Saham Publik Naik hingga Genjot Kapasitas Panas Bumi, Barito Renenewables (BREN) Siap Masuk MSCI?
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Pemegang public saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terus bertambah, seiring dengan aksi lepas saham Green Era Energy Pte sepanjang 2025 berjalan atau year to date (Ytd). Aksi ini bagian dari mengejar sham BREN masuk dalam daftar indeks MSCI dan FTSE?
Berdasarkan data registrasi pemegang saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Green Era Energy, perusahaan affiliasi pengendali, telah mengurangi sebanyak 1,68% saham sepanjang ytd. Total saham yang dilepas sebanyak 2,24 miliar saham telah dilepas ke public.
Baca Juga
Laba Barito Renewables (BREN) Tumbuh 11,5% di Semester I-2025, Didukung Ini
Langkah tersebut menjadikan total saham BREN yang dikuasai masyarakat bertambah dari 15,56 miliar atau 11,633% saham menjadi 17,78 miliar saham atau 13.304% saham. Sedangkan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) selaku pengendali tetap mempertahankan porsi saham sebanyak 64,66% dan Prajogo Pangestu selaku pengendali menambah sahamnya dari 0,098% menjadi 0,103% saham.
Sebagaimana diketahui, saham BREN sempat terganjal masuk dalam daftar MSCI Index large capital dipicu atas minimnya jumlah saham public. Padahal, BREN tercatat sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI dan merupakan saham dengan likuiditas transaksi yang besar.
Sebelumnya, Barito Renewables (BREN) mengumumkan kinerja keuangan yang solid sepanjang semester I-2025 ditopang peningkatan output panas bumi dan efisiensi operasional yang konsisten. Emiten energi terbarukan ini mencatat kenaikan laba bersih sebesar 11,5% secara tahunan menjadi US$ 82 juta, dibandingkan periode sama tahun lalu US$ 74 juta.
Baca Juga
Top 10 Saham Kuasai 45,83% Market Cap BEI, Emiten Prajogo Pangestu Jadi Penyumbang Terbesar
Pendapatan konsolidasian emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu (BREN) ini tumbuh 3,4% menjadi US$ 300 juta hingga Juni 2025, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong oleh peningkatan kapasitas produksi panas bumi pasca pemeliharaan tidak terencana di Darajat pada 2024. Unit Salak Binary yang baru ikut berkontribusi penuh sepanjang paruh pertama tahun ini.
EBITDA BREN naik 4,4% secara tahunan naik menjadi US$ 259 juta, dengan marjin EBITDA yang meningkat menjadi 86,3% sebagai cerminan efisiensi operasional dan pengendalian biaya yang semakin solid. Selain itu, keberhasilan renegosiasi pembiayaan dengan Bangkok Bank Limited ikut menopang penurunan beban bunga dan mendorong pertumbuhan laba bersih.
Tambah Kapasitas
Sementara itu, Barito Renewables (BREN) melalui anak usahanya, Star Energy Geothermal, mengumumkan telah menyelesaikan proyek retrofit pada Unit 4, 5, dan 6 Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Salak. Aksi ini berhasil menambah kapasitas terpasang sebesar 7,7 megawatt (MW), melampaui ekspektasi awal sebesar 7,2 MW dengan total investasi mencapai US$ 22,5 juta.
Direktur Utama Barito Renewables Hendra Soetjipto Tan mengatakan, penyelesaian proyek ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kinerja aset dan efisiensi operasional. “Penyelesaian proyek retrofit Salak merupakan bagian dari komitmen kami untuk terus meningkatkan kinerja aset, efisiensi operasi, dan keberlanjutan jangka panjang. Inisiatif ini juga sejalan dengan strategi perusahaan dalam memperkuat kontribusi terhadap transisi energi bersih nasional,” ujarnya dalam keterbukaan informasi di BEI, Senin (6/10/2025).
Baca Juga
Prajogo Pangestu Borong Saham Barito Renewables (BREN) Hari Ini, Ada Apa?
Dengan selesainya proyek ini, dia mengatakan, total kapasitas terpasang Star Energy Geothermal kini mencapai 910,3 MW. Selain panas bumi, anak usaha Barito Renewables lainnya, Barito Wind, mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap 1 di Sulawesi dengan kapasitas 78,75 MW, yang diakuisisi pada tahun lalu.
Penambahan kapasitas pada unit PLTP Salak ini merupakan bagian dari rencana ekspansi Barito Renewables untuk menambah kapasitas panas bumi lebih dari 100 MW dalam beberapa tahun mendatang. Total investasi yang telah diumumkan untuk proyek-proyek pengembangan mencapai US$ 365 juta.

