Prospek Energi Panas Bumi RI Besar, Kapasitas Diproyeksi 3,8 GW
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menilai prospek bisnis energi panas bumi di Indonesia masih sangat besar. Hal ini seiring meningkatnya target kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero).
Manager Partnership & Portfolio Management Pertamina Geothermal Energy Lufan Nassya Faswara mengatakan, kapasitas panas bumi nasional diproyeksikan meningkat dari sekitar 2,7 gigawatt (GW) saat ini menjadi 3,8 GW pada 2029.
Baca Juga
Fokus pada Kinerja, Saham Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Tetap Menguat
“Sehingga ada kesempatan yang sudah terpetakan bahwa target menghasilkan listrik dari panas bumi akan terus meningkat ke depannya,” ujar Lufan dalam Investor Youth Seminar bertema ‘Meraup Cuan dari Saham Energi’ di Universitas Parahyangan, Bandung, Selasa (10/3/2026).
Menurut dia, peningkatan target tersebut membuka peluang pertumbuhan yang besar bagi industri panas bumi, sekaligus menciptakan iklim investasi yang semakin positif di Indonesia.
Saat ini, PGE mengelola 15 wilayah kerja panas bumi (WKP) baik secara mandiri maupun melalui kerja sama dengan mitra. Dari wilayah kerja tersebut, PGE memiliki kapasitas terpasang sebesar 727 megawatt (MW), sementara sekitar 1.216 MW lainnya dikelola melalui skema kontrak operasi bersama (KOB).
Lufan menjelaskan bahwa potensi panas bumi Indonesia juga tergolong sangat besar. Secara nasional, potensi panas bumi diperkirakan mencapai sekitar 24 GW yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Jawa, hingga Sulawesi.
Selain potensi yang besar, panas bumi memiliki keunggulan dari sisi keandalan pasokan listrik. Energi panas bumi memiliki tingkat baseload atau capacity factor sekitar 80%, jauh lebih tinggi dibandingkan energi terbarukan lainnya, seperti tenaga surya dan angin yang umumnya berkisar 18–36%.
“Pengembangan panas bumi sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mendukung transisi energi, ketahanan energi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena apa yang dihasilkan panas bumi ini bisa meningkatkan nilai investasi dan menyerap banyak tenaga kerja,” paparnya.
Baca Juga
Investasi Saham PGEO: Keunggulan Panas Bumi sebagai Energi Baseload Jangka Panjang
Dalam menjalankan bisnisnya, PGE memiliki dua model usaha utama. Pertama, perusahaan dapat menjual uap panas bumi kepada pembangkit listrik. Dalam skema ini, PGE bertanggung jawab menyediakan pasokan uap, sementara proses pembangkitan listrik dilakukan oleh PLN.
Kedua, PGE juga dapat menjual listrik secara langsung dengan mengelola seluruh proses, mulai pengeboran sumur hingga pembangunan fasilitas pembangkit, sebelum listrik dialirkan ke jaringan transmisi PLN. “Dua konsep ini berjalan di PGE, sehingga portofolio bisnisnya cukup seimbang,” pungkas Lufan

