Bitcoin Tembus US$ 100.000 untuk Pertama Kalinya, Bull Run Crypto Lanjut Hingga 2025?
JAKARTA, investortrust.id - Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan all time high (ATH) baru di level US$ 100.000 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Melansir CoinMarketCap pada Kamis (5/12/2024) pukul 11.00 WIB, harga Bitcoin berada di angka US$ 103.418 atau setara Rp 1,64 miliar.
Merespon kondisi tersebut, Robby selaku Chief Compliance Officer (CCO) Reku mengatakan momentum ini merupakan tonggak sejarah baru di ekosistem investasi kripto.
“Kenaikan harga Bitcoin tersebut mendorong pertumbuhan performa year to date Bitcoin hampir menembus angka 130%. Salah satu katalis lonjakan harga Bitcoin yakni optimisme para pelaku pasar terhadap potensi pergeseran arah regulasi Amerika Serikat yang akan lebih suportif terhadap aset kripto menyusul kabar terkait penunjukan anggota-anggota kabinet yang dikenal pro kripto,” jelas Robby dalam siaran pers, Kamis (5/12/2024).
Robby melanjutkan, situasi saat ini berpotensi mendorong antusiasme masyarakat terhadap aset kripto. Namun, pihaknya menghimbau masyarakat untuk memahami aset kripto beserta risikonya sebelum mengambil keputusan.
“Lonjakan harga Bitcoin dan aset kripto lainnya menggambarkan potensi keuntungan tinggi dalam berinvestasi kripto. Kondisi seperti ini dapat menarik perhatian masyarakat yang belum berinvestasi kripto untuk mulai berinvestasi. Lonjakan investor pemula pun juga berpotensi terjadi. Terlebih, masyarakat juga bisa berinvestasi aset kripto mulai dari Rp 5 ribu saja. Walau demikian, Reku terus mengajak masyarakat untuk memprioritaskan pemahaman sebelum mulai berinvestasi dan menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Saat ini juga sudah banyak tersedia platform pembelajaran aset kripto yang akurat, seperti diantaranya di Learning Hub Reku yang berisikan kiat berinvestasi aset kripto, serta analisa kondisi pasar yang di-update setiap harinya,” tegas Robby.
Baca Juga
Akankah Lanjut Bullish?
Senada dengan Robby, Crypto Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin menyampaikan kenaikan harga Bitcoin pada hari ini juga turut diikuti oleh tren positif dari altcoin di berbagai sektor mulai dari Web3 gaming hingga DeFi.
“Tren positif yang terjadi di pasar kripto saat ini sejalan dengan proyeksi kami terkait efek positif penurunan suku bunga The Fed dan pemilu AS. Mengacu pada proyeksi kami sebelumnya, kenaikan yang terjadi saat ini juga bukan merupakan akhir dari siklus bullish yang terjadi, bahkan dapat dikatakan cukup awal, yang artinya potensi kenaikan lanjutan masih sangat terbuka. Hal ini salah satunya diindikasikan oleh kenaikan harga yang mayoritas masih disebabkan oleh meningkatnya adopsi investor institusi dan investor besar atau yang sering dikenal sebagai whales. Euforia dari kalangan investor ritel saat ini masih belum terlalu signifikan terlepas dari tingkat kenaikan harga yang telah dibukukan oleh Bitcoin,” ujar Fahmi.
Di sisi lain, adopsi investor institusi seperti yang dapat dilihat dari data aliran dana masuk atau keluar ETF Bitcoin spot mengalami lonjakan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir.
“Setelah sempat membukukan netflow negatif pada 25 dan 26 November lalu, ETF Bitcoin spot membukukan total aliran dana masuk sebesar lebih dari $2 miliar dalam lima hari perdagangan terakhir. Tren positif yang terjadi di pasar kripto hari ini turut berpotensi memperkuat tren adopsi Bitcoin oleh investor dari kalangan institusi. Keputusan Microsoft untuk menyetujui atau menolak inisiatif untuk mengalokasikan aset di Bitcoin pada 10 Desember ini akan menjadi momentum krusial terkait adopsi Bitcoin oleh investor institusi.
"Jika perusahaan sebesar Microsoft yang dikenal dengan ahlinya di bidang teknologi memutuskan untuk mengalokasikan aset di Bitcoin, maka potensi efek domino yang bisa terjadi bisa sangat signifikan khususnya untuk mendorong semakin meluasnya tren adopsi Bitcoin oleh institusi bisnis,” lanjut Fahmi.
Meningkatnya pengakuan dan adopsi Bitcoin dari perusahaan-perusahaan ternama di berbagai sektor semakin mengukuhkan legitimasi dan nilai Bitcoin sebagai sebuah aset global.
“Hal ini juga dapat membawa perdebatan yang banyak terjadi sejak awal peluncuran Bitcoin terkait nilai intrinsik dan keabsahan regulasinya menjadi tidak lagi relevan. Nilai suatu aset, seperti pada instrumen lainnya, seperti karya seni misalnya, dapat bersifat cukup niche. Namun, ketika sebuah karya seni tersebut mendapatkan pengakuan lebih seperti lukisan Monalisa misalnya, bahkan orang yang tidak memiliki pemahaman tentang lukisan sedikit pun banyak berdatangan untuk melihatnya. Hal yang sama mungkin akan terjadi pada Bitcoin jika tren positif yang ada saat ini dapat semakin berkembang,” ujar Fahmi.
Baca Juga
Di tengah tren positif yang ada, tetap penting bagi investor untuk melakukan riset dan analisis yang baik guna memilih aset dengan potensi pertumbuhan dan tingkat risiko yang sesuai dengan profil investasi dan strategi pengelolaan portofolio masing-masing investor.
“Meskipun rasio risiko atau reward terhadap Bitcoin dan altcoin-altcoin potensial saat ini sedang cukup menguntungkan bagi investor, ketidakpastian terkait skenario ke depan tetap ada, terlebih apabila inflasi AS mengalami kenaikan lebih tinggi dari ekspektasi dan implementasi kebijakan pro kripto pemerintah AS tak kunjung atau bahkan urung terlaksana karena satu dan lain hal,” tambahnya.
Bagi investor yang cenderung mengutamakan fundamental suatu aset, dapat berinvestasi di aset-aset kripto yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar. “Misalnya di fitur Packs di Reku, investor bisa berinvestasi pada berbagai kripto blue chip dalam sekali swipe untuk memudahkan diversifikasi. Sedangkan bagi para trader yang ingin mencari keuntungan lebih optimal, maka strategi trading secara lebih aktif menjadi opsi yang menarik untuk dijalankan. Hal ini khususnya mengingat adanya fenomena rotasi naratif yang cukup sering terjadi di pasar kripto saat ini, yang jika dimanfaatkan dapat memberikan potensi return yang sangat menarik bagi para traders dan investor,” imbuhnya.

