7 Bulan Jalani Masa Tahanan, Nadiem Sampaikan Permohonan Maaf dan Akui Kekurangan
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada publik dalam pernyataan emosional saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Selasa (14/4/2026), setelah 7 bulan menjalani masa tahanan.
Pernyataan tersebut disampaikan di sela proses persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, ketika Nadiem memberikan keterangan kepada media mengenai refleksi pribadinya selama menjalani proses hukum.
“Terima kasih teman-teman media. Saya hari ini mau bercerita sedikit. Saya sudah 7 bulan di penjara dan walaupun alhamdulillah saya bersyukur bahwa semua tuduhan tidak terbukti,” ujar Nadiem dikutip Jumat (17/4/2026).
Dalam pernyataannya, ia mengakui bahwa gaya kepemimpinannya selama menjabat cenderung membawa perubahan cepat yang tidak selalu sejalan dengan budaya birokrasi yang telah ada.
Baca Juga
Nadiem Makarim Didakwa Terima Rp 809,59 Miliar Terkait Kasus Korupsi Chromebook
“Saya ingin mengakui ini, bahwa saya masuk mungkin tidak selalu menghormati budaya birokrasi. Saya bawa banyak sekali orang dari luar masuk ke dalam, para profesional muda yang mungkin menciptakan gesekan-gesekan,” ujarnya.
Nadiem menilai bahwa pendekatannya yang terlalu berfokus pada profesionalisme kerja membuatnya kurang menjalankan fungsi politik dan sosial yang melekat pada jabatan publik.
“Saya mungkin kurang santun dalam cara penyampaian saya. Saya kurang menghormati dan kurang sowan kepada tokoh-tokoh, baik masyarakat maupun politik. Saya salah tidak memahami bahwa sebagian dari tugas saya adalah fungsi politik,” tambahnya.
Ia menyadari bahwa selama menjabat sebagai menteri, terdapat ucapan maupun tindakan yang berpotensi menyinggung berbagai pihak. Oleh karena itu, ia menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
“Untuk itu saya ingin sekali mohon maaf. Saya ingin mohon maaf sebesar-besarnya kalau ada ucapan-ucapan atau perilaku saya pada saat menjadi Menteri yang tidak berkenan,” tuturnya.
Nadiem mengungkapkan bahwa masa 7 bulan menjalani penahanan menjadi periode yang berat, terutama karena harus terpisah dari keluarga dan anak-anaknya. Meski demikian, ia mengaku tetap berusaha menjaga optimisme.
Baca Juga
Imparsial Nilai Kehadiran Anggota TNI di Persidangan Nadiem Tindakan Berlebihan
Ia menambahkan bahwa pengalaman tersebut justru memberinya perspektif baru dan inspirasi dari tokoh-tokoh sejarah Indonesia yang pernah menghadapi ujian lebih berat.
“Hal itu memberikan saya kekuatan, memberikan saya inspirasi, dan itulah alasan kenapa bahkan dalam situasi terpuruk seperti ini, saya masih optimis. Saya masih mencintai negara saya, saya percaya ujungnya keadilan itu masih menjadi azas dasar dari negara Indonesia yang saya cintai ini,” pungkasnya.

