Didukung Monetisasi Ore hingga Kenaikan Harga, Target Harga Saham Vale (INCO) Direvisi Naik
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Vale Indonesia Tbk (INCO) akan memasuki fase monetisasi baru melalui penjualan bijih nikel (ore) mulai 2026, seiring rencana peningkatan produksi hingga 20 juta wmt. Strategi ini dinilai akan menjadi motor baru pendapatan selain produk nickel matte.
Kinerja perseroan juga bakal terdorong tren penguatan harga komoditas nikel dunia dalam beberapa pekan terakhir. Berdasarkan data harga nikel telah melesat lebih dari 20% menjadi US$ 17.700 per ton dalam sebulan terakhir. Adapun kenaikan dalam setahun terakhir telah mencapai 12,99%.
Baca Juga
Kedua faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk merevisi naik target harga saham INCO dari semula Rp 4.700 menjadi Rp 6.800 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Sedangkan dalam sebulan terakhir, harga saham INCO telah melambung lebih dari 58% menjadi Rp 6.300.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Rehyan Muchlis dan Andhika Audrey Eko Nugroho dalam riset yang diterbitkan kemarin menyebutkan bahwa INCO menegaskan bahwa monetisasi ore tetap on-track, dengan target produksi terdiri atas 10 juta wmt limonite dan 5 juta wmt saprolite dari Pomalaa, serta 5 juta wmt saprolite dari Bahodopi. Monetisasi ini diperkirakan dapat berkontribusi hingga 33% terhadap pendapatan perseroan pada 2026.
Selain monetisasi bijih nikel, BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan, kinerja INCO ditopang oleh asumsi harga nikel yang lebih tinggi. Harga nikel tahun 2026-2026 diprediksi berada pada kisaran US$ 17–17,5 ribu per ton, sejalan potensi pemangkasan produksi ore domestik hingga 34% berdasarkan RKAB 2025. “Kebijakan pemangkasan tersebut diperkirakan membuat pasar refined nickel ke posisi defisit sekitar 705 ribu ton,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Vale (INCO) Sukses Kerek Laba Jadi US$ 52,44 Juta, Meski Pendapatan Turun
Asumsi tersebut berpeluang menjadikan harga nickel matte tahun 2026-2027 mencapai US$ 13,7–13,8 ribu per ton dan harga bijih nikel US$ 36–38 per ton. Meski demikian, volume penjualan ore INCO diproyeksikan lebih konservatif di 14,5 juta wmt per tahun pada 2026 dan 2027, lebih rendah dari target manajemen 20 juta wmt.
Sejumlah faktor tersebut, ungkap BRI Danareksa Sekuritas, berpotensi mendongkrak laba bersih INCO masing-masing 105%, 112%, dan 33% secara tahunan sepanjang 2025 hingga 2027, didorong peningkatan kontribusi ore di tengah pendapatan nickel matte yang cenderung datar akibat rencana pemeliharaan furnace.

