Kepala BPKH Usul Setoran Awal Ibadah Haji Naik Rp 10 Juta, Begini Alasannya
BANDUNG, investortrust.id - Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mengusulkan setoran awal ibadah haji naik sebesar Rp 10 juta dari sebelumnya Rp 25 juta menjadi Rp 35 juta. Hal tersebut telah disampaikan kepada Komisi VIII DPR saat rapat dengar pendapat (RDP).
Kepala BPKH Fadlul Imansyah menilai usulan kenaikan setoran awal ibadah haji tersebut seharusnya tidak menjadi masalah bagi jemaah. Hal ini karena nominal itu justru akan meringankan jemaah haji saat ingin melakukan setoran lunas biaya penyelenggara ibadah haji (BPIH).
"Jadi sebenarnya kalau Rp 35 juta harusnya enggak jadi masalah karena tinggal masalahnya mau si jemaah haji bayar sekarang agak lebih besar, kemudian di belakang bayarnya lebih besar lagi, atau mau yang sekarang kecil tetapi dibelakangnya besar banget, kan itu saja," ucapnya saat ditemui di Hajj Media Camp, Media Gathering BPKH 2025, di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (8/2/2025).
Baca Juga
Lampaui Target, Dana Haji Kelolaan BPKH Tumbuh Capai Rp 171 Triliun
Fadlul pun membandingkan kondisi biaya haji yang terjadi pada 2010 silam. Saat itu BPIH sebesar Rp 35 juta dan setoran awalnya senilai Rp 25 juta. Untuk itu, Fadhul mengatakan, setoran awal yang dibayarkan oleh jemaah haji lebih dari 50% dari total biaya haji.
"Nah, sekarang yang terjadi adalah Rp 89 juta (biaya penyelenggaraan haji). Kalau kita anggap 50% saja berarti kan sebenarnya Rp 40 juta lebih, hampir 45 juta setorannya, tetapi yang terjadi adalah sekarang masih Rp 25 juta (setoran awal)," terangnya.
Baca Juga
Lebih lanjut, Fadlul mengungkapkan usulan yang telah disampaikan kepada parlemen tersebut belum diputuskan. Ia menjelaskan, nantinya yang akan memutuskan ada kenaikan setoran awal biaya haji atau tidak adalah Kementerian Agama (Kemenag) dan DPR.
"Sebenarnya keputusannya itu harusnya keputusan dari Menteri Agama. Cuma kita juga paham betul bahwa menteri agama saat ini masih bergulat dengan persiapan untuk penyelenggaran ibadah haji, bergulat dengan fasilitas dan sebagainya, sehingga kami memang melihatnya ini kami sadari bukan menjadi prioritas," papar Fadlul.

