Kalbe Farma (KLBF) Susun Peta Jalan Menuju Net Zero Emission
JAKARTA, investortrust.id – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) tengah menyusun peta jalan menuju emisi nol bersih (net zero emission/NZE). Peta jalan ditujukan untuk menyeimbangkan jumlah jejak karbon dari aktivitas perusahaan dengan jumlah emisi yang diserap alam.
“Kalbe sedang menyusun kembali, mempertajam risiko keberlanjutan terkait perubahan iklim yang dikembangkan dari risiko perusahaan. Kami sedang menyusun environmental roadmap atau peta jalan lingkungan hingga lima tahun ke depan,” papar Head of Corporate Sustainability Kalbe Farma, Abi Nisaka di Jakarta, Rabu (20/11/2024).
Menurut Abi, peta jalan lingkungan Kalbe terdiri atas lima inisiatif utama untuk pelestarian lingkungan dan ekosistem. Inisiatif pertama adalah meminimalisasi jejak karbon lewat penggunaan kendaraan listrik pada rantai distribusi.
Adapun inisiatif kedua yaitu mengoptimalkan penggunaan bahan baku kemasan produk yang semakin ramah lingkungan. ”Ketiga, perseroan mengimplementasikan kegiatan pengolahan berkelanjutan (green manufacturing) sebagai upaya efisiensi dalam rekayasa teknis di pabrik,” ujar Abi.
Baca Juga
Meski Rupiah Fluktuatif, Prospek Keuangan dan Saham Kalbe Farma (KLBF) Tetap Kuat hingga 2025
Insiatif keempat, kata Abi Nisaka, Kalbe memperkuat industri dengan cara mengukur seberapa jauh komitmen keberlanjutan para vendor. Sedangkan inisiatif kelima yaitu optimalisasi bauran energi terbarukan, salah satunya menggunakan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap.
“Jadi, kaitannya cukup panjang, inisiatif tersebut akan menunjang komitmen pemeliharaan lingkungan agar Kalbe dapat terus beroperasi secara berlanjut dan terus memberikan akses layanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat secara kontinu,” tutur dia.
Salah satu aksi Kalbe menuju NZE, menurut Abi, adalah penggunaan PLTS atap di PT Kalbe Morinaga Indonesia, Cikampek, Jawa Barat. PLTS atap yang diresmikan pada 2 Oktober 2024 ini diharapkan dapat dikembangkan pada masa mendatang.
Dia menambahkan, PLTS atap di Kalbe Nutritionals Site, pabrik Cikampek, diawali dengan percobaan pemasangan sekitar 40 kilowatt (KW), lalu ditambah menjadi sekitar 1,6 megawatt (MW). Kemudian ditambah lagi sekitar 1,2 MW.
“Ini adalah bagian kontribusi menuju energi hijau dan bersih karena sebenarnya pemborosan atau emisi itu berkaitan erat dengan energi yang kita gunakan. Energi listrik yang kita gunakan sebenarnya banyak bersumber dari fosil dengan emisi yang buruk untuk lingkungan,” jelas Direktur Kalbe Morinaga Indonesia, Yudha Agus TB.
Faktanya, kata Yudha, sekitar 70% listrik di Indonesia menggunakan bahan dari fosil. Contohnya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), pembangkit listrik tenaga gas (PLTG), dan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD).
“Padahal, energi fosil berdampak negatif yang memicu terjadinya efek rumah kaca. Ini berimbas langsung pada perubahan iklim yang terjadi secara radikal, misalnya musim hujan yang tidak menentu, dan cuaca yang terasa semakin panas (global warming),” tegas dia.
Gratis, Alami, Nol Emisi
Yudha Agus mengemukakan, PLTS merupakan salah satu jawaban untuk mengurangi kondisi itu. Terlebih PLTS adalah sumber energi terbarukan (renewable energy) yang melimpah sekaligus gratis, alami, ramah lingkungan, dan nol emisi.
“Energi baru dan terbarukan yang hijau ini memang penerapannya belum terlalu matang di negara kita. Jadi, perlu tekad kuat sekaligus hati-hati. Dimulai dari analisa kelayakan, desain sistem, pengajuan izin, hingga kepada siapa saja diperlukan edukasi pengguna, pemeliharaan rutin, pengujian, serta pemasangannya,” jelas Yudha.
Dia mengakui, manajemen energi di perusahaan harus berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan lain, mulai dari organisasi, sumber daya manusia (SDM), hingga cara menggunakan energi dengan lebih bijaksana.
Baca Juga
Menurut data Copernicus Climate Change Service (C3S), bumi mencatatkan suhu tertinggi dalam sejarah pada Juli 2024, dengan suhu rata-rata global mencapai 17,6 derajat Celsius.
Angka itu mencerminkan dampak nyata dari peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK), terutama akibat penggunaan bahan bakar fosil dalam berbagai sektor industri dan transportasi. Data C3S menunjukkan adanya tren peningkatan emisi yang berakibat pada kerusakan lingkungan.
Salah satu risiko paling terlihat dari perubahan iklim di tingkat perusahaan Kalbe adalah gangguan operasional bisnis. Contohnya curah hujan lebih sering dengan intensitas tinggi, mengakibatkan lebih banyak bencana banjir.
“Tentu bagi perusahaan yang memiliki jaringan distribusi, warehousing, pergudangan, kantor cabang, pabrik, manufaktur, itu mesti memikirkan apakah akan aman dari salah satu potensi bencana tersebut,” ujar Yudha Agus.

