Rekomendasi Saham Vale Indonesia (INCO) Direvisi Naik Jadi ‘Buy’ Saat Laba Anjlok, Kok Bisa?
JAKARTA, investortrust.id – Verdhana Sekuritas Indonesia justru menaikkan peringkat saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menjadi beli, meski realisasi kinerja keuangan perusahaam tambang ini anjlok sepanjang 2024. Faktor utama penopangnya adalah potensi peningkatan volume penjualan bijih nikel tahun ini.
Verdhana Sekuritas merevisi naik peringkat saham INCO menjadi beli dengan target harga Rp 4.000. Revisi naik tersebut sejalan dengan perkiraan peningkatan volume penjualan bijih nikel perseroan tahun ini yang diharapkan menjadi katalis terhadap pergerakan harga sahamnya.
Baca Juga
Analis Verdhana Sekurtias Edward Prima dan Michael Wildon Ng mengatakan, INCO pantas menjadi pilihan didukung sumber daya besar dan area konsesi yang luas yang sebagian besar belum dieskplorasi. Hal ini menawarkan potensi peningkatan volume penjualan bijih nikel besar dalam jangka Panjang.
Verdhana Sekuritas memperkirakan rata-rata pertumbuhan tahunan pendapatan bisa mencapai 29% dalam tiga tahun ke depan dan rata-rata pertumbuhan tahunan EBITDA mencapai 36% untuk jangka waktu sama. Pertumbuhan tersebut didukung potensi peningkatan volume penjualan bijih limotin perseroan tahun ini.
“Kami memperkirakan peningkata volume akan tercapai seiring dengan target pengoperasian empat fasilitas HPAL baru akhir tahun 2026. Apalagi keempat HPAL ini menggunakan sumber energi hijau,” tulisnya dalam riset tersebut.
Baca Juga
Tahun 2024, INCO mengumumkan penurunan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tahun 2024 sebanyak 78,94% menjadi US$ 57,76 juta, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 274,33 juta.
Penurunan tersebut sejalan dengan pelemahan pendapatan perseroan dari US$ 1,23 miliar menjadi US$ 950,38 juta. Penurunan pendapatan berimbas terhadap penurunan laba bruto lebih pesat dari US$ 347,02 juta menjadi US$ 108,22 juta. Laba usaha juga anjlok dari US$ 302,15 juta menjadi US$ 63,82 juta. Penurunan tersebut juga dipicu atas peningkatan beban usaha dari US$ 22,15 juta menjadi US$ 38,25 juta.

