Status 'Bullion Bank' Dongkrak ‘Fee Based Income’ BSI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Status bank emas (bullion bank) yang disandang PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) sejak Februari 2025 turut mendongkrak pendapatan berbasis biaya (fee based income) bank bersandi saham BRIS tersebut.
Sebelum merger, BSI hanya membukukan fee based income Rp 3,08 triliun. Setelah merger pada 2021, fee based income BSI sempat turun 0,55% menjadi Rp 3,06 triliun. Namun, kemudian melesat 21,23% menjadi Rp 3,71 triliun pada 2022, dan kembali naik 12,07% menjadi Rp 4,16 triliun pada 2023.
“Pada 2024, fee based income BSI melonjak 32,57% menjadi Rp 5,52 triliun. Sedangkan tahun lalu meningkat 25,06% menjadi Rp 6,90 triliun,” ujar Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI), Anggoro Eko Cahyo dalam acara buka puasa bersama pimpinan media massa di Jakarta, Jumat (27/2/2026) malam.
Anggoro mengungkapkan, seluruh indikator fundamental BSI menunjukkan kinerja yang mengesankan, dari pangsa pasar (market share), pertumbuhan aset, dana pihak ketiga (DPK), hingga pembiayaan.
Baca Juga
Pangsa Pasar BSI Naik Jadi 8,02% di Perbankan Syariah, 3,64% di Perbankan Nasional
Menurut Anggoro, pangsa pasar BSI dalam lima tahun terakhir (2020 vs Juni 2025) meningkat dari 6,99% menjadi 8,02% untuk perbankan syariah dan dari 2,86% menjadi 3,64% untuk perbankan nasional secara keseluruhan.
Anggoro menjelaskan, emiten yang baru mengantongi status sebagai bank BUMN (Persero) itu sukses mempertahankan pertumbuhan aset dua digit dalam lima tahun terakhir. Sebelum merger, aset BSI mencapai Rp 240 triliun. “Pada 2021, aset BSI tumbuh 10,73% menjadi Rp 265 triliun, lalu naik lagi 15,35% menjadi 306 triliun pada 2022,” tutur dia.
Pada 2023, kata Anggoro, aset BSI tumbuh 15,69% menjadi Rp 354 triliun, kemudian naik 15,54% menjadi Rp 409 triliun pada 2024. Selanjutnya,pada 2025, aset BSI tumbuh 11,49% menjadi Rp 456 triliun.
Dia menambahkan, tren pertumbuhan aset BSI sebesar dua digit terjadi sejalan dengan meningkatnya DPK perseroan. Sebelum merger, DPK BSI mencapai Rp 210 triliun, lalu tumbuh 11,12% menjadi Rp 233 triliun pada 2021.
“Selanjutnya DPK BSI naik 11,90% menjadi Rp 261 truliun pada 2022, dan kembali meningkat 12,64% menjadi Rp 294 triliun pada 2023. Dalam dua tahun berikutnya, DPK BSI masing-masing tumbuh 11,22% dan 16,21% menjadi Rp 327 triliun dan Rp 380 triliun,” papar dia.
Baca Juga
Aset Kelolaan Tembus Rp 128 Triliun, BSI (BRIS) Perkuat Bisnis Kustodian
Untuk pembiayaan, BSI sebelum merger menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 157 triliun. Pembiayaan BSI naik 9,32% menjadi Rp 171 triliun pada 2021, dan melesat 21,43% menjadi Rp 208 triliun pada 2022. Pada 2023, pembiayaan perseroan meningkat 15,38% menjadi Rp 240 triliun.
“Selanjutnya pembiayaan perseroan tumbuh 15,83% pada 2024 menjadi Rp 278 triliun. Tahun lalu,pembiayaan yang disalurkan BSI tumbuh14,75% menjadi Rp 319 triliun,” ucap Anggoro.
BSI, yang tahun lalu mencetak kenaikan laba bersih sebesar 8% (yoy) menjadi Rp7,57 triliun, merupakan bank syariah hasil merger Bank BRI Syariah, Bank Syariah Mandiri, dan Bank BNI Syariah. Bank tersebut baru saja mengantongi status Persero sehingga kini menyandang status sebagai bank BUMN.
Saham BSI saat ini dimiliki PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebesar 51,47%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar 23,24%, Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 15,38%, dan masyaraat 9,92%.

