Target Harga Saham Vale Indonesia (INCO) Layak Direvisi Naik, Ini Dasar Perhitungannya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba pesat sepanjang 2026, seiring monetisasi bijih nikel (ore) dan kontribusi hilirisasi melalui proyek HPAL. Laba bersih diprediksi melesat menjadi US$ 259 juta tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun lalu US$ 86 juta.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target harga saham INCO dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.000 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Dengan harga penutupan saham INCO level Rp 7.350 kemarin, terbuka penguatan 8,8%.
Baca Juga
Puradelta (DMAS) Patok Target Prajualan Ambisius Rp 2,08 Triliun di 2026
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muclis dan Andhika Audrey mengatakan, Vale (INCO) telah mengantongi persetujuan RKAB 2026 pada 15 Januari 2026 dengan total kuota sekitar 22 juta wet metric ton (wmt). Kuota tersebut terdiri dari sekitar 14 juta wmt untuk kebutuhan internal Sorowako dan sekitar 8 juta wmt untuk monetisasi ore, yaitu 6,4 juta wmt saprolite dan 1,6 juta wmt limonite.
“Perseroan juga berpotensi mendapatkan tambahan kuota pada periode April–Juni 2026 untuk mengakomodasi kebutuhan JV/HPAL pada semester II-2026. Sementara itu, panduan produksi nikel matte tetap berada di kisaran 63–70 ribu ton per tahun (ktpa). Target penjualan ore pada 2026 dipatok 10–12 juta wmt dengan premi harga lebih tinggi,” tulisnya.
Sejalan dengan perolehan RKAB bersamaan dengan revisi naik asumsi harga nikel dunia, BRI Danareksa Sekuritas memilih untuk merevisi naik target laba bersih INCO tahun 2026 sebanyak 4% menjadi US$ 259 juta. Proyeksi ini didukung penjualan ore sekitar 10–12 juta wmt dengan estimasi biaya tunai sekitar US$ 17–25 per ton dan asumsi harga jual rata-rata (ASP) US$ 60 per ton.
Baca Juga
Didukung Monetisasi Ore hingga Kenaikan Harga, Target Harga Saham Vale (INCO) Direvisi Naik
Selain itu, kontribusi awal proyek Pomalaa HPAL mulai diperhitungkan pada kuartal IV-2026, setelah estimasi penyelesaian proyek dimajukan menjadi kuartal III-2026. Dengan asumsi margin MHP sekitar US$ 2.200 per ton (ASP US$ 14.700 per ton dibanding harga transfer sekitar US$ 12.500 per ton) dan tingkat utilisasi awal 10% pada 2026, kontribusi terhadap laba kotor diperkirakan sekitar US$7 juta.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham INCO dengan target harga direvisi naik dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.000. Revisi ini mempertimbangkan raihan laba lebih tinggi dari ekspektasi yang disumbangkan monetisasi ore dan kontribusi Pomalaa HPAL. Target ini juga mempertimbangkan proyeksi price to earnings (P/E) 2027 sebesar 15 kali, masih di bawah rata-rata lima tahun sebesar 24 kali.

