Kisah Tiga Serangkai Pendiri Universitas Paramadina: Pernah Dicemooh karena Tak Punya Dana
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Selain Prof Nurcholish Madjid alias Cak Nur, ternyata ada dua tokoh penting lain pendiri Universitas Paramadina, yaitu Sugeng Sariadi (pengusaha) dan Utomo Dananjaya (tokoh pendidikan Islam moderat). Kisah tiga serangkai ini bikin miris. Mereka pernah dicemooh karena tidak punya dana untuk mendirikan universitas.
Sebelum Universitas Paramadina berkembang dan disegani sebagai perguruan tinggi yang lekat dengan kredo ‘Islam moderat’-nya, tiga serangkai ini sempat mengalami jatuh bangun. Utomo bahkan pernah ditolak sebuah perusahaan ketika ia mengajukan proposal penggalangan dana (fundraising) untuk mendirikan universitas tersebut.
“Saya tahu Paramadina kan tidak punya uang, ngapain kamu hitung-hitung segala? Saya tidak mau,” ujar bos perusahaan tersebut, seperti ditirukan istri Cak Nur, Omi Komaria Madjid, pada peresmian Universitas Paramadina Kampus Cipayung di Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (27/8/2025).
Toh tiga serangkai ini tak patah arang. Apalagi Cak Nur terus membakar semangat dan meyakinkan mereka bahwa universitas yang dicita-citakan pasti terwujud karena dilandasi niat baik. “Cak Nur menyemangati Tom (Utomo Dananjaya) dan Sugeng Sariadi bahwa yang penting kita sudah punya niat. Niat itu sudah separuh jalan,” tutur Omi Komaria Madjid.
Baca Juga
Benar saja. Niat tiga serangkai itu untuk mendirikan universitas Islam yang terbuka, pluralis, moderat, yang kental dengan keindonesiaan dan keberagaman, akhirnya terwujud.
“Apalagi Cak Nur didukung teman-teman baiknya. Salah satu best friend-nya itu Pak Hendro Martowardojo (sekarang Ketua Umum Pengurus Yayasan Wakaf Paramadina). Kemudian Pak Benyamin, Pak Rustam, dan lain-lain. Mohon maaf, saya lupa untuk menyebutkannya satu per satu,” kata Omi Komaria Madjid.
Terbuka dan Modern
Sampai akhir hayatnya (lahir di Jombang, Jawa Timur pada 17 Maret 1939, meninggal di Jakarta pada 29 Agustus 2005 atau dalam usia 66 tahun), Cak Nur tetap setia pada idealismenya tentang dunia pendidikan.
“Inilah wujud impian Cak Nur. Kita meresmikan kampus ini masih dalam suasana memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan RI. Adalah komitmen Universitas Yayasan Paramadina untuk mewujudkan tujuan para pendiri bangsa, yaitu mencerdaskan bangsa Indonesia,” papar Omi Komaria Madjid.
Baca Juga
Cerita Petinggi Djarum hingga Bos GoTo, 'Keroyokan' Bangun Kampus Paramadina
Cak Nur semasa hidupnya tak henti berpesan kepada segenap insan Paramadina bahwa semua harus berperan aktif dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Melalui institusi pendidikan tinggi, Cak Nur juga berpesan agar umat muslim menumbuhkan paham keislaman yang terbuka dan modern, yang mampu menopang perwujudan cita-cita nasional Indonesia yang adil, terbuka, dan demokratis sesuai amanah para pendiri bangsa.
“Itu berarti seluruh civitas academica Universitas Paramadina terpanggil untuk ikut serta dalam mendorong tumbuhnya masyarakat Indonesia yang terbuka dan demokratis,” tandas Omi Komaria Madjid.
Cak Nur menyadari betul apa yang menjadi kegelisahan Bung Hatta. Pada 1941, Bung Hatta menyatakan, demi mengambil hati ‘juragan’, yang nyata buruk dikatakan bagus, yang nyata salah dikatakan benar. Perilaku tercela ini harus dihapus.
“Dengan prinsip keterbukaan, Cak Nur menitipkan harapan dan pesan agar kita berpegang teguh pada tradisi kebebasan menyatakan apa yang benar dan baik bagi kepentingan bersama,” tegas Omi Komaria Madjid.
