Laba Kalbe (KLBF) Dipercaya Masih Tumbuh, Harga Saham Menuju Rp 1.710
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja keuangan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sepanjang 2025 diyakini tetap berada pada jalur pertumbuhan, meski dihadapkan sejumlah tekanan margin dan dinamika permintaan.
Keyakinan itu mendorong BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mempertahankan rekomendasi beli saham KLBF dengan target harga Rp 1.710. Pada penutupan perdagangan pada Jumat (23/1/2026), harga saham KLBF masih parkir di level Rp 1.220.
Analis BRIDS, Ismail Fakhri Suweleh dan Wilastita Muthia Sofi menilai, laba inti Kalbe pada tahun fiskal 2025 dapat tumbuh lebih kuat dibandingkan para pesaingnya. Laba inti Kalbe diperkirakan tumbuh sekitar 6% secara tahunan (year on year/yoy), jauh di atas rata-rata pesaing yang hanya sekitar 1% (yoy).
Namun dengan potensi tersebut, harga saham KLBF selama tahun berjalan 2026 (year to date/ytd) telah terkoreksi 6,3%. “Hal ini menjadikan KLBF sebagai saham unggulan yang sedang tertekan dengan risiko penurunan yang relatif terbatas,” kata Ismail dalam risetnya, baru-baru ini.
Baca Juga
Kalbe Farma (KLBF) akan Buy Back Saham Rp 250 Miliar, Ungkap Tujuan Ini
Pendapatan dan laba bersih Kalbe pada 2025 diperkirakan mencapai masing-masing Rp 35 triliun dan Rp 3,5 triliun. Proyeksi ini relatif sejalan dengan konsensus pasar.
Untuk kuartal IV-2025, Kalbe diperkirakan mencetak pendapatan sekitar Rp 9 triliun atau tumbuh 2% secara kuartalan (qoq) dan 8% (yoy). Adapun laba bersih perseroan diproyeksikan mencapai Rp 919 miliar, melonjak 40% (qoq) dan tumbuh 7% (yoy).
Prediksi tersebut telah memperhitungkan asumsi kontribusi historis sembilan bulan 2025 sebesar 74% terhadap kinerja tahunan Kalbe. Hingga September 2025, Kalbe mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih masing-masing 7% dan 11% (yoy).
Capaian tersebut sejalan dengan panduan manajemen yang mematok pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di kisaran 6-8% (yoy).
“Dengan demikian, kekhawatiran terhadap lemahnya kinerja segmen nutrisi akibat kenaikan biaya input berbasis dolar AS, serta tekanan margin pada bisnis resep dari permintaan BPJS, dinilai masih terkendali,” papar Ismail Fakhri.
Baca Juga
Perkuat Bisnis Kesehatan Konsumen, Kalbe (KLBF) Luncurkan Suplemen Zat Besi Bentuk ‘Gummy’
Seluruh Segmen Usaha Pulih
Dari sisi kinerja operasional, Kalbe membukukan pendapatan sebesar Rp 8,9 triliun pada kuartal III-2025, naik 8% (qoq) dan 13% (yoy), melampaui perkiraan analis. Emiten yang dinakhodai Bernadette Ruth Irawati Setiady ini mencetak laba bersih Rp 656 miliar, turun 27% (qoq) namun masih tumbuh 15% (yoy).
Secara kumulatif, laba bersih Kalbe sepanjang Januari-September 2025 mencapai Rp 2,6 triliun atau tumbuh 11% (yoy), setara 74% dari target laba bersih tahun penuh 2025.
Berdasarkan analisis BRIDS, pemulihan pendapatan KLBF pada kuartal III-2025 terjadi secara luas di seluruh segmen usaha. Segmen resep, kesehatan konsumen, nutrisi, dan distribusi masing-masing tumbuh 10%, 6%, 9%, dan 7% (qoq). Hal ini berbanding terbalik dari kontraksi pada kuartal II-2025 yang dipengaruhi normalisasi permintaan pasca-Idulfitri.
“Kenaikan pendapatan ini mampu mengimbangi tekanan margin, meski margin laba kotor dan margin operasional masing-masing turun 100 basis poin dan 330 basis poin (qoq),” jelas Ismail Fakhri.
Tekanan margin tersebut berasal dari meningkatnya porsi obat generik tanpa merek di bisnis farmasi BPJS dan persaingan obat bermerek, perubahan bauran produk nutrisi ke nonsusu di tengah kenaikan biaya bahan baku berbasis dolar AS, serta lonjakan biaya operasional penjualan yang naik 21% (qoq).
Baca Juga
'Capex' Kalbe Farma (KLBF) Rp 1 T untuk Ekspansi Gila-gilaan, Salah Satunya Perbanyak Obat Kanker
Meski demikian, analis BRIDS menilai, valuasi saham KLBF masih menarik. Tahun lalu, KLBF diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) sebesar 16,8 kali dan 15,8 kali tahun ini.
Angka tersebut mencerminkan premi dibandingkan rata-rata perusahaan konsumen lokal dan indeks LQ45, namun masih jauh di bawah rata-rata historis 10 dan lima tahunnya yang berada di kisaran 25,7 kali dan 23,6 kali.
“Valuasi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan prospek laba inti Kalbe yang lebih kuat dan karakter bisnis resep yang defensif, ditopang oleh tren demografi penduduk yang menua, serta keunggulan strategi pemasaran perusahaan,” ujar Ismail.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, BRIDS mempertahankan rekomendasi beli pada saham KLBF dengan target harga Rp 1.710.
Adapun risiko utama yang perlu dicermati investor meliputi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dapat menekan pendapatan, potensi biaya operasional yang melebihi anggaran, serta risiko arus keluar dana akibat kemungkinan pengecualian saham KLBF dari indeks MSCI.

