Saham EMAS Melonjak 11,54% ke Rp 7.250, Topang Kenaikan IHSG dan Sektor Material Dasar
JAKARTA, investortrust.id – Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) ditutup melonjak Rp 750 atau 11,54% menjadi Rp 7.250 pada penutupan perdagangan sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (9/2/2026). Penguatan saham EMAS menjadi yang tertinggi di antara emiten produsen emas lainnya dan mendorong kapitalisasi pasar (market cap) melesat menjadi Rp 117 triliun.
Berdasarkan data BEI, kenaikan EMAS melampaui saham emas lain seperti ARCI yang naik 4,98% menjadi Rp 1.685, PSAB menguat 3,48% menjadi Rp 505, BRMS naik 7,41% menjadi Rp 1.015, dan INDY menguat 1,51% menjadi Rp 3.370.
Baca Juga
Otoritas Tegaskan Pasar Fisik Emas Digital RI Aman di Tengah Isu China
Selain menjadi saham emiten emas dengan kenaikan tertinggi, EMAS turut menopang lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 77,56 poin atau 0,98% ke level 8.012 pada sesi I. Penguatan ini juga mendorong saham sektor material dasar melesat 3,83% hingga penutupan sesi I hari ini.
Kenaikan pesat harga EMAS tersebut juga sejalan dengan kenaikan harga emas dunia hari ini. Berdasarkan data Trading economics, harga EMAS menguat 1,23% menjadi US$ 5.029,69 dalam sehari terakhir. Adapun level harga EMAS Rp 7.250 telah mendekati harga tertinggi baru saham EMAS sepanjang masa Rp 7.400.
Terkait prospek saham EMAS, Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Azharys Hardian sebelumnya menilai momentum penguatan harga emas global menjadi katalis positif bagi saham EMAS. Ia menyoroti kemajuan fundamental perusahaan, termasuk penyelesaian tahap first mining serta realisasi penggunaan dana IPO yang telah mencapai 93%.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) Percepat Pengembangan Proyek Emas Pani, Tingkatkan Kapasitas Heap Leach
Meski demikian, Azharys mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mencermati faktor risiko. Proyek Emas Pani yang menjadi andalan EMAS saat ini masih dalam tahap pembangunan fasilitas pengolahan.
“Kita harus mencermati ketepatan waktu pembangunan infrastruktur ini, karena realisasi pendapatan perusahaan sangat bergantung pada keberhasilan transisi menuju fase produksi penuh,” ujar Azharys kepada investortrust.id.
Ia menambahkan, risiko eksekusi seperti potensi keterlambatan jadwal atau pembengkakan biaya operasional (capital expenditure/capex) perlu diperhatikan sebelum proyek mencapai tahap komersial.
Baca Juga
Merdeka Gold (EMAS) Ungkap Progress Pembangunan Tambang Pani Berikut
Namun, target manajemen untuk memulai operasional komersial pada kuartal I-2026 dinilai tetap menjadi katalis pertumbuhan yang menarik. Jika harga emas bertahan di level premium saat produksi dimulai, potensi kinerja keuangan EMAS dinilai semakin solid.
Berdasarkan analisis penilaian aset saat fase komersial tercapai, Azharys memproyeksikan saham EMAS masih memiliki ruang apresiasi dan menetapkan target harga di level Rp 7.275.

