Saham Prodia (PRDA) Masih Menarik untuk Spekulatif Buy, Fundamental Solid
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) kembali menarik perhatian pelaku pasar, seiring peluang penguatan harga yang masih terbuka. Pergerakan saham emiten layanan kesehatan ini dinilai layak dipantau di tengah sentimen positif sektor kesehatan dan momentum pasar modal.
Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Jumat (23/1/2025), saham PRDA parkir di Rp 2.370 atau turun 1,25%. Namun secara year to date (ytd), harga saham PRDA telah menguat 3,04%.
Baca Juga
Prodia (PRDA) Perkenalkan Mesin Pertumbuhan Baru untuk Deteksi Dini Penyakit Degeneratif
Dari sisi teknikal, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit menilai saham PRDA berada pada area menarik untuk strategi speculative buy. PRDA memiliki level support di Rp 2.340 dan resistance Rp 2.400, dengan target harga di kisaran Rp 2.440–Rp 2.480.
Secara fundamental, kinerja Prodia tetap solid. Pada kuartal III-2025, perseroan mencatat pendapatan konsolidasian sebesar Rp 1,58 triliun yang relatif stabil meskipun berada dalam tekanan kondisi ekonomi.
Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty sebelumnya menyampaikan inflasi dan fluktuasi nilai tukar Rupiah memengaruhi daya beli masyarakat serta meningkatkan biaya operasional.
Baca Juga
Laba Kalbe (KLBF) Dipercaya Masih Tumbuh, Harga Saham Menuju Rp 1.710
Kontribusi multi-segmen menjadi penopang kinerja. Segmen esoterik dan non-laboratorium mencatat pertumbuhan positif masing-masing Rp 380 miliar dan Rp 117 miliar, mencerminkan diversifikasi bisnis yang efektif. Kinerja tersebut menopang pendapatan konsolidasian Rp 1,58 triliun pada kuartal III-2025.
Dari sisi profitabilitas, Prodia mencetak EBIT Rp 111 miliar, laba sebelum pajak Rp 143 miliar, beban pajak Rp 28,7 miliar, dan laba bersih Rp 114 miliar. Neraca perseroan juga kokoh, dengan total aset Rp 2,58 triliun, liabilitas Rp 268 miliar, dan ekuitas Rp 2,31 triliun hingga akhir September 2025.
Manajemen menilai operasional tetap solid, didukung strategi efisiensi serta ekspansi berkelanjutan. Arus kas operasional positif menopang kebutuhan modal kerja dan capex untuk perluasan jaringan layanan serta peningkatan kapabilitas perusahaan.
Baca Juga
Pendapatan & Laba Prodia (PRDA) Tergerus di Kuartal III, Sebaliknya Segmen Ini Tetap Kokoh
Sentimen eksternal turut menjadi katalis. Pemerintah mengalokasikan RAPBN 2026 sebesar Rp 114 triliun untuk sektor kesehatan, sementara IHSG mencetak rekor tertinggi, memberikan dorongan positif bagi sektor dan emiten layanan kesehatan.
Dengan momentum tersebut, Prodia optimistis menjaga kinerja hingga akhir 2025 melalui penguatan layanan klinik dan digital (U by Prodia), cost efficiency measurement, kerja sama strategis lintas regional, pembukaan cabang baru, serta inovasi layanan. Prodia juga memperluas jaringan rujukan hingga Timor Leste, Malaysia, dan Taiwan menuju South East Asia (SEA) Referral Laboratory, termasuk memperbesar basis pelanggan korporasi dengan solusi kesehatan komprehensif.

