Alamtri (ADRO) Mau ‘Buyback’ Saham Rp 4 Triliun, Ini Alasannya
Poin Penting
|
DEPOK, investortrust.id – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) berencana melakukan pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai maksimal Rp 4 triliun. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk keyakinan manajemen terhadap fundamental kinerja perusahaan serta prospek ekonomi Indonesia.
Wakil Presiden Komisaris Garibaldi 'Boy' Thohir memandang, koreksi harga saham perusahaan akibat sentimen global seperti perang, justru berbanding terbalik dengan kenyataan Indonesia sebagai negara yang memiliki keunggulan komparatif (comparative advantage).
Di tengah ketidakpastian pasokan minyak mentah dunia, Boy Thohir menegaskan, Indonesia punya peluang besar memproduksi energi dengan biaya lebih rendah dari negara lain. Mengingat, Indonesia memiliki sumber energi alternatif seperti batu bara, panas bumi, hingga gas.
Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat keyakinan perusahaan terhadap prospek jangka panjang bisnisnya.
Boy pun mewajarkan, fluktuasi pergerakan harga saham di pasar modal. Oleh karena itu, perusahaan melihat momentum koreksi harga sebagai peluang untuk melakukan buyback.
“Kalau kita bicara pasar modal, memang naik turun. Tetapi kami di grup Alamtri Resources Indonesia dan Adaro Andalan Indonesia yakin terhadap fundamental perekonomian Indonesia dan juga kinerja perusahaan,” tegasnya di Masjid At-Thohir, Depok, Senin (16/3/2026).
Baca Juga
Dukung Penguatan Pasar Modal, Boy Thohir Buy Back Saham Alamtri (ADRO)
Untuk melancarkan aksi korporasi tersebut, perusahaan menyiapkan dana hingga Rp 4 triliun yang seluruhnya berasal dari kas internal. Boy menegaskan bahwa perusahaan memiliki posisi keuangan yang cukup kuat untuk mendukung rencana tersebut.
“Pendanaannya dari kas internal. Alhamdulillah kami cukup konservatif, jadi ada kas internal. Kalau memang harganya menurut kami murah, kami buyback,” tegasnya.
Program buyback dimaksud, akan berlangsung secara bertahap selama 12 bulan setelah mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Periode pelaksanaannya direncanakan mulai April 2026 hingga April 2027.
Boy menambahkan bahwa jumlah saham yang akan dibeli kembali, bergantung pada pergerakan harga saham di pasar. Jika harga saham dinilai menarik, perusahaan akan memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan pembelian.
“Kalau ada yang jual dan harganya menarik, ya kami beli. Intinya ini menunjukkan bahwa kami confidence terhadap kinerja perusahaan dan juga terhadap makro ekonomi Indonesia,” pungkasnya.

