Mandiri Sekuritas Optimistis Proposal BEI ke MSCI dan FTSE Russell Berbuah Positif, IHSG ke 9.000 Terbuka
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Direktur Utama Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana optimistis proposal reformasi pasar saham yang diajukan Bursa Efek Indonesia (BEI) ke penyedia indeks global, MSCI Inc dan FTSE Russell, membuahkan hasil. Hal ini diharapkan membuat level indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali ke atas 9.000 terbuka.
"Saya sih tidak berfikir ada the worst scenario, karena saya yakin kita (pasar modal RI) tetap maju, kita tetap naik," kata Oki kepada wartawan di Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Sebelumnya, Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengungkapkan salah satu poin yang kini memasuki tahap akhir adalah pengungkapan (disclosure) pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1% serta penyediaan data investor yang lebih granular.
Baca Juga
Jeffrey Hendrik: Negosiasi MSCI Konstruktif, BEI Percepat Reformasi Pasar
Di sisi lain, BEI menyampaikan bahwa proses penyusunan aturan pencatatan terkait ketentuan minimum free float sebesar 15% telah rampung per 19 Februari 2026. Saat ini, bursa memasuki tahapan internal lanjutan sebelum draf final aturan tersebut diajukan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Terkait penerbitan shareholders concentration list, BEI memastikan proses penyusunannya dilakukan secara akuntabel dan sesuai prosedur. Bursa kini tengah memfinalisasi metodologi serta standar operasional prosedur (SOP) yang akan menjadi dasar penyusunan daftar tersebut.
Menanggapi peluang IHSG kembali menembus level 9.000 di BEI, Oki menilai, penguatan indeks hanya persoalan waktu. Mengacu data BEI, Rabu (25/2/2026), IHSG ditutup menguat 41,4 poin atau 0,50% ke level 8.322 dengan nilai transaksi Rp 22,64 triliun.
Baca Juga
BEI Finalisasi Disclosure 1% dan Aturan Free Float sebagai Update ke MSCI dan FTSE Russell
"It's just a matter of time. Kira-kira ada katalis yang memungkinkan kita (pasar modal RI) nggak naik ke atas nggak?," ujarnya.
Oki menegaskan bahwa kondisi Indonesia masih kuat dan tidak perlu dipandang pesimistis. Menurutnya, fundamental ekonomi, prospek pertumbuhan, serta kondisi makro masih baik. Ia juga menilai mayoritas perusahaan tercatat di bursa memiliki kinerja dan laporan keuangan yang solid, terutama jika melihat neraca keuangan 100 perusahaan terbesar.
"Negara kita tidak jelek, fundamental ekonomi negara kuat, story-nya bagus, makro-nya bagus. Coba lihat listed company yang ada di bursa kita, yang jelek mungkin ada, tapi mostly itu kan bagus semua. Lihat saja balance sheet top 100 company yang listed, bagus semua. Jadi, saya sih yakin dari fundamental-nya bagus, sekarang tinggal gimana kita recover growth-nya, yang tahun lalu itu bagus, tahun ini harus (bagus)," tegas Oki.

