Perusahaan Affiliasi Prajogo Raup Dana Rp 1,57 Triliun, Jual Saham Barito (BREN)
JAKARTA, investortrust.id – Green Era Energy Pte Ltd, perusahaan investasi yang teraffiliasi dengan taipan Prajogo Pangestu, meraup dana senilai Rp 1,57 triliun dari divestasi sebagian saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Manajemen BREN dalam penjelasan resminya di Jakarta, Senin (6/4/2026), Green Era menjual sebanyak 350 juta saham BREN dengan harga pelaksanaan Rp 4.510. Penjualan tersebut dilakukan saat saham BREN sentuh level terendah lebih dari satu tahun terakhir.
Baca Juga
Ungkap Kepemilikan Terkonsentrasi, Saham BREN, DSSA, dan RLCO Langsung Anjlok
“Tujuan transaksi untuk menambah free float dan likuiditas saham beredar di pasar,” tulis manajemen BREN dalam penjelasan resminya.
Penjualan saham tersebut menjadikan total saham BREN yang dikuasai Green Era berkurang dari semula 22,92% menjadi 22,66%. Meski demikian, Green Era masih bertindak sebagai pemegang saham terbesar kedua di BREN.
Berdasarkan data BEI, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) bertindak sebagai pengendali dengan kepemilikan 64,66% saham. Sisanya dikuasai Prajogo Pangestu 0,106% dan saham free float mencapai 12,3%.
Sebelumnya, BREN mengumumkan kepemilikan saham terkonsentrasi mencapai 97,31% dari total saham emiten Prajogo Pangestu ini. Usai pengumuman tersebut, saham BREN dibuka jatuh pada peradgangan hari ini. Hingga sesi I, saham BREN anjlok Rp 530 (11,04%) menjadi Rp 4.270. Bahkan, BREN sempat sentuh level terendar Rp 4.140.
Baca Juga
Meski Kinerja Meleset, Barito Renewables (BREN) Disebut Tetap Menarik dengan Target Harga Tinggi Ini
Hingga tahun 2025, BREN membukukan pendapatan sebesar US$ 605 juta atau tumbuh 1,4% secara tahunan pada 2025, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 597 juta. Pertumbuhan ini didukung produksi listrik panas bumi yang stabil serta kontribusi dari unit Binary Salak, meski segmen pembangkit angin menghadapi kondisi yang lebih menantang.
EBITDA tercatat sebesar US$518 juta dengan margin EBITDA mencapai 85,6%. Manajemen BREN menyebutkan bahwa pencapaian ini mencerminkan efisiensi operasional dan pengelolaan biaya yang berkelanjutan. Sementara itu, laba bersih setelah pajak meningkat 6,5% menjadi US$ 165 juta, didorong kinerja operasional yang kuat serta penurunan biaya pendanaan.

