Bitcoin dan Ethereum Pimpin Arus Dana Kripto di Tengah Gejolak Geopolitik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pasar kripto kembali menjadi sorotan setelah laporan terbaru CoinShares mengungkapkan lonjakan dana masuk sebesar US$ 619 juta dalam sepekan terakhir. Lonjakan ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik akibat krisis Iran, yang sempat mendorong investor global mencari perlindungan di aset digital.
Namun, reli harga minyak yang tak terduga di akhir pekan justru membalikkan sentimen pasar dan memicu arus keluar dana secara signifikan. Fenomena ini menandai dinamika baru dalam hubungan antara geopolitik, komoditas, dan aset kripto.
Laporan CoinShares menyoroti perbedaan mencolok antara wilayah Amerika Serikat dan kawasan lain dalam hal arus dana kripto. Melansir dari Pintu, Selasa (10/3/2026), Amerika Serikat mencatatkan inflow terbesar dengan nilai US$ 646 juta, menjadi penopang utama saldo positif mingguan.
Baca Juga
Waspada! 4 Fakta Mengapa Lonjakan Harga Minyak Bisa Tekan Dompet Investor Bitcoin
Sementara itu, Eropa justru mengalami outflow sebesar US$ 23,8 juta, Asia kehilangan US$ 2,2 juta, dan Kanada mencatat arus keluar sebesar US$ 3,6 juta. Perbedaan ini menunjukkan bahwa sentimen investor di Amerika Serikat jauh lebih optimis dibandingkan dengan kawasan lain yang cenderung berhati-hati.
Pada tiga hari pertama perdagangan, arus masuk dana kripto mencapai US$ 1,44 miliar, menandakan tingginya permintaan safe haven di tengah eskalasi konflik Iran. Namun, situasi berubah drastis pada Kamis dan Jumat, ketika US$ 829 juta dana keluar dari pasar.
Data payroll Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan sempat mendukung aset berisiko, namun lonjakan harga minyak menghapus harapan inflasi yang lebih rendah. Akibatnya, minat investor terhadap kripto pun menurun tajam di akhir pekan.
Bitcoin (BTC) tetap menjadi primadona dengan total inflow sebesar US$ 521 juta selama sepekan, menegaskan posisinya sebagai aset digital utama pilihan institusi. Namun, produk short Bitcoin (BTC) juga mencatatkan inflow sebesar US$ 11,4 juta, menandakan adanya perbedaan pandangan di kalangan pelaku pasar institusional.
Ethereum (ETH) menyusul sebagai penerima dana terbesar kedua dengan inflow US$ 88,5 juta, sementara Solana (SOL) memperoleh US$ 14,6 juta. Uniswap (UNI) dan Chainlink (LINK) masing-masing mencatatkan inflow sebesar US$ 1,4 juta, memperlihatkan minat yang mulai tumbuh pada altcoin terpilih.
Di sisi lain, Ripple (XRP) menjadi satu-satunya aset utama yang mengalami outflow signifikan, dengan dana keluar mencapai US$ 30,3 juta dalam sepekan. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi investor dari Ripple (XRP) ke aset digital lain yang dinilai lebih menjanjikan.
Sementara itu, lonjakan dana masuk pada Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) memperkuat posisi keduanya sebagai aset kripto paling diminati di tengah ketidakpastian global. Namun, perbedaan arus dana pada produk short dan long Bitcoin (BTC) menandakan pasar masih terbelah antara optimisme dan kehati-hatian.
Arus dana kripto minggu ini melanjutkan tren positif setelah pekan sebelumnya mencatat inflow sebesar US$ 1 miliar, memutus tren outflow lima minggu berturut-turut yang totalnya mencapai US$ 4 miliar. Pemulihan ini didorong oleh pelemahan harga yang menarik minat beli, penembusan level teknikal penting, serta akumulasi kembali oleh pemegang besar Bitcoin (BTC). Ethereum (ETH) juga mencatat inflow mingguan terkuat sejak pertengahan Januari, meski secara year to date baik Ethereum (ETH) maupun Bitcoin (BTC) masih berada di posisi net outflow.
Solana (SOL) tampil sebagai altcoin dengan performa terbaik sepanjang 2025, dengan total inflow year to date mencapai US$ 156 juta. Pencapaian ini menegaskan posisi Solana (SOL) sebagai pilihan utama investor di luar dua aset kripto terbesar.
Sementara itu, Uniswap (UNI) dan Chainlink (LINK) mulai menarik perhatian, meski nilainya masih jauh di bawah Solana (SOL). Keberlanjutan tren positif ini sangat bergantung pada perkembangan harga minyak dan situasi geopolitik global dalam waktu dekat.

