Pendapatan & Laba Prodia (PRDA) Tergerus di Kuartal III, Sebaliknya Segmen Ini Tetap Kokoh
JAKARTA, investortrust.id – Pendapatan PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) pada kuartal III-2025 turun 1,3% (yoy) menjadi Rp 1,58 triliun. Penurunan tersebut memicu laba bersih anjlok lebih dari 41% menjadi Rp 114 miliar untuk periode sama.
Meski turun, manajemen menilai bahwa realisasi pendapatan relatif stabil, karena hanyan turun tipis. Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty menjelaskan bahwa kondisi ekonomi yang dipengaruhi inflasi dan fluktuasi nilai tukar Rupiah turut menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya operasional.
Baca Juga
Prodia (PRDA) Perluas Layanan Diagnostik ke Taiwan, Malaysia, dan Timor Leste
Namun segmen esoterik dan non-laboratorium Prodia tetap mencatat pertumbuhan positif, masing-masing sebesar Rp 380 miliar dan Rp 117 miliar. Menurut Dewi, hal ini mencerminkan kontribusi multi-segmen yang semakin kuat dalam menopang kinerja perusahaan. Kekuatan multi-segmen ini menjadi fondasi Prodia untuk tetap menghadapi tantangan eksternal.
“Meski kondisi ekonomi menantang, kontribusi multi-segmen kami tetap menunjukkan hasil positif, menopang pendapatan konsolidasian sebesar Rp 1,58 triliun pada kuartal III-2025,” tutur Dewi, Jumat (31/10/2025).
Sementara itu, EBIT Prodia tercatat sebesar Rp 111 miliar dengan laba sebelum pajak (EBT) mencapai Rp 143 miliar dan beban pajak Rp 28,7 miliar sehingga menghasilkan laba bersih Rp 114 miliar. Dari segi neraca, total aset Prodia mencapai Rp 2,58 triliun, liabilitas sebesar Rp 268 miliar, dan ekuitas sebesar Rp 2,31 triliun hingga akhir September 2025, memperkuat posisi keuangan perseroan.
Baca Juga
Manajemen PRDA juga menyebutkan bahwa kinerja operasional tetap solid tercermin dari fokus perseroan dalam menjaga efisiensi dan ekspansi strategis. Secara keseluruhan, aset kas operasi tetap positif, menopang kebutuhan modal kerja dan belanja modal (capex) untuk perluasan jaringan layanan dan peningkatan kapabilitas perusahaan.
Indikator makro dan kebijakan pemerintah sendiri memberikan sentimen positif, termasuk rencana alokasi RAPBN 2026 sebesar Rp 114 triliun untuk sektor kesehatan. Sementara perbaikan terlihat di pasar modal, tercermin dari IHSG yang mencapai all-time high, menunjukan kepercayaan investor dan masyarakat tetap baik.
Dengan momentum ini, Prodia optimistis dapat mempertahankan kinerja menjelang akhir 2025 dengan fokus pada strategi pengembangan layanan. Antara lain melalui klinik maupun digital melalui U by Prodia, penerapan cost efficiency measurement, perluasan kerjasama strategis lintas regional, pembukaan cabang baru, serta penguatan inovasi dan kapabilitas internal untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan.
“Kami juga memperluas jaringan rujukan hingga Timor Leste, Malaysia, dan Taiwan sebagai langkah menuju South East Asia (SEA) Referral Laboratory,” ujar Dewi.
Baca Juga
Prodia juga terus memperluas segmen pelanggan korporasi dengan menghadirkan solusi kesehatan yang lebih komprehensif. “Kami berupaya menghadirkan nilai tambah melalui sinergi antar-segmen, mulai dari layanan rutin, esoterik dan genomik—serta mengoptimalkan layanan digital U by Prodia untuk memudahkan konsumen dalam melakukan pemeriksaan secara lebih praktis dan personal,” paparnya.
Sementara itu, Direktur Keuangan Prodia Liana Kuswandi menekankan, perusahaan tetap disiplin dalam menjaga fondasi keuangannya. “Kami memperkuat manajemen kas, meningkatkan efisiensi di berbagai lini, serta menjaga likuiditas dan struktur permodalan agar tetap sehat di tengah gejolak ekonomi,” ungkap dia.
Manajemen juga terus meninjau portofolio investasi dan alokasi belanja modal (capex) agar sejalan dengan arah strategi jangka menengah dan panjang. Hingga akhir tahun, fokus Prodia adalah menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan manajemen risiko yang hati-hati untuk menjaga profitabilitas dan ketahanan perusahaan.