Baca Juga
Universitas Paramadina Wajibkan Mata Kuliah Antikorupsi Dianggap Sinyal Pentingnya Nilai Integritas
Omi sendiri berpesan agar seluruh civitas academica Universitas Paramadina menjaga nama baik Cak Nur dan nama baik Paramadina melalui suri teladannya.
“Jadikan kampus Paramadina sebagai ruang kebebasan bagi siapa pun. Jangan ada larangan bagi siapa pun untuk bertukar pikiran secara terbuka sebagai persemaian integritas moral yang luhur, sekaligus sebagai wadah perjuangan bersama untuk memajukan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan,” kata dia.
Berdasarkan laman Universitas Paramadina, cikal bakal Universitas Paramadina muncul pada 1994 sejalan dengan terbentuknya Yayasan Wakaf Paramadina dan Yayasan Pondok Mulya yang masing-masing bergerak di bidang pendidikan. Mereka bersepakat mendirikan sebuah perguruan tinggi.
Maka pada 10 Januari 1998, berdirilah Universitas Paramadina Mulya yang kemudian berubah nama menjadi Universitas Paramadina. Universitas ini didirikan untuk memperkenalkan konsep perguruan tinggi alternatif, menghasilkan lulusan yang mempunyai kompetensi riset dan kewirausahaan yang dijiwai etika keislaman, menjadi wahana pusat kebudayaan dan peradaban, serta menjadi universitas bertaraf internasional.
Logo Kaligrafi
Universitas Paramadina mengusung logo yang sangat khas, yaitu kaligrafi kutipan Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 113 yang berbunyi: ”Allah menurunkan kepadamu Kitab dan Hikmah, dan mengajarkan kepadamu sesuatu yang kamu belum tahu.”
Kutipan Ayat Suci itu dikemas dalam bentuk huruf Kaf (Kitab) dan Ha (Hikmah). Substansinya adalah bahwa ilmu dapat diperoleh melalui dua cara, yaitu kitab suci dan dengan mempelajari alam semesta. Universitas Paramadina berusaha memfasilitasi keduanya dan bersumber kepada iman.
Universitas Paramadina Kampus Cipayung berdiri di atas lahan seluas 22.000 m2, mengusung konsep Green Campus atau kampus di dalam taman hijau, dengan konsep bangunan modern dan tropis-minimalis. Berdaya tampung 10.000 mahasiswa, kampus ini memiliki tiga gedung utama, yaitu Gedung Nurcholish Madjid (8 lantai), Gedung TP Rachmat (3 lantai), dan Gedung HM Jusuf Kalla (3 lantai).
Kampus Cipayung dilengkapi berbagai fasilitas modern, mulai dari ruang kuliah, laboratorium, masjid, auditorium, arena olahraga indoor, amphitheatre, taman hijau, hingga ruang diskusi yang representatif. Dalam waktu dekat, Kampus Cipayung akan dilengkapi fasilitas wall climbing kelas dunia.
"Kehadiran fasilitas baru ini memperkuat posisi Kampus Cipayung sebagai pusat kegiatan akademik, penelitian, dan pengembangan mahasiswa. Saat ini, Universitas Paramadina memiliki tiga kampus, yakni Kampus Cipayung, Kampus Cikarang (Kabupaten Bekasi), dan Kampus Kuningan (Jakarta Selatan)," kata Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik Rachbini.
Prof Didik mengungkapkan, kampus kebanggaan tersebut tidak akan pernah terwujud tanpa dukungan berbagai korporasi, seperti Djarum Foundation, BCA, Astra, United Tractors, Adaro Energy, Triputra Agro Persada, Polytron, Sinar Mas, Indika Energy, Northstar Pacific, Blibli.com, Tiket.com, dan Harum Energy.
Juga tanpa kebaikan dan keihlasan hati para sahabat Paramadina, seperti JK, Budi Hartono, TP Rachmat, Gandi Sulistiyanto, Haji Isam, dan Benny Subianto (alm). “Segenap civitas academica Universitas Paramadina mengucapkan terima kasih dan berkomitmen melipatgandakan kebaikan yang telah beliau-beliau limpahkan,” tegas Didik Rachbini.

