meningkatkan kualitas layanan, termasuk luas cakupan wilayah layanannya. Mereka tidak lagi menawarkan harga layanan semurah-murahnya dengan mengorbankan kualitas layanan.
“Peperangan bukan di level harga (layanan). Peperangan mereka ada di sejauh mana mereka (operator seluler) bisa ekspansi. Ini sisi positinya mengapa industri menara telekomunikasi bisa bertahan dan meningkatkan kinerjanya,” tegasnya.
Seperti diketahui, pada Rabu (15/5/2024) telah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) penjajakan merger XL Axiata dan Smartfren.
Penandatanganan nota kesepahaman itu dilakukan oleh Axiata Group Bhd, PT Wahana Inti Nusantara (WIN), PT Global Nusa Data (GND), dan PT Bali Media Telekomunikasi (BMT) untuk menjajaki merger dan pembentukan entitas bisnis baru MergeCo. WIN, GND, dan BMT merupakan entitas bisnis yang mewakili Grup Sinar Mas selaku pemegang kendali Smartfren.

