Prodia (PRDA) Raih Laba Bersih Rp 206 Miliar, Pendapatan Rp 2,28 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 206,78 miliar yang turun 23,46% (yoy).
Padahal pendapatan dari kontrak dengan pelanggan Prodia masih tumbuh tipis 1,31% (yoy) menjadi Rp 2,28 triliun tahun lalu. Direktur Utama Prodia Widyahusada, Dewi Muliaty menjelaskan, pertumbuhan pendapatan didorong kontribusi signifikan dari segmen rutin dan esoterik.
“Hal ini mencerminkan ketahanan kinerja di tengah dinamika industri layanan kesehatan,” terangnya, dikutip pada Jumat (13/3/2026).
Pertumbuhan pendapatan terutama didorong oleh kontribusi signifikan dari segmen pemeriksaan rutin yang tetap menjadi tulang punggung bisnis, serta peningkatan permintaan pada layanan esoterik dengan nilai tambah lebih tinggi.
“Kenaikan ini juga menunjukkan keberhasilan strategi perseroan dalam menjaga loyalitas pelanggan serta memperluas penetrasi pasar,” menurut Dewi.
Namun di saat bersamaan, beban pokok pendapatan (COGS) perseroan naik 5,42% (yoy) menjadi Rp 948,96 miliar, lebih besar dari kenaikan pendapatan sehingga membuat keuntungan 2025 terpangkas.
Baca Juga
Saham Prodia (PRDA) Masih Menarik untuk Spekulatif Buy, Fundamental Solid
Manajemen menerangkan, kenaikan beban pokok penjualan sejalan dengan peningkatan volume tes dan ekspansi layanan di berbagai wilayah. Peningkatan biaya ini turut dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan medis, reagen, serta investasi pada kualitas layanan dan teknologi diagnostik.
Hal tersebut berdampak pada laba kotor yang turun tipis 1,43% (yoy) menjadi Rp 1,33 triliun. Meski demikian, perseroan tetap mampu menjaga profitabilitas operasional dengan mencatatkan laba usaha (EBIT) sebesar Rp 225 miliar dan laba sebelum pajak (EBT) tercatat Rp 264 miliar.
“Hal ini menunjukkan efektivitas pengendalian biaya operasional di luar COGS serta disiplin dalam manajemen beban usaha,” tambah Dewi.
Dengan beban pajak Rp 58 miliar pada 2025, perseroan berhasil membukukan laba bersih Rp 206,78 miliar yang diklaim mencerminkan fundamental bisnis solid dan berkelanjutan.
Di sisi lain, total aset Prodia per 31 Desember 2026 tercatat sebesar Rp 2,7 triliun, menunjukkan kapasitas sumber daya yang kuat untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Baca Juga
Prodia (PRDA) Perkenalkan Mesin Pertumbuhan Baru untuk Deteksi Dini Penyakit Degeneratif
Struktur permodalan perseroan juga diklaim mencerminkan perusahaan yang sehat, dengan total liabilitas sebesar Rp 302 miliar dan total ekuitas Rp 2,39 triliun. “Hal ini mencerminkan tingkat leverage yang rendah dan fleksibilitas keuangan yang tingg,” tandas Dewi.
Di samping itu, arus kas bersih diperoleh dari aktivitas operasi tercatat Rp 424 miliar, menunjukkan kemampuan perseroan menghasilkan kas dari kegiatan inti bisnisnya secara konsisten.
Pada 2025, Prodia memperoleh lebih dari 888 ribu pelanggan baru, dengan total lebih dari 20 juta tes yang telah dilakukan sepanjang tahun. Selain itu, jumlah kunjungan ke layanan Prodia melebihi 2,79 juta kunjungan.
Kinerja kanal digital melalui U by Prodia mencatatkan lebih dari 2,9 juta pengunduh yang naik 70% (yoy) dan peningkatan total nilai transaksi sebesar 37%. Sementara rata-rata monthly active user (MAU) mencapai 94%.

