Menanti Inflasi AS, Bitcoin Masih Dibayangi Risiko Bull Trap
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) sempat kembali merebut level US$ 70.000 sebagai area support, namun pasar masih bergerak hati-hati di tengah sinyal teknikal yang dinilai menyerupai pola jebakan bull atau bull trap seperti yang terjadi pada Januari 2026. Tekanan di sisi atas harga dinilai masih cukup besar.
Financial Expert Ajaib Panji Yudha mengatakan, Bitcoin kembali menunjukkan volatilitas tinggi dengan berhasil merangkak naik kembali ke atas level US$ 69.000 sjeak Selasa (10/3/2026), setelah sempat terkoreksi hingga menyentuh level di bawah US$ 66.000 pada perdagangan Senin (9/3/2026) kemarin. Sentimen pasar saat ini dibayangi oleh eskalasi perang AS-Iran yang memicu ledakan harga minyak mentah WTI sebesar 20% ke level US$ 110 per barel, menandai level tertinggi dalam empat tahun terakhir dan menggandakan harga sejak awal 2026.
Di tengah ketegangan makro tersebut, akumulasi korporasi justru semakin masif di mana Strategy baru saja melaporkan akuisisi 17.994 BTC senilai US$ 1,28 miliar dengan harga rata-rata US$ 70.946 per koin sepanjang minggu lalu. Aksi ini membawa total kepemilikan mereka menjadi 738.731 BTC dan mendorong total kepemilikan perusahaan publik mendekati ambang 5% dari seluruh suplai Bitcoin.
Sejalan dengan agresivitas korporasi, pasar ETF Bitcoin Spot juga mencatatkan net inflow mingguan sebesar US$ 568,45 juta per 6 Maret, yang menandai dua pekan hijau berturut-turut setelah periode buruk di tiga pekan awal Februari.
"Fokus pasar kini tertuju pada rilis data CPI AS yang akan diumumkan Rabu (11/3/2026) pagi waktu AS, dengan ekspektasi inflasi di angka 2,5%, yang jika tetap "lengket" di atas target 2% Fed akibat kenaikan harga energi, berisiko menunda pemangkasan suku bunga," kata Panji dalam risetnya dikutip Rabu (11/3/2026).
Menilik data Coinmarketcap, Rabu (11/3/2026) pukul 05.25 WIB BTC tengah berada di level US$ 69.728, naik 1,36% dalam 24 jam terakhir dan sepekan menguat 2,13%.
Baca Juga
Bitcoin dan Ethereum Pimpin Arus Dana Kripto di Tengah Gejolak Geopolitik
Skenarionya cukup kontras yakni angka di bawah ekspektasi akan menjadi katalis risk on untuk mendorong BTC menuju resistansi US$ 72.000, sementara data yang lebih tinggi dari perkiraan akan memicu sikap hawkish Fed yang berpotensi menekan harga kembali ke bawah US$ 66.000.
Data inflasi AS merupakan katalis utama yang perlu diperhatikan minggu ini, karena dapat memengaruhi sentimen pasar dan ekspektasi suku bunga Federal Reserve.
Secara terpisah, trader kripto Ardi menyebut likuiditas sisi jual Bitcoin saat ini telah mencapai level tertinggi dalam dua bulan. Menurut dia, order jual di atas harga pasar tercatat mencapai sekitar US$1,57 miliar, lebih tinggi dibandingkan permintaan di bawah harga yang berada di kisaran US$1,125 miliar.
Dalam kisaran 5% dari harga spot, volume order jual disebut melampaui permintaan sekitar 40%. Kondisi ini menciptakan lapisan pasokan yang lebih tebal di atas harga pasar, sementara bantalan support di bawah harga Bitcoin relatif lebih tipis.
Melansir Cointelegraph, Rabu (11/3/2026) Ardi menilai pola tersebut mirip dengan yang terjadi pada Januari lalu, ketika Bitcoin sempat menembus level US$ 98.000 sebelum akhirnya berbalik turun. Pola serupa juga terlihat setelah Bitcoin sempat naik di atas US$ 72.000 dalam pergerakan terbarunya, sebelum kembali melemah ke tengah rentang harga.
Menurut dia, tingginya likuiditas permintaan saat pengujian ulang harga sering kali menandakan bahwa sebagian pelaku pasar memanfaatkan rebound untuk mengambil keuntungan. Sementara itu, rata-rata pergerakan 30 hari volume net taker Bitcoin tetap positif di level US$ 83 juta sepanjang Maret, yang menunjukkan aktivitas pembelian melalui order pasar masih meningkat.
Baca Juga
Pasar Kripto Menguat Usai Trump Sebut Perang dengan Iran Segera Berakhir
Di sisi lain, data basis biaya pemegang jangka pendek atau short-term holder (STH) menunjukkan mayoritas investor jangka pendek masih berada di posisi harga yang jauh lebih tinggi. Harga realisasi STH, yang mencerminkan rata-rata harga akuisisi koin yang dipegang kurang dari enam bulan, berada di sekitar US$ 88.900.
Peneliti Bitcoin Axel Adler Jr. menyebut kelompok pasokan terbesar saat ini berada di kisaran US$ 86.000 hingga US$ 99.000. Area tersebut merupakan zona akumulasi utama yang terbentuk antara November 2025 hingga Februari 2026, sehingga menjadi titik impas penting bagi banyak pelaku pasar jangka pendek.
Secara teknikal, pergerakan kembali yang stabil di atas kisaran US$ 70.000 hingga US$ 72.000 dinilai dapat meredakan sebagian tekanan jual jangka pendek. Namun, perubahan tren yang lebih kuat diperkirakan baru akan terbentuk apabila Bitcoin mampu merebut kembali area US$ 86.000 hingga US$ 89.000, yang menjadi titik impas utama bagi sebagian besar pemegang jangka pendek.

