Enam Bulan Pasca "Crash", Pasar Kripto Masih Dibayangi Risiko Volatilitas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto global, khususnya Bitcoin, masih menunjukkan tanda-tanda kerapuhan struktural lebih dari enam bulan setelah kejatuhan besar pada 10 Oktober 2025. Peristiwa tersebut menghapus sekitar US$ 19 miliar posisi leverage dan memicu gangguan signifikan pada struktur pasar. Data terbaru dari sejumlah lembaga analitik menunjukkan bahwa pemulihan likuiditas belum sepenuhnya terjadi hingga April 2026.
Kedalaman orderbook Bitcoin tercatat terus mengalami penurunan dibandingkan sebelum krisis. Pada September 2025, likuiditas berada di kisaran US$ 180 juta hingga US$ 260 juta, namun setelah kejatuhan, angka tersebut hanya pulih terbatas ke sekitar US$ 150 juta pada November 2025. Memasuki 2026, kondisi semakin melemah, dengan kedalaman pasar jarang menembus US$ 130 juta, bahkan sempat jatuh di bawah US$ 60 juta pada Februari saat harga Bitcoin berada di kisaran US$ 65.000.
Baca Juga
Presiden Trump Dikecam, Token Kripto TRUMP dan WLFI Jatuh Ke Titik Terendah Sepanjang Masa
Di sisi lain, aktivitas derivatif dan ETF mencerminkan dinamika pasar yang masih belum stabil. Volume derivatif kripto kini bergerak di kisaran US$ 40 miliar hingga US$ 130 miliar dalam 30 hari terakhir, jauh di bawah puncak US$ 200 miliar pada September 2025. Sementara itu, volume perdagangan ETF Bitcoin spot di AS sempat menguat pada awal 2026 di atas US$ 4 miliar per hari, namun kembali melemah ke bawah US$ 3,3 miliar pada awal April. Untuk Ethereum, volume ETF juga turun dari sekitar US$ 2 miliar menjadi US$ 1 miliar per hari.
Indikator lain seperti tingkat pendanaan (funding rate) turut menunjukkan perubahan sentimen pasar. Setelah relatif stabil pascakejatuhan, funding rate mulai melemah pada Februari 2026, bahkan sempat memasuki zona negatif. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar, dengan kecenderungan mengurangi leverage dan memperkuat strategi lindung nilai.
Meski dampak awal dari crash Oktober 2025 dinilai tidak sepenuhnya merusak struktur pasar, data terbaru menunjukkan bahwa likuiditas belum kembali ke level normal sebelum krisis. Analis menilai pasar kripto saat ini masih berada dalam fase transisi, dengan pemulihan yang belum merata dan risiko volatilitas yang tetap tinggi.
Baca Juga
Kadin Usulkan Transaksi Dagang dengan Rusia Cs Pakai Blockchain dan Kripto
Sementara itu, menilik data Coinmarketcap, Minggu (12/4/2026) pukul 06.25 WIB, pasar aset kripto global menunjukkan penguatan terbatas dalam perdagangan terbaru, dengan kapitalisasi pasar mencapai sekitar US$ 2,49 triliun atau naik 0,66%. Indeks CoinMarketCap 20 (CMC20) juga mencatat kenaikan 0,56% ke level 150,3, mencerminkan sentimen pasar yang cenderung stabil di tengah kondisi yang masih berhati-hati.
Kripto utama Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 73.186, meskipun mencatat penurunan tipis 0,31% dalam satu jam terakhir. Namun secara mingguan, Bitcoin masih menguat 8,73%, menunjukkan tren pemulihan jangka pendek. Sementara itu, Ethereum naik 2,02% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 2.288, dengan penguatan mingguan mencapai 10,83%.
Di sisi lain, stablecoin Tether tetap stabil di US$ 1, mencerminkan perannya sebagai aset lindung nilai di tengah volatilitas. Altcoin lain seperti XRP dan BNB juga mencatat pergerakan beragam, dengan kenaikan mingguan masing-masing 3,13% dan 2,41%.
Indikator pasar menunjukkan sentimen netral, dengan indeks Fear & Greed berada di level 51. Sementara itu, indikator Altcoin Season berada di angka 34, mengindikasikan bahwa dominasi masih cenderung berada pada Bitcoin dibanding altcoin. Secara keseluruhan, data ini mencerminkan pasar yang mulai pulih namun masih berada dalam fase konsolidasi dengan likuiditas dan sentimen yang belum sepenuhnya kuat.
Analisa saham dan kripto dengan mudah dan cepat dengan InvestingPro, dapatkan diskon tambahan khusus untuk pembaca Investortrust, klik di sini

