Investasi Saham PGEO: Keunggulan Panas Bumi sebagai Energi Baseload Jangka Panjang
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Investasi pada proyek panas bumi dinilai mampu memberikan efisiensi energi dalam jangka panjang, meski membutuhkan biaya awal yang relatif besar.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menilai, energi panas bumi unggul dari sisi efisiensi dan stabilitas dibandingkan sumber energi terbarukan lain, seperti tenaga surya dan angin.
Manager Partnership & Portfolio Management Pertamina Geothermal Energy Lufan Nassya Faswara menjelaskan, pembangkit listrik tenaga panas bumi memiliki karakteristik sebagai base load yang mampu menghasilkan listrik secara stabil dan terus-menerus. Pasalnya, tingkat pemanfaatan kapasitas atau capacity factor panas bumi jauh lebih tinggi dibandingkan energi terbarukan lainnya.
“Geothermal itu baseload. Capacity factor atau tingkat pemanfaatan kapasitas terpasangnya cukup tinggi dibandingkan energi terbarukan lain, yakni sekitar 80-90%,” ujar Lufan dalam Investor Youth Seminar bertema ‘Meraup Cuan dari Saham Energi’ di Universitas Parahyangan, Bandung, Selasa (10/3/2026).
Ia mencontohkan, apabila suatu pembangkit panas bumi memiliki kapasitas terpasang sebesar 100 megawatt (MW), maka listrik yang dapat dihasilkan secara konsisten bisa mencapai sekitar 80-90 MW. Berbeda dengan energi surya maupun angin yang sangat bergantung pada kondisi cuaca dan intensitas alam.
Baca Juga
Pertamina Geothermal (PGEO) Edukasi Model Bisnis Panas Bumi di Depan Mahasiswa Unpar Bandung
Sebagai ilustrasi, Lufan menyebut pembangkit tenaga surya dalam beberapa kasus hanya mampu menghasilkan sekitar 15% dari kapasitas terpasangnya secara rata-rata.
Pada saat yang sama, manajemen PGE mengakui bahwa pengembangan proyek panas bumi membutuhkan investasi yang relatif besar, terutama pada tahap awal. Biaya tinggi, antara lain berasal dari proses pengeboran sumur panas bumi yang membutuhkan teknologi khusus, serta memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi.
Namun biaya besar pada tahap awal tersebut dipercaya akan terkompensasi dalam jangka panjang karena karakteristik energi panas bumi yang berkelanjutan.
Seiring bertambahnya eksplorasi dan pengembangan di suatu wilayah kerja panas bumi yang telah memiliki cadangan terbukti, biaya produksi energi diklaim cenderung menjadi lebih efisien.
“Dia memang mahal di awal. Tetapi seiring berjalannya waktu akan menghasilkan tingkat keekonomian yang semakin murah karena sustainability dari karakteristik energi panas bumi itu sendiri,” ujarnya.
Pengembangan proyek panas bumi juga diakui membutuhkan waktu yang relatif panjang dibandingkan energi terbarukan lainnya.
Di sisi lain, perusahaan harus melakukan survei dan eksplorasi untuk mengetahui potensi energi yang tersedia. Proses ini biasanya memakan waktu sekitar tiga tahun.
Setelah itu, perusahaan harus memperoleh kesepakatan penjualan listrik atau power purchase agreement (PPA) dengan PT PLN (Persero) berdasarkan hasil eksplorasi yang dilakukan.
Jika kesepakatan tercapai, proyek akan memasuki tahap pengembangan yang berlangsung sekitar dua hingga tiga tahun. Pada fase ini, perusahaan melakukan pengeboran sumur tambahan, serta pembangunan infrastruktur seperti jaringan pipa dan pembangkit listrik.
“Prosesnya memang panjang karena ada banyak aktivitas yang harus dilakukan, mulai dari perizinan, pemboran, pembangunan infrastruktur hingga pembangkit listrik sebelum proyek masuk tahap operasi komersial,” jelas Lufan.
Setelah pembangkit beroperasi secara komersial, perusahaan tetap harus menjaga keberlanjutan reservoir panas bumi, agar mampu memasok energi secara stabil selama masa kontrak yang umumnya mencapai 30 tahun.

